Kesederhanaan Mak Tatang

sebagai seorang yang sedang menjalani kehidupan sebagai seorang komuter Bandung – Garut, saya seringkali menginap di pondokan kawan saya, Endra di Sekeloa. daerah tersebut merupakan daerah pondokan bagi mahasiswa perguruan tinggi yang tersebar di bilangan Dipati Ukur, mulai dari Unpad, Unikom, ITHB bahkan sampai ada mahasiswa ITB yang mondok di Sekeloa.

dengan banyaknya populasi pemondok yang begitu banyak disini, tentulah kawasan Sekeloa, Dipati Ukur dan sekitarnya memiliki berbagai macam fasilitas pendukung bagi penduduk Sekeloa dan diantaranya adalah fasilitas untuk mengisi perut alias warung makan.

sepengamatan saya di Sekeloa ini mirip display kuliner Indonesia dalam versi sederhana. saya menemukan warung jawa, warung tegal, sate madura, sate padang, warung padang, warung lamongan, bubur manado, warkop kuningan, soto surabaya dan lain sebagainya. pas kan jika saya sebut di kawasan Sekeloa ini miniatur Indonesia versi kuliner?

namun dari semua warung makan di Sekeloa saya punya favorit, nama warungnya adalah Mak Tatang. sajiannya berupa makanan jawa barat, mirip-mirip yang disajikan di Warung Makan Ampera atau Restoran Bumbu Desa, namun ini versi mahasiswanya. Lokasinya? emm, saya agak kesulitan menjelaskannya karena letaknya ada di dalam gang, kalau tidak mau disebut gang maka itu adalah jalan sempit yang hanya bisa dilalui 1 mobil. jika ingin kesana, pokoknya temukan saja dulu daerah Sekeloa, begitu sampai di Sekeloa baru tanya Warung Mang Tatang.

istimewanya warung ini adalah hanya buka dari pagi sampai siang. durasi pendek itu karena biasanya saat siang stok makanan disana sudah habis diserbu pengunjung. waktu terbaik untuk bersantap disana adalah sekitar jam 8 – 10 pagi, lewat dari jam 10 pagi dijamin gigit jari karena sudah kehabisan makanan.

warung makan ini sangat sederhana, bukan sederhana seperti franchise rumah makan padang yang ada di kota besar. tapi sederhana dalam artian sebenarnya. sederhana karena warung makan ini berada di sebuah rumah, hidangan dimasak di dapur rumah tersebut, sementara pembeli dipersilakan makan di ruang tamu, halaman, sampai di ruang keluarga. mau makan di kursi boleh, sambil berdiri juga boleh, atau lesehan juga monggo, bebas.

pemiling warung stand by di dapur untuk mengawasi proses memasak, mengawasi jumlah stok makanan yang tersedia dan mengawasi para pembeli sekaligus pegawainya. pembeli langsung masuk ke dapur untuk memilih makanan yang disukai. menunya banyak, beragam sekaligus enak. ada ikan laut, ikan air tawar, ayam, telur, tahu, tempe, sayur , sop, lalapan dan lain sebagainya, sebagian besar menunya mirip menu di Rumah Makan Ampera.

setelah memilih, maka menu tadi akan digoreng sesuai pesanan. dan tinggal menunggu di tempat makan, beberapa saat kemudian makanan yang dipesan akan datang. penyajian makanannya pun sederhana. nasi ditaruh di tempat nasi dari bambu pun demikian dengan lauknya, disertai lalapan dan minuman yang dipesan. setelah itu, santap! jangan khawatir kurang, karena porsi nasi disini diatas normal. jadi pas untuk para pecinta porsi besar.

jangan ditanya apa menu favorit saya, semua menu makanan di Mak Tatang menjadi favorit saya. namun ada menu yang tidak pernah tidak saya pesan, yaitu telur daging. telur dadar campur daging dengan bumbu garam dan sedikit remah dedaunan yang saya tak tahu apa namanya. selain itu menu yang saya ambil bisa bervariasi, ikan, ayam, tempe, tahu, sesuai mood.

setelah hidangan komplit, tanpa babibu lagi langsung santap. pokoknya hanya 2 kata yang bisa menggambarkan rasa makanan disini “uenak buanget!”. gorengan yang gurih dan garing, sop yang segar, nasi yang kemepul dan sambal yang membakar lidah membuat selera makan melonjak drastis dan produksi keringat meningkat pesat. seusai makan biasanya tubuh jadi gobyos penuh keringat, dan lidah megap-megap paduan antara kode tanda lidah saya kepedesen dan puas karena rasa makanan yang lezat.harganya? murah meriah, biasanya tak sampai 15 ribu dengan menu lezat dan mengenyangkan ini.

kredit lain disini adalah kesederhanaan ibu pemilik warung. ibu pemilik yang sudah sepuh ini menyambut para pembeli dengan senyum dan menyapa ramah, pun demikian dengan para pegawainya. bahkan sepertinya ibu pembeli pun menghafal wajah pembelinya walaupun tak hafal nama. biasanya pembeli laki-laki macam saya akan dipanggil “cep” sambil menyunggingkan senyum. sungguh menyentuh dan membuat kenikmatan sarapan disini meningkat beberapa kali lipat karena dibumbui aroma kesederhanaan dan kekeluargaan dari ibu pemilik warung.

benar rasanya jika ada idiom yang menyatakan bahwa hal-hal yang istimewa biasanya dibungkus dengan kesederhanaan, dan hal ini saya temui setiap saya sarapan di warung makan Mak Tatang Sekeloa, Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s