Kita Mungkin Enggan Menjaga

tulisan ini bukan karena saya bersikap pesimis terhadap bangsa sendiri ataupun memandang negatif bangsa sendiri. saya akui Indonesia memiliki begitu banyak ragam tempat yang indah dengan potensi pariwisata yang luar biasa, siapapun mungkin tak akan menyangkalnya. keindahan itu semakin lengkap dengan karakter ramah yang kita miliki. bahkan turis luar negeri pun selalu mengungkapkan kekagumannya terhadap karakter bangsa kita tersebut dan tak jarang berkata “in indonesia, people smile everywhere

tempat-tempat indah tersebut adalah aset berharga negara ini dan selayaknya bisa menjadi kebanggaan bangsa. pariwisata bisa menjadi primadona, menjadi penggerak kegiatan ekonomi potensial di negara ini. tapi sayang seribu sayang ada kebiasaan buruk yang dilakukan sebagian kecil dari bangsa kita, yaitu enggan menjaga tempat-tempat indah tersebut.ada idiom populer bahwa “kita senang mencipta, tapi malas memelihara”. ah, memang benar adanya, bangsa kita seperti enggan merawat aset-aset wisata. bukannya apriori tapi hampir tempat yang saya kunjungi pasti ada vandalisme, sampah dimana-mana dan perusakan sarana dan prasarana.

entah siapa yang melakukan dan apapun alasannya hal tersebut salah, tapi melakukan pembiaran dengan tidak merawat dan memperbaiki juga sebuah kesalahan. bagaimana bangsa Indonesia bisa berbangga hati memiliki tempat indah tapi tidak ada kemauan untuk menjaga serta merawat? ironis memang. negara-negara lain yang lebih menjaga kebersihan yang menangguk untung dari kemalasan beberapa orang di negara kita yang malas merawat tempat-tempat wisata. wisatawan tentu lebih nyaman jika tempat yang dikunjungi bersih, nyaman dan tertata rapi, mungkin bisa saja mengesampingkan keindahan.

itulah bedanya bangsa kita dan bangsa luar. tidak bermaksud mendiskreditkan atau menyudutkan bangsa sendiri. tapi ini kritik sekaligus ungkapan bahwa ada sebagian kecil kebiasaan bangsa kita yang harus diperbaiki. tidak apa mencontoh bangsa lain, selama hal tersebut membawa kemajuan bagi bangsa sendiri.

berikut saya paparkan perbedaan pengelolaan aset wisata di Indonesia yang pernah saya kunjungi, kedua aset tersebut tersebut sama jenisnya, sama-sama dibangun oleh Belanda, sama-sama ada di Jakarta,  hanya beda pengelola. :

1. Museum Taman Prasasti.

lokasinya ada di bilangan Tanah Abang, dulunya ini kompleks pemakaman umum Belanda sejak abad 18. setelah Belanda angkat kaki pemakaman ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan dikelola menjadi Museum. koleksinya berupa nisan bersejarah yang memuat hikayat keluarga – keluarga kaya Belanda di Batavia kala itu.

sebagai cagar budaya, tempat ini menjadi tanggung jawab pemerintah. sayang perawatannya a la kadarnya. begitu masuk rasanya suram, banyak sampah disana-sini seolah tidak dibersihkan. rumput dibiarkan liar, nisan-nisan bersejarah ditumbuhi lumut padahal disini banyak nisan tokoh-tokoh bersejarah, yang bikin miris bahkan ada vandalisme berupa coretan yang ditemui disana – sini.

keadaan yang lalu membuat miris adalah pengunjung yang seenaknya duduk-duduk di nisan bahkan di nisan yang ada di atas tulisan ini menjadi tempat tidur para tunawisma. entah kenapa pengelola museum membiarkan hal ini terus terjadi? dan menjadi bentuk tidak adanya penghargaan terhadap wisata? padahal jika dikelola dengan baik museum ini akan menjadi tempat wisata yang indah sekaligus tempat edukasi sejarah di Jakarta.

lalu bandingkan dengan tempat kedua.

2. Ereveld Menteng Pulo

lokasinya ada di kawasan Menteng Pulo, tempat ini merupakan makam militer bagi 4300 prajurit Kerajaan Belanda yang dulu diturunkan di Indonesia, baik prajurit dari Belanda ataupun pribumi yang tergabung dalam KNIL.

pengelolaan tempat ini dibawah OGS -Oorlogsgravenstichting (Netherlands War Graves Foundation) sebuah NGO / organisasi nirlaba dari Belanda yang mempekerjakan staff dari Indonesia disini. makam ini dibersihkan setiap hari dan dirawat secara rutin. terdapat penjaga yang setiap hari menjaga kompleks pemakaman, petugas pembersih yang setiap hari membersihkan seluruh kompleks dari ujung ke ujung. nisan kayu tersebut diganti begitu ada yang lapuk, rumput dijaga dengan pemeliharaan rutin, hijau dan tertata. selanjutnya biarlah gambar yang menjelaskan kondisinya.

komitmen dari bangsa Belanda menjaga tempat ini patut diacungi jempol, karena mereka menghargai jasa – jasa mereka yang gugur di medan perang, bukankah “B angsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa Pahlawannya?”. komitmen menjaga aset ini merupakan cerminan sebuah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya dan penghormatan terhadap para pahlawannya.

sekali lagi tidak ada sentimen negatif dari saya kepada bangsa sendiri dan mengagungkan bangsa lain, tidak. yang ingin saya sampaikan adalah mari kita menjaga aset – aset wisata milik kita sendiri karena dengan demikian itulah bentuk penghargaan terhadap sejarah yang kita punya.

langkah konkretnya bisa dimulai dari hal kecil dengan tidak membuang sampah sembarangan atau membuat coretan-coretan juga dengan cara menjaga sikap dan santun dalam berwisata. dari pemerintah sendiri seharusnya serius dengan memberikan perhatian khusus kepada tempat-tempat tersebut. jangan sampai aset-aset itu tidak terurus dan menghilangkan keindahannya dan jangan kita menjadi bangsa yang enggan menjaga. bukankah begitu?

4 thoughts on “Kita Mungkin Enggan Menjaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s