Soto Triwindu Solo

minggu pagi, oktober 2009. saat itu saya sedang berada di Solo untuk sebuah urusan ketika sahabat saya tempat saya menumpang selama di Solo mengajak untuk sarapan, sahabat saya itu namanya Shabu. waktu itu dia masih menempuh studi di Fakultas Komunikasi UNS.

Shabu : sarapan yok dab, meh sarapan opo?

Saya : nyoto wae yuk.

kenapa saya memilih soto? saya besar di keluarga pecinta soto, dari simbah sampai saya semua pecinta soto. bila keluarga besar bepergian pastilah akan berhenti di warung soto jika ingin makan. alasan yang kedua adalah soto pas disantap di saat-saat pagi yang dingin.

oleh Shabu saya dibonceng memutari Solo untuk sarapan Soto. pagi itu suasana Solo masih lengang dan dingin, di beberapa tempat ada kerumunan warga yang sedang berakhir pekan, di sudut lain ada warga yang sedang khusyuk mendengarkan pengajian. tak sampai berapa lama sampailah kami di warung soto. di bagian depan ada plang  :  Soto Triwindu.

lokasinya ada di dekat pasar antik Triwindu, soto ini super legendaris di Solo. kalau misalnya bingung menemukan soto ini, tanya saja ke orang Solo. saya yakin 70 % orang Solo asli tahu tentang Soto ini. Warung sotonya njawani dengan perabot-perabot kuno, mirip warung-warung di jaman dulu.

kuah soto dan dagingnya sendiri ditaruh di pikulan yang diletakkan di sudut warung. bangkunya berupa bangku panjang dengan meja yang sama panjang dengan bangkunya. displaynya sederhana, begitu masuk rasanya waktu membeku dan dibawa ke masa 1960-1970 an, dilengkapi dengan toples-toples besar tempat peyek menambah jadul suasana warung soto ini.

Kami memesan masing-masing satu porsi soto, tapi saya sarankan agar memesan dua porsi jika hendak kesana. karena Soto Triwindu disajikan dalam mangkok kecil seperti Soto Kudus. untuk orang yang biasa makan porsi kuli seperti kami, porsi di Soto Triwindu rasanya kurang.

saya hanya bisa menggambarkan rasa soto disini enak, salah satu soto terenak yang pernah saya makan. paduan rasanya kas dan nikmat disantap. untuk pendampingnya bisa dengan tempe goreng uyah bawang atau boleh mencoba lentho, semacam perkedel singkong dengan taburan kacang tholo. seusai makan soto bisa dilanjut dengan menyeruput teh manis khas dari warung soto ini, rasanya manis pahit, enak.

lain kali kalau saya ke Solo lagi, saya pasti akan dengan senang hati mampir sarapan disini walaupun Shabu sekarang sudah meninggalkan Solo untuk merajut mimpi. Bhu, lain waktu kita sarapan disini lagi ya.

6 thoughts on “Soto Triwindu Solo

  1. Solo memang gudangnya soto enak masbro…🙂
    Salah satu yang tersohor ya soto Triwindu ini. Mungkin lain kali kalo ke Solo bisa coba juga Soto Kirana, Soto Gading atau Soto Seger Mbok Giyem. Rasanya saya jamin nggak kalah enak sama Soto Triwindu, masing-masing ada rasa khasnya sendiri.
    Cuma ya dari segi harga memang agak mahal kalo makan di warung-warung soto terkenal itu.
    Tapi rasa memang tidak pernah bohong…😀

    • wah makasih sudah mampir mas gun.
      nah, yang saya penasaran itu soto gading..nanti saya sempatkan untuk mencoba mas gun.
      oia bener, ono rego ono rupo.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s