Beradabnya (Sebagian) Fotografer Kita

Foto dari Claudia Von Nasution / @odeelix

Sabtu, 5 Mei 2012. 04.30 WIB.

Saya standby di Stasiun Tugu di Yogyakarta, menjemput kawan-kawan ACI yang ikut merayakan Waisyak di Candi Mendut dan Candi Borobudur hingga keesokan harinya. Bersamaan dengan mereka, para fotografer tumpah ruah dari kereta asal Jakarta. Backpack, kamera, kamera dan kamera. Beberapa dikalungkan atau ditenteng keliling stasiun. Dari situ saya tahu, akan banyak sekali pemburu foto Waisyak di Borobudur.

Minggu, 6 Mei 2012. 09.00 WIB.

Saya ke Candi Mendut untuk mengantar Diki, seorang kawan penganut Buddha mengikuti detik-detik perayaan Waisyak. Sudah banyak fotografer yang bertengger, siap membidik, di tiap sudut Candi Mendut. Mereka tampak handal dengan kamera dan lensa canggih.

Siapa sangka, apa yang saya lihat selanjutnya adalah perburuan. Para fotografer itu berburu dengan buas. Buas, dalam konteks ini, adalah mengambil gambar dengan jarak superdekat. Dekat dengan siapa? Tentu saja para Banthe yang sedang berdoa. Misal, dari belakang altar yang menghadap langsung Banthe pemimpin doa. Atau, berjongkok di depan mereka dengan jarak yang amat dekat, mengambil gambar lekat-lekat, di depan muka sang Banthe yang sedang khusyuk berdoa!

Pulang dari Candi Mendut, saya ceritakan hal yang menjanggal di hati itu kepada Gilang. Teman saya yang juga seorang fotografer itu rupanya merasakan hal yang sama. Katanya, beberapa fotografer memang mengambil foto secara serampangan. Mengganggu upacara sembahyang yang harusnya berlangsung khidmat.

Minggu, 6 Maret 2012. 16.00 – 23.30 WIB.

Candi Borobudur sudah dijejali turis dan fotografer. Semakin malam, perburuan semakin sengit. Suara jepretan kini dibarengi dengan sinar flash yang menyilaukan. Saya sendiri berada di posisi para Banthe itu, di altar sebelah kanan, persis di depan paduan suara Walubi. Para Banthe lain sedang melantunkan kidung doa di depan altar Buddha. Sementara para fotografer memotret dari samping kiri dan kanan, tak sampai satu meter jauhnya. Beberapa Banthe sampai mengerjapkan mata terkena sinar flash yang menyilaukan.

Saya mengikuti Pradhakshina, ketika para umat Buddha mengeliling candi sebanyak tiga kali. Ketika prosesi itu pun, para fotografer mengikuti. Hujan flash kembali mengguyur, bertubi-tubi. Banyak mata mengerjap. Banyak mata pula, punya fotografer, yang membara.

Saya sempat menegur salah satu fotografer dengan flash menyilaukan dari kameranya. Kepada saya ia bersungut. Di saat bersamaan ia juga melantunkan sumpah serapah.

Sebenarnya malam itu, cahaya dari altar sangat terang. Pencahayaan di Borobudur pun sangat memungkinkan bagi para fotografer untuk tidak menggunakan sinar flashnya. Sebutlah saya amatir, tapi itulah yang saya lihat: beberapa fotografer memang tidak peka.

Ah, sebagai umat Muslim, saya jadi membayangkan bagaimana rasanya dihujani flash seperti itu ketika sedang shalat. Saya sendiri pun, walaupun bukan fotografer, juga ikut memotret pakai kamera pocket. Saya juga merasakan sulitnya mencari momen.Tapi saya tak tahan melihat tingkah mereka yang mengambil gambar tanpa perasaan. Saya menyebut mereka, pathetic. Tidak manusiawi.

Waisyak. Betapa seluruh dunia tahu kalau Buddha adalah agama yang dekat dengan alam. Keseimbangan lahir-batin tercermin dalam kesakralannya beribadah. Waisyak adalah perayaan tertinggi mereka, bagian dari agama mereka, yang apik bila dijadikan objek tulisan apalagi terekam kamera. Tapi, Waisyak kali ini berbeda. Tak hentinya saya mengelus dada. Saya tak tega umat Budha dieksploitasi sebegitu rupa seenaknya. Bagaimanapun Waisyak adalah upacara keagaamaan yang sakral, bukan ladang perburuan photo tanpa aturan.

tulisan ini muncul karena kerisauan dan hasil diskusi saya dan @saastrii akibat perilaku (sebagian) fotografer pada saat perayaan Waisyak, ditulis oleh saya, kemudian direvisi oleh @saastrii ..

82 thoughts on “Beradabnya (Sebagian) Fotografer Kita

  1. Ini terjadi setiap tahun apa baru tahun ini aja Chan? Kok baca ini jadi ikutan sebel ya..

    Bisa buat evaluasi bagi pihak panitia nih. Bikin aturan utk fotografer.

    • tahun ini ramai banget mas..tidak seramai tahun-tahun sebelumnya..
      ini gara2 film Arisan 2 yang nayangin pelepasan lampion itu tuh..

      betul, panitia harus ketat mengatur fotografer..diberi perimeter tertentu.

      • Kata teman saya, tahun lalu untuk masuk ke acara dibutuhkan kartu khusus seperti kartu peserta atau kartu fotografer yang sudah disiapkan panitia terlebih dahulu. Jumlahnya dulu terbatas. Jika ada orang yang akan masuk tanpa kartu itu tidak diperbolehkan.
        Tapi tahun ini, saya yang datang sendiri menemukan banyak orang yang masuk ke dalam acara Waisak tanpa kartu – kartu khusus itu.
        Mungkin itu juga menjadi alasan mengapa acara kemarin lebih ramai…

  2. setuju.. banyak fotografer amatir yang gak paham tata cara mengabadikan gambar tanpa mengganggu objek. Saya juga melihat banyak yg mendekati barisan lilin yg membentuk kata waisak pdhl pradaksina masih berlangsung. Lebih khusus para spartan ini mengganggu kerja jurnalis yang memang harus melaporkan secara resmi

    • nah iya..betul sekali.🙂
      sepertinya ada beberapa tipe fotografer : jurnalis, orang forum, fanboy dan ikut-ikutan.
      nah mereka yang serampangan bisa dilihat dari tipe yang mana.

    • sepertinya saya nggak setuju dengan pendapat ente.malahan kebanyakan yg ngelakuin hal itu malah para jurnalis n fotografer pro…yg anda sebut amatir malahan mereka lebih sopan karena mereka merasa masih pemula.

  3. Temenku yang dulu mantan reporter ngomong kalo emang fotografer kebanyakan gini, apalagi yang kerja di media. kalo lagi ada acara2 penting, mereka gak segen2 teriakin yang ngalangin di depan, bahkan temenku bilang sampe ada yang ditimpuk sama fotografer karena ngalangin. Secara ya.. kalo dapet foto yang oyeh banget, bisa dibayar cukup tinggi chan.. But still, it’s not an excuse.

  4. saya sebenernya cukup kaget juga dengan hujan flash yang bertubi2 seperti kemaren. krn saya tergolong hampir tidak pernah pake flash. bahkan utk low light sekalipun. tp entahlah utuk event yang dibuka bagi publik hal tsb tak dpt dielakkan lagi.
    yang cukup kaget adalah ketika saya mendapati ada biksu yang memberi isyarat kpd petugas keamanan yang mengawal/mengawasi jalannya pradhaksina agar bergeser supaya tidak menghalangi deretan fotografer di samping2 jalur lintasan.
    berati bbrp dr mereka memang sudah menyadari resiko dari publikasi acara tersebut untuk umum.
    tetapi saya tetep juga bukan orang yang bisa memaklumi penggunaan flash yang diluar kewajaran.

    • betul..
      memang demikian, saya juga menyaksikan ketika ada banthe yang meminta menggeser bendera agar tidak mengganggu para fotografer.
      tapi saya juga melihat ada yang terganggu dengan para fotografer yang mengganggu tsb.
      saya rasa harus ada pengaturan lebih ketat, karena tidak elok jika upacara sakral justru terganggu hal yang demikian.

    • “yang cukup kaget adalah ketika saya mendapati ada biksu yang memberi isyarat kpd petugas keamanan yang mengawal/mengawasi jalannya pradhaksina agar bergeser supaya tidak menghalangi deretan fotografer di samping2 jalur lintasan.” Saya juga kaget denger ini,..hahah!

  5. Hmmmm..selain di ajarkan cara memperoleh gambar yang bagus, emang photografer-photografer itu gak diajarin etika ya? ckckckckck…

    Semoga gak semua Photografer seperti itu … -_-” saya suka photografer (baru suka) tapi kayaknya ngelihat (membaca) kejadian di atas jadi hmmmmm…iya lah ngelus dada..

    Coba aja kalo kita lagi solat idul fitri, trus “jeprat!Jepre!” di hujanin flash..Pasti udah saya masukin kedalem sarung & saya sumpel ke dalem bedug -_-“

    • memang ga semua kog..hanya sebagian, makanya saya tulis sebagian.🙂
      ya semoga kedepannya ada perbaikan supaya tidak mengurangi kesakralan ibadah.

      • Mungkin itu pemburu berita infotainment yang merangkap sebagai pemburu foto acara beginian kali ya .. Hahhaha.. kan kalo infotainment begitu.. “jeprat!Jepret” #FlashisEverywhere

  6. Dari gambarnya aja udah jelas bakal sulit khidmat kalo kena flash dengan jarak sedekat itu –a

    Tapi masih ga ada yang ngambil gambar dari udara kan kang? Maksudnya pake helikopter gitu, karena suaranya bakal jelas nambah bikin ga khidmat –a

  7. Setuju mas, saya sempet bilang ke teman saya mngenai hal itu, dengan membuat perbandingan persis seperti yg mas buat, gimana kalau itu posisinya saya yang sedang shalat ied lalu dihujani flash kamera, yg paling sedih lagi wktu mreka melakukan penghormatan trakhir, posisi sujud, dimana di depannya para fotografer bdiri dgn cueknya.. Miris, sedih, campur aduk..😥 semoga tahun depan prosesi waisya dibuat aturan yg lebih beretika buat para pngunjungnya.. Eh salam kenal ya.. Tnyata bkn saya aja yg galau gara2 hal itu :p

    • salam kenal dan terima kasih sudah berkunjung.
      iya banyak sekali yang tanpa sopan santun, tanpa tedeng aling-aling, tanpa permisi, tanpa memperlihatkan kesopanan.
      semoga tahun depan ada perubahan.

  8. atas nama sebuah karya, mereka sampai hati mengganggu umat Budha yang sedang berhubungan spiritual dengan Tuhannya .. jadi sespektakuler apapun gambar yang mereka hasilkan, terpaksa tidak layak diapresiasi, karena diambil dari tangan2 manusia yang kurang peka hati ..

    *fesbuk saya, kemaren*

  9. Menarik sekali tulisannya mas…
    Saya rasa flash kamera jika digunakan secara wajar dan bijak tidak akan masalah.
    Dengan konsep acara yang terbuka dan tidak ada larangan seperti kmarin itu, flash jelas tidak terelakkan lagi. Mengetahui konsep acara seperti itu, pasti teman – teman umat Budha juga akan memakluminya.
    Akan menjadi tidak etis jika dilakukan pada waktu yang tidak tepat (saat sangat khusuk ibadah) dan penggunaan yang sembrono seperti orang yang ada di foto tulisan ini.
    Jika memang cahaya flash sedikit saja memang mengganggu, harus dijadikan evaluasi bagi panitia untuk memberikan aturan pada acara Waisak di tahun berikutnya…

  10. wah…bener-bener tidak sopan…coba kalau semisal acara keagamaan lain digituin juga ya? Duh..fotografer2 itu emang ga ada etika babar blas. Jadi gambar2 para biku yang diabadiin di majalah keren ada nilai negatifnya… Huft *ngelusdada.
    Semoga artikel ini bisa bikin melek para pemburu buas🙂

  11. perilaku teman-teman pengunjung dan fotografer menjadi fokus utama saya saat pulang dan langsung saya tulis disini🙂
    http://journalkinchan.blogspot.com/2012/05/ketika-waisak-penuh-sesak.html
    sesungguhnya tidak hanya para fotografer saja yang perlu ‘diberitahu’ masalah etika, pun para pengunjung. sedih banget liat di sekitar candi banyak yg ngerokok dan buang sampah sembarangan, krn bagaimanapun kita adalah tamu.bagaimanapun bikkhu dan umat Budha sudah mempersilakan kita utk ikut menyaksikan dan mengabadikannya, maka kita para pengunjung wajib menghormati. ini salah satu bentuk toleransi umat beragama kan🙂

    sekarang semua orang bisa punya kamera. dulu kan cuma wartawan dan pehobi saja, ya ga aneh kalo kemudian muncullah fotografer2 yang tidak tahu banyak tentang etika memotret🙂
    mungkin dulu saya juga ada di posisi itu, nah sekarang tugas kita yang sudah paham, untuk menyadarkan teman-teman yang ‘belum sadar’.

    nice writing, salam.

    • betul kin..
      kita berada disana, merasakan hal yang sama..
      tentang pengunjung itu memang PR besar bagi Borobudur. itulah kenapa Unesco sempat memblacklist pengelolaan Borobudur.

      terima kasih sudah mampir kin..semoga banyak yang tersadarkan.

  12. Hemmmm aku juga disana mas, dan melihat sendiri apa yang terjadi. Kelakuan para “fotografer” itu memang sangat disayangkan. Tapi kenapa ya panitia membiarkan acara waisak jadi open seperti itu? Saya melihatnya seperti festival bukan perayaan hari besar agama…Ada kemungkinan tahun depan bakal gaboleh masuk selain wartawan resmi, mungkin🙂

  13. Dulu aku pernah moto Waisak tahun 2008 sama anak-anak kampus. Agak ketat juga buat tukang foto-tukang foto amatir kayak kami. Bahkan pas mau masuk Mendut pas acara pagi sedikit kucing-kucingan sama panitia. Waktu itu jaraknya gak bisa sedeket yang ku liat di fotomu Jon. Ada panitia yang ngasih jarak antara umat sama tukang foto amatir (bukan jurnalis ya). Apalagi pas di Borobudur, boro-boro bisa sedeket itu sama banthe….Nice post Jon

    • sama-sama..maturnuwun sudah mampir..

      wah kalau begitu berarti yang jaman dulu lebih ketat..2008 aku ga ikut Waisyak, masih kuliyah di Jakarta.
      tapi tahun-tahun sesudah 2008 pun fotografernya tak sebegitu ganas seperti kemarin.

      yang sekarang ini kayaknya memang keterlaluan.

  14. imho, etika motret itu bisa jadi g diajarin (kecuali mungkin klo sekolah motret) namun etika keseharian ataupun norma-norma umum yang berlaku di masyarakat seharusnya bisa dipahami krn sikap toleransi antar umat beragama itu sudah ajari semenjak SD. Terlebih Waisak merupakan acara keagamaan yg butuh suasana khusyu’, bukan festival arak-arakan/demo yg silakan saja klo mo motret tepat di depan hidung.

    *ikutan gemes*

    semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua

    • betul mas..
      menyedihkan adalah saat kecanggihan dunia fotografi tidak menjadikan etika pun menjadi canggih.

      semoga ada pembelajaran mas.semoga.

  15. Agreeddddd! Not only on the religious event (which prob need to be MORE respectful) but in entertainment events such as gigs or festivals not few of the photographers acted like they owned the show! Ngeselin bgt ngeliat fotografer yg foto ampe kedepan bgt (yg agak2 mau manjat panggung) bukannya gmn but as a viewer apa penonton kesel jg lah ya kl pandangan idola ketutup fotografer2 tsb! Gmn lg Si artist ke disturb ga sih lg nyanyi fotografer motret ga etis gtu. As media photographer I couldn’t agree more that somehow we photographer need to reflect again about the etiquette of getting photos in an event.

    • thanks udah mampir mas.🙂
      betul sekali, saya pernah moto konser yang mana sudah dihimbau agar jangan pake flash..tapi nyatanya sama saja.
      harus ada kursus kepribadian untuk fotografer sepertinya.

  16. Ini namanya para fotografer yang haus akan eksotisme. eksotisme yang tidak bisa lagi membedakan mana eksotisme mana sakralitas. sampai-sampai tidak bisa menguasai kamera mereka. asal jepret. sh*t!
    saya sendiri terganggu dengan hujan flash mereka.

  17. Pingback: Waisyak 2012: Demi sebuah alasan rites de passage | Incitante

  18. sebelum group kami pergi, saya sudah wanti2 mengenai cara berpakaian.. jangan pakai celana pendek, jangan pakai tank top, jangan yg ngumbar dada.. saya katakan, tempatkan kita diposisi mereka. apa kita rela kalau kita sedang beribadah ada yg datang dengan cara ini dan itu, bila tidak, jangan lakukan. Sampai di Borobudur saya kaget dengan banyaknya flash. Saya lebih rela foto ancur daripada pakai flash dan mengganggu yg beribadah. Disisi lain, mungkin panitya juga harus mengingatkan bahwa pengambilan foto dengan flash dilarang.

  19. Harusnya ada larangan buat pake flash yo Chundz… dan sesama fotografer juga baiknya saling mengingatkan.. Pfiuh, sedih sekali baca tulisan ini… banyak fotografer yang belum paham etika ternyata,,padahal selama ini aku selalu menganggap (semua) fotografer itu keren😦 *hehe

    Such an inspiring note Chund…Btw, itu kok ada tertulis tanggal 6 Maret 2012?? Maret?😮

  20. Hallo,
    posting sangat memberikan inspirasi bagi kita semua, jika berkenan ijin saya re-blogged di blog saya. supaya memberikan edukasi positif bagi pecinta fotografi Indonesia.

    regards,
    Fotopreneur | Membedah Peluang Usaha Fotografi
    fotopreneur.wordpress.com

  21. Reblogged this on fotopreneur and commented:
    Setelah era digital, dan hoby fotografi menjadi murah, banyak orang metenteng kamera dan menjadi sangat haus akan foto, dalam konteks ini saya sebut hal ini Arogansi Fotografer. Dalam posting di kali ini Fotopreneur me-reblog dari blog seorang sahabat yang bercerita pengalaman pada saat perayaan waisyak di Candi Borobudur. Sangat disayangkan periswiwa keagamaan yang sakral terganggu kekusyukannya. Celakanya, para pemotret ini sudah tidak lagi menghargai prosesi keagamaan ini, seolah-olah para jemaat yang sedang berdoa ini menjadi obyek wisata yang dengan seenaknya bisa difoto secara frontal. baca selengkapnya, dan terapkan etika positif dalam Fotografi Indonesia

  22. Pingback: Fotografer.. Oh Fotografer.. | The Science of Life

  23. kebetulan saya juga pernah moto Waisak di Borobudur tahun 2008,mungkin bareng juga sama mas jaki. Saya pribadi sedapat mungkin mengambil jarak dengan umat yang melakukan peribadatan. Buat saya ketika mereka sudah mulai ritual ibadah mereka berarti waktunya saya mundur. Justru banyak cerita yang saya dapat ada di sekitar acara,semisal tentang booth edukasi wisata candi dan Waisak oleh teman2 mahasiswa Budha dekat candi Mendut atau cerita tentang rombongan peziarah yg diberangkatkan gratis oleh pengusaha makanan terkenal Jawa Tengah. Memang ini berisiko saya tidak dapat foto seperti fotografer yg masuk ke dalam tempat upacara. Salam

  24. Mas mau nanya untuk masuk ke acara waisaknya mesti pake undangan ato nggak sih ?? soalnya aku baca di beberapa blog dll ada yg bilang gak perlu pake undangan ….tp ada juga yg bilang harus bawa undangan biar bisa masuk ke area….kalaupun harus pake undangan , bisa ambil pagi pas acara waisak gakk…
    ini yg masih jadi ganjelan…………..thank you infonya

  25. weiissss siiipppp niihhh tambah semangat mo brangkat …..hunting losmen yg paling deket biar jalan kaki ke borobudur gak ikutt2 an kena macet ….doakan kami yaaah…#halaaahhh😀

  26. saya sudah dua kali kesana, setiap tahun pasti selalu sama, cuma tahun 2012 itu parah sekali, dibanding taun 2010 yang masih ada clear area-nya tahun 2012 itu para fotografer itu lebih beringas…..

  27. Peristiwa seperti ini memang sering saya alamin akhir2 ini, kebetulan saya sering motret wedding yang kayanya saya perhatikan. ada kemiripan cerita semua mau showOff mengabadikan moment. tapi rasanya cerita ini lebih ekstrim dari yang saya rasakan… ibarat solat mungkin para umat budha ga khusus di acara ini… ah.. semoga aja artikel mas di baca banyak orang yang merasa menjadi “fotografer” handal..

  28. turut ngelus dada kang,, tak sepantasnya mereka berbuat seperti itu,, sebagai fotografer seharusnya bisa peka terhadap acara sakral seperti itu,, saling menghormati antar pemeluk agama,,
    saya sependapat dengan sampeyan kang..

  29. Pingback: Waisak Dan Persoalan Yang Tak Kunjung Usai | efenerr

  30. Pingback: Refleksi Waisak 2013 - Wego Travel Editor's Desk

  31. Saat estetika foto bertemu dengan etika, disitulah akan menemukan fotografer yang tahu menempatkan diri (estetika yang tidak berbenturan dengan etika) atau fotografer yang mementingkan estetika walau menabrak etika… atau parahnya yang estetika gak dapet etika juga gak jalan… semoga para fotografer tahu estetika dan etika…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s