Debur Memutih

Saya melanjutkan perjalanan ke Sendang Gile dan Tiu Kelep, sepasang air terjun di kaki Rinjani. Sebelumnya air terjun ini tidak ada dalam list destinasi saya di Lombok, tapi oleh kawan saya Badrun, saya ditunjuki foto air terjun ini dan saat itu juga saya langsung memutuskan saya harus kesana.

saya menyelipkan destinasi “harus kesana” ini setelah dari Gilli. dan setelah pagi buta bermotor melewati pesisir utara Lombok yang membuat pantat sampai tepos, akhirnya saya bisa menemukan Tiu Kelep di Senaru. Penuh perjuangan juga karena saya sempat kagok karena kehilangan arah, karena banyak sekali petunjuk menyesatkan tentang jalan ke air terjun. diantaranya adalah papan nama ke air terjun yang rupanya air terjun Sendang Gile palsu.

Jalan menanjak menjadi tantangan terakhir sebelum sampai ke pintu masuk air terjun, motor matic yang saya tumpangi menggerung kepayahan. mungkin karena beban saya yang terlalu berat. haha.

di pintu masuk saya diwajibkan membayar retribusi, selain itu jika ingin ke Tiu Kelep saya harus menyewa pemandu. aduh tarifnya mahal apalagi saya saat itu sendirian dan uang saya tak cukup. Saya pun nekat ingin tetap ke Tiu Kelep tanpa pemandu, tapi pengelola air terjun bersikeras melarang karena jalurnya berbahaya. Akhirnya setelah nego yang lama, pemandu tersebut mau dibayar seikhlasnya, secukupnya uang saya. alhamdulillah.

Sendang Gile

Air terjun pertama adalah Sendang Gile, tidak terlalu jauh dari loket. air terjun ini seolah muncul dari sulur-sulur tumbuhan di tebing. Pengunjung pun bisa main-main di dasar air terjun dengan leluasa. Sejuk sekali rasanya.

Lalu pemandu mengajak saya ke air terjun ke dua, Tiu Kelep. letaknya lumayan jauh dan harus ditempuh dengan trekking sekitar 40 menit. Lokasinya memang tersembunyi di dalam hutan, konon dulu saat penduduk lokal menemukan air terjun ini, di sekitarnya masih banyak sekali binatang buas.

Saya harus naik ke tangga berlumut yang rupanya di atasnya ada terowongan irigasi yang dibuat di era Belanda kemudian diperbaiki pada masa Orde Baru. Lumayan membuat ketar-ketir karena licin dan berlumut, jadi harus hati-hati saat berjalan atau bisa jadi terperosok.

Tangga saluran irigasi

Papan nama saluran irigasi

Saluran irigasi

Saya pikir penderitaan saya akan segera berakhir setelah melewati saluran irigasi. Rupanya saya masih harus menembus area hutan yang rapat untuk menuju Tiu Kelep. saya sempat bertemu bangunan pintu air kecil, mungkin itu untuk mengatur arus air yang melalui saluran irigasi tadi, menaiki tangga kecil di bendungan tersebut dan melanjutkan perjalanan.

Sampai akhirnya saya menemui sungai yang harus saya seberangi. Duh saya mati akal, sudah pakai jeans, berat. tidak pake baju ganti pula. Selangkah demi selangkah saya maju sampai akhirnya “gusraaaakkk” ..saya terpeleset di sungai, untungnya saya sempat mengamankan hape dan kamera, kalau tidak bisa cilaka.

Pintu Air

Sungai yang saya seberangi

Tapi perjuangan menuju air terjun ini terbayar lunas. Tiu Kelep menjulang tinggi di depan saya, luar biasa megah. Mungkin sampai saat ini, air terjun ini adalah air terjun terindah yang pernah saya jumpai. Sensasinya luar biasa, effort untuk mencapainya juga luar biasa.

Saya tersenyum bahagia, melihat debur putih di depan mata saya.

Tiu Kelep.

Foto Narsis!

6 thoughts on “Debur Memutih

  1. kmrin pas ke tiu kelep g make pemandu, lho
    sempet dilarang sih, namun kita ber7 nekat saja
    modal ngikutin bule akhirnya sampe jg ke tiu kelep dengan bonus kesasar krn dengan begonya ngikutin alur sungai (baca: melawan arus), eh ternyata ada jalan di samping sungai, hahhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s