Kemana Harus Melangkah Saat Kita Terpuruk

alone.

Oktober 2009 adalah bulan yang amat suram bagi saya, sampai-sampai saya ingin menghilangkan masa dari September 2008 sampai Oktober 2009 dalam hidup. Masa itu masa dimana hidup saya tersia-sia begitu saja, masa dimana saya pernah merasa sangat terhina. Dan yang pasti, Oktober 2009 adalah dimana saya mengalami hal yang oleh anak muda sekarang diberi nama Galau.

Tentu saja tidak akan menyerah begitu saja. Seorang lelaki ditakdirkan Tuhan memiliki mental baja dan pantang menjadi cengeng. Pun begitu dengan saya, saya tidak akan kalah hanya oleh hal kecil ini, Saya harus menjadi seseorang yang lebih baik dan terus melangkah maju.

Saya tak perlu berlama-lama dalam keterpurukan, yang perlu saya lakukan hanya berkemas dan pergi jauh untuk sesaat. Masa setahun itu saya sudah melupakan apa arti itu perjalanan karena terpaku pada sosok wanita yang manis namun berbisa. Akhirnya saya memang ditakdirkan untuk kembali mengembara, kembali melakukan perjalanan.

Solo

Saya punya alasan sentimentil pergi ke Solo. Disana ada banyak sahabat saya, namun ada satu sahabat yang benar-benar mengerti saya. Bukan alasan kotanya memang, saya memang terlalu seubjektif. Bukan menikmati kota, namun ingin sekedar bertamu saja, ngobrol lalu pulang.

Tapi ternyata saya tak sekadar bertemu sahabat saya. saya ternyata menikmati Solo dengan kesederhanaannya. hiruk pikuk perasaan di hati teredam dengan ketenangan dan kesahajaan Solo.

Saya jatuh cinta pada kota ini, disini saya merasa tenang. Tidak diburu apapun, sepi dan menentramkan. Hati saya yang berkecamuk menjadi tenang kembali. Mendamaikan. Akhirnya saya menghabiskan waktu beberapa hari di Solo, saya mengunjungi Tawangmangu lalu makan sate landak.

Malamnya saya jalan-jalan ke Galabo, lalu dengan sedikit tidak waras saya ke Pasar Klewer malam-malam. Walaupun saya tahu tak ada gunanya malam-malam kesana, tapi saya benar-benar ingin kesana. Entah apa yang saya cari, padahal di pasar sudah sangat sepi.

Saya benar-benar menikmati momen di Solo. seolah reinkarnasi, saya  kembali menjadi diri saya dan kembali menjalani hari sebagai seorang Farchan. tidak lebih dan tidak kurang. Bukan menjadi orang lain sesuai tuntutan.

Bali

Tepat di di Januari 2010, saya angkat ransel lagi. Sebagaimana layaknya kebiasaan awal tahun yang membuat resolusi, saya pun begitu. Resolusi saya adalah menghilangkan masa lalu dan menatap masa depan.

Saya memang ingin benar-benar membuang semua kenangan buruk itu. Makanya saya pergi ke tempat yang benar-benar membuat saya bisa berkontemplasi mencari ketenangan batin, sebuah tempat dengan tingkat religiusitas dan norma adat yang masih dijunjung tinggi, karenanya saya pergi ke Bali.

Sendirian saya selama seminggu mengelilingi Bali. tanpa teman, tanpa peta, saya hanya ingin tersesat. Menikmati Bali dalam ketidaktahuan, menikmati momen-momen tersesat supaya bisa menikmati Bali dengan lebih intim.

Saya menghindari tempat-tempat ramai dan populer. saya menuju tempat-tempat di Bali yang jarang dikunjungi orang. Saya bahkan ikut masuk ke Pura saat penduduk Bali melakukan sembahyang. Rasanya magis dan tenang sekali.

Saya seperti seorang yang hilang, sendiri. Tapi toh manusia lahir sendiri dan berangkat ke kehidupan selanjutnya juga sendiri. Tidak ada yang salah dengan kesendirian, karena dalam kesendirian kita bisa melihat harapan. Dalam kesendirian itu pula saya melihat ukuran diri, seberapa kuat diri saya, menakar diri itu perlu supaya tidak menjadi manusia yang sombong dan tersesat dalam sindroma egoistis.

Mungkin jika disamakan dalam film, pengalaman saya akan sama seperti film Eat , Love and Pray. Mengelilingi Bali memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa banyak, belajar menghargai kehidupan dan belajar melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang. Hal yang selama ini hilang dari saya, karena mata dan pikiran saya terkungkung oleh satu hal saja.

Lalu apa yang saya dapat dari Bali? pacar? tidak. Gebetan? tidak juga. Saya hanya mendapatkan perspektif baru dalam menjalani hidup. Saya mendapatkan banyak nasihat dari perjalanan, pengalaman yang mendewasakan dan saya bertemu dengan kawan-kawan lama yang menyadarkan bahwa hidup saya belum berakhir, masih ada masa depan yang harus diraih dan perlu diingat, tidak ada yang namanya kesendirian, yang ada hanyalah keterkungkungan untuk berhubungan. Pada akhirnya saya benar-benar seperti terlahir kembali untuk menikmati hidup yang baru dengan optimisme tinggi.

Tulisan ini persembahan untuk Hifatlobrain, gagasan tempat terbaik untuk move on diinisiasi oleh Nuran Wibisono, Arman Dhani, Maharsi Wahyu dan Ardi Wilda. maaf jika jadinya malah curhat. selamat move on!

25 thoughts on “Kemana Harus Melangkah Saat Kita Terpuruk

  1. Kayaknya butuh nyoba seperti itu..Just go out there to know ourself deeper and find an INNER PEACE *ngomong kaya di film Kung-Fu Panda*

  2. Halo Mas’ cerita anda sangat menggugah keinginan saya utk berkelana lagi. namun saat ini saya sedang bimbang, apakah saya harus turuti isi hati saya untuk berjalan” lagi atau tetap diposisi sekarang dgn kondisi yg tak nyaman sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s