Nostalgia Sore Di Braga

Braga di era kolonial adalah pusat ekonomi Bandung, Belanda membangun Braga untuk menjadi pusat bisnis sekaligus pusat mode dimana terdapat banyak butik-butik yang menjual adibusana di zamannya. Pun dimasa kini, jejak – jejak kejayaan Braga masih tampak dengan bangunan kuno yang masih berdiri kokoh, ditambah dengan jalan yang dibuat dari batu persegi yang menambah kekuatan unsur masa lalu.

Bagi saya Braga tak hanya itu, Braga adalah ruas jalan menarik dengan nuansa yang mendamaikan. Braga adalah gabungan antara seni yang tersaji dari penjual lukisan yang menghamparkan lukisan di trotoas, kejayaan masa lalu yang divisualkan dari gedung-gedung tua yang megah dan kedamaian yang tergambar dari tenangnya suasana Braga yang jauh dari kebisingan.

Tentunya Braga akan tetap menarik bagi mereka yang mengunjungi Bandung, seperti kemarin saya mengajak sahabat asal Flores yang jauh-jauh datang ke Bandung mengunjungi Braga.

Kawan saya bernama Matheus ini ingin ke Sumber Hidangan setelah membaca postingan saya sebelumnya, namun tampaknya kurang beruntung karena restorannya sudah tutup pun roti-roti yang dipajang di etalase tinggal sedikit. Akhirnya saya mengajak untuk jalan-jalan sedikit dan menuju restoran lain di Braga yang tak kalah legendaris. Namanya Maison Bogerijen.

Restoran ini merupakan restoran yang eksis sejak jaman Kolonial Belanda selain Sumber Hidangan, lokasinya di Jalan Braga 1958. Resto ini didirikan di tahun 1921 oleh Keluarga Bogerijen yang menyajikan kue-kue dan es krim Belanda.

Konon dulu restoran ini mendapat restu langsung dari Ratu Wilhelmina karena memasang lambang kerajaan Belanda dan memiliki menu spesial seperti Wilhelmina Taart yang untuk mencicipnya pengunjung harus memesan sebulan sebelumnya.

Di masa lalu, Maison Bogerijen ini menjadi jujugan para pembesar Belanda dan menjadi tempat makan paling favorit di masa itu. Uniknya berdasar cerita, dahulu menu di sini ditulis dengan bahasa Perancis untuk menyesuaikan dengan julukan Bandung sebagai Parijs van Java.

Namun jika anda ingin mencari Maison Bogerijen sekarang, anda tidak akan menemukannya. Seiring nasionalisasi perusahaan Belanda pasca kemerdekaan, restoran Maison Bogerijen ini berubah nama menjadi Braga Permai hingga sekarang ini.

Sayang seribu sayang bangunan art deco yang menjadi ciri khas restoran ini dirubuhkan sekitar tahun 1960-an dan diganti dengan bangunan sekarang ini, hal ini terkait dengan situasi di masa itu yang mana Presiden kita Soekarno tidak menyukai hal kebarat-baratan.

Restoran

Namun suasana di restoran ini sekarang tak kalah eloknya dengan suasana di masa lalu. Suasana mirip cafe – restaurant di jalanan Paris dengan payung-payung besar, outdoor dan berada langsung di sisi jalanan. Saya dan Matheus pun memilih tempat tepat di sebelah papan nama restoran.

Suasana di restoran santai sekali, saat kami datang Pramusaji sudah menghampiri sambil membawakan hidangan pembuka berupa kue kering dan 2 gelas air putih. Setelah itu kami diberikan daftar menu yang sekarang ini sudah merupakan campuran dari olahan Belanda, Italia dan Indonesia.

Menu

Daftar Menu

Stik Kering

Matheus memilih kakap goreng siram dengan segelas Jus jeruk dingin, sementara saya yang tidak lapar hanya memesan satu gelas es krim Coupe La Braga.

Sembari menunggu pesanan datang, saya dan Matheus bernostalgia tentang kisah hidup kami selama ini. Matheus adalah kawan lama saya dan sudah beberapa tahun tidak bertemu. Jadilah sore ini menjadi nostalgia kawan lama yang diisi kisah-kisah di masa lalu.

Segelas es krim dingin yang saya nikmati turut mencairkan suasana sore itu, sementara kakap goreng yang lezat turut membahagiakan Matheus yang sejak pagi perutnya belum diisi. Es krim yang saya nikmati adalah es krim dengan suasan buah-buahan dengan tambahan agar-agar jeruk dan sirup merah yang manis. Sementara kakap goreng pesanan Matheus adalah kakap goreng tepung dengan siraman saus asam manis. Daging kakakpnya sangat empuk dengan saus yang sampai merembes ke serat-serat dagingnya. Saya akui rasa olahan di restoran ini memang lezat seperti kelegendarisan Maison Bogerijen yang sudah terkenal sejak medio 1920-an.

Coupe La Braga

Kakap Goreng

Pada akhirnya saya meninggalkan restoran dengan suasana bahagia, bahagia karena saya bisa menikmati nostalgia yang menyenangan di Braga Permai, bahagia karena menu yang lezat sampai – sampai saya tersenyum sendiri menikmati kelezatannya, bahagia karena saya bisa bernostalgia bersama Matheus, kawan lama dari Flores di Braga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s