Cap Itu.

Seberapa pentingkah cap untuk anda? Dan seberapa bangga anda setelah anda mendapat cap?

Yah, mungkin untuk beberapa gelintir manusia, penting. mungkin semacam bukti atau kalau tidak ya mungkin itu adalah simbol eksistensi telah melintasi batas-batas geografis suatu negara. Cap sekarang menjadi gengsi untuk menentukan taraf sampai dimana anda pernah melakukan perjalanan. Mereka yang dicap berkali-kali mungkin akan mendapat penghormatan dari mereka yang baru dicap sekali – dua kali.

Tapi mari merenung sejenak, semenjak ada garis batas yang dibuat oleh manusia, yang mungkin sebagian adalah garis-garis batas imajiner semata. Cap menjadi penting. Tanpa cap, seorang manusia tak bisa keluar dari suatu negeri, atau tak mungkin bisa masuk ke negeri yang lain. Makanya urusan per-cap-an bisa menjadi urusan hidup dan mati, pengabaian nyawa dan sebuah upaya pembelaan harga diri.

Imigran dari Afghan, dulu Manusia Perahu dari Vietkong, Pelintas Batas di Kalimantan, Pelintas Batas di Papua, Para Manusia Perahu Nomad – Stateless. Mereka adalah mungkin beberapa orang yang menganggap harga mahal sebuah cap, rela berbuat apapun untuk melintas batas imajiner, atau yang dicap bolak-balik demi mendapatkan sesuatu yang berharga di batas negeri seberang, atau justru kelompok yang mengabaikan batas-batas dan hidup bebas berlantai samudera beratap laut biru.

Toh dulu manusia mengembara tanpa cap, ke ufuk-ufuk dimana matahari terbit dikejar, ke pucuk-pucuk dimana matahari terbit tenggelam. Manusia pengembara jaman dulu tidak peduli cap dan semacamnya, tanah yang mereka tapaki jari demi jari adalah Tanah Tuhan, dan perjalanan mereka mungkin sebagian adalah perjalanan karena Tuhan. Seperti misalnya kita akrab dengan kata Hijrah, Jihad, Dakwah lalu kemudian ada istilah dari barat Gold, Gospel, Glory. Bahwasanya menjadi pejalan adalah fitrah, sejak Adam turun ke bumi dan harus menempuh perjalanan beratus kilometer jauhnya untuk bertemu dengan rusuknya, Hawa nun jauh di tempat terpisah.

Jalan Sutra, menjadi saksi betapa negeri-negeri dilintasi, debu ditembus, gunung diterjang oleh manusia dari timur ke barat, dari barat ke timur, mereka yang sendiri atau berombongan dengan onta, keledai dan berbagai alat angkut mereka. Peradaban muncul di sepanjang jalan, Budaya muncul dari para pejalan, persaudaraan ditaut dalam perjalanan.

Manusia-manusia pejalan tanpa cap jaman dulu terasa lebih zuhud, tidak ada yang dicari seperti kejayaan sendiri.Jaman dulu dimana yang lebih dikenal adalah surat jalan dari raja/penguasa atas jaminan keselamatan pemegangnya, sederhana. Cukup ditunjukkan pada penjaga perbatasan. Maka manusia pun terasa lebih mudah melintas batas-batas negeri.

Ibnu Battutah tidak diminta dikenal, dia hanya berjalan kemudian menulis manuskrip. Dari manuskrip itulah manusia belajar negeri-negeri lain, belajar budaya yang lain, belajar tentang sejarah yang lampau. Dari manuskrip hasil perjalanan itulah Ibnu Battutah tidak dikenal sebagai seorang pejalan, tapi seorang cendekia. Walaupun sejatinya dia pun juga seorang pejalan, dari Marocco, Asia Tengah, Asia Selatan, Maladewa, Asia Tenggara Ibnu Battutah berjalan dengan namaNya dan dalam lindunganNya.

Menuju abad yang lebih baru, The Malay Archipelago adalah karya seorang bernama lengkap Alfred Russell Wallace, dalam perjalanannya beliau mencatat dengan detail, mengamati dengan cermat, mengidentifikasi dengan seksama apa yang ia temui, sehingga bukunya menjadi semacam kitab dan namanya harum di Nusantara, konon lebih dulu mengemukakakn teori evolusi daripada Darwin. Dan ia juga seorang pejalan, menuyusuri setapak demi setapak tanah nusantara dan menghasilkan sebuah buku yang abadi.

Manusia di era lampau lebih bebas dalam  berjalan, tidak ada mekanisme rumit. Tapi perjalanan di era lampau tidak membuat manusia pejalan menjadi seseorang yang sombong, justru menjadikan perjalanannya karya yang bermanfaat bagi ilmu dan bagi generasi sesudahnya, berabad-abad lamanya.

Maka mari kembali dimasa kini, dimana cap adalah gengsi dan manusia mencoba mencari cara mendapat cap terbanyak di buku seukuran saku bernama paspor. Sementara tidak ada yang dihasilkan selain kejayaan pribadi dan adu gengsi. Lalu pengembara jalan sutra, Ibnu Battutah bahkan Alfred Wallace mungkin terheran-heran dalam kuburnya, melihat tingkah pejalan jaman sekarang.

29102012 disudutGarut.

2 thoughts on “Cap Itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s