Sampai Kapan Kita Terus Begini?

disclaimer : postingan ini tidak bermaksud mengumbar sinisme atau sikap pesimis, saya hanya menunjukkan bahwa ada yang harus dibenahi dan bisa dibenahi untuk menjadikan negeri ini lebih baik.

“mas, mau siapapun gubernurnya, macet di Jakarta ga bakal brenti..lhawong jalannya segini-gini aja, tapi mobil makin banyak, mbok ya ada pembatasan mobil po gimana gitu”

ucapan itu terlontar dari sopir taksi yang mengantarkan saya pagi ini di Jakarta. saya memang ada keperluan dinas pagi ini dan memakai moda transportasi taksi dari daerah Cilandak ke Gambir. beruntung saya bertemu dengan bapak sopir taksi asli Cirebon yang grapayak dan kritis. Contohnya ucapan tadi, tidak perlu seseorang dengan pendidikan tinggi untuk menganalisa terjadinya kemacetan yang parah di Jakarta plus pak sopir taksi tadi mampu memberikan solusinya.

saya paham benar, bapak ini bergelut dengan kemacetan setiap hari. Mulai dari pagi saat dia berangkat dari pool taksinya di Bekasi, sampai saat dia pulang dari tugas di malam hari. dari pengalaman di jalanan dia mampu menganalisa dan memberi solusi. Lebih baik daripada bapak-bapak yang katanya berpendidikan tinggi yang berkumpul di Senayan, yang bisanya ngoceh doang, pas rapat tidur tanpa mampu memberikan solusi praktis.

saya rasa memang benar apa yang diucapkan bapak sopir taksi tadi, saya pun berpikir demikian. jumlah mobil akan selalu bertambah. dan saya melihat pamflet janji pemda DKI di Cililitan, bahwa dengan penambahan 8 ruas jalan layang maka kemacetan akan terurai, yakinkah? penambahan jalan layang berkejar-kejaran dengan jumlah mobil yang makin menggila. maka kemacetan bisa terurai seberapa lama sebelum kembali menggila? setahun, dua tahun?

seharusnya MRT menjadi solusi utama jika ingin kemacetan terurai. sudah sejak lama MRT digaung-gaungkan, tapi wacana tinggal wacana, tiang MRT hanya menjadi tiang tempat menempelkan pamflet, percuma. Busway yang digadang-gadang sebagai embrio MRT sekarang tak ubahnya Metro Mini yang berukuran lebih besar kemudian ditempeli AC.

bagaimana tidak? Busway sekarang menjadi kumuh, jok yang kumal, interior berdebu dan jarang dibersihkan, mesin yang berisik, mesin yang sering macet, tanpa perawatan yang serius. Dan yang jelas dengan jalur yang sering diserobot, kasus tabrakan busway lebih sering terjadi, pun dengan berita keterlambatan busway yang mungkin sudah ribuan kali dikeluhkan penumpang.

Tapi, apakah kita akan terus begini? apakah mau terus begini?

4 thoughts on “Sampai Kapan Kita Terus Begini?

      • Monorail sih iya, rapid transit (RT) tapi dia termasuk Light Rapid Transportation LRT, bukan Mass Rapid Transportation. Kalo yang dimaksud konsep itu barangkali Pola Transportasi Makro yah?

        Jadi pengertiannya PTM ini terdiri dari Monorail, BRT (busway), MRT dan Commuter Line yang saling terintegrasi.

        Monggo dilihat di wikipedia, MRT dan Monorail (singapura dan Kuala Lumpur misalnya) itu sistem yang berbeda. Di Jakarta, monorail dibangun oleh swasta (PT JM) line nya ada 2, senayan dan kuningan, yang ini gagal direalisasikan dan menyisakan tiang2 itu. Kalo MRT jakarta rutenya Lb Bulus-Kp Bandan, yang sekarang masih berupaya dibangun Pemda melalui PT MRTJ.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s