Closed.

67 thoughts on “

  1. Saya tidak punya ilmunya untuk komentar mengenai dunia per duta wisataan, saya cuma pengen komen itu foto yang di atas yang di jalanan (mungkin di jepang) mengambil perspektif dari gedung di kanan kiri jalan mengarah ke gedung di ujung jalan, its briliant!! Gw suka warnanya brooo… Great tone, nice eksposure, amazing detail… Bikin mupeng deh fotonya… Haha

  2. iyaakk.. setuju. cuma saya pikir susah mengganti ide duta2 tersebut dari merely beauty pageant into the real representative of their scope. Kenapa? tarik nafas sejenak, sabar, dan lihatlah duta perdamaian, miss world (yang konsep sebenarnya mmg duta dunia), dan lain-lain juga mengambil embak2 & emas2 yang wajahnya atraktif. Memang sudah makclep susunan dan karakternya kayak gitu..
    Tapi walo susah, saya yakin akan ada jalan. Untuk sementara mungkin mencari penobatan yang lain, bukan duta wisata tapi.. tourism promotor😉
    heeee…. asyik nggak ideku? :p

    • asyik banget itu dia ki..
      sebenarnya ide utamanya adalah janganlah dipilih berdasar mukanya saja.
      tapi pilih juga dari apa yang sudah dia lakukan untuk wisata magelang. which is panitia bisa milih dari sekian banyak traveler/blogger/pelaku seni yang benar-benar paham wisata magelang.
      paradigma face oriented itu kudu digeser sudah.

  3. Proyek Duta-duti bener banget gak ada manfaatnya, sama halnya Putra-Putri Solo di kota ku…ya gitu deh… Cuma ngehabisin uang aja buat ngadain acara begituan. Mending buat mas Chan keliling Indonesia aja trus bikin buku “Lonely Indonesia” #ehh hehehe….

    • lha kan..memang harusnya kudu ada perubahan paradigma ya? maksud saya , sudah saatnya diganti dengan program lain yang lebih memberikan manfaat lebih nyata untuk wisata daerah.🙂

    • Halo Halim,
      perkenalkan saya Ketua Ikatan Mas Mbak Jateng dan sangat bangga terhadap Putra Putri Solo, wiujud antusiasme pemuda dan pemudi yang peka dan mau berkembang untuk memajukan budaya yang ada,, saya tidak perlu berkata banyak, bisa dilihat kiprah putraputri Solo dalam mengharumkan nama Jawa Tengah maupun Indonesia sudah dapat Anda cari di dunia maya, kalau saya saja yang bukan orang Solo merasa bangga dengan adanya mereka. Kenapa Anda yang orang Solo tidak dapat memupuk kecintaan dan kebanggan terhadap mereka? Coba bisa dicermati lebih lanjut kegiatan mereka hanya menghambur-hamburkan uang atau melakukan sesuatu yang berguna kaitanya dengan pengembangan budya dan pariwisata🙂

  4. Sependapat denganmu Chan. Aku pernah baca tagline dari pemilihan duta wisata Aceh, kurang lebih begini “Ayo ikut memajukan pariwisata Aceh dengan ikut pemilihan Duta Wisata”. Lha dikira tanpa ikut jadi duta wisata gak bisa ikut memajukan pariwisata apa? Para duta wisata itu juga aku yakin gak ada (kalopun ada ya sedikit sekali) yg blusukan ke tempat wisata yg terpencil kok.

    • sependapat mas.
      memang itulah yang jadi miris. seolah olah ikut Duta Wisata itu jadi memajukan wisata.
      padahal pelaku wisata yang lain lebih banyak yang mempromosikan wisatanya.
      memang itulah indonesia, sukanya seremonial belaka.

  5. setuju banget sama tulisan ini, emang gak pernah kedengaran aksi mereka mempromosikan magelang, mungkin harusnya waktu kontes dimasukkan konten “seberapa jauh anda mengenal magelang”, kalo duta wisata seharusnya tau objek wisata apa aja yg ada di magelang dari yg terkenal sampai yg belum terkenal sehingga harus dipromosikan, kan itu tugasnya to?

  6. Selamat siang, perkenalkan saya Andre Wijaya Binarto, ketua Ikatan Mas Mbak Jateng dan juga Ketua Paguyuban Duta Wisata Kota Magelang

    terima kasih sekali untuk masukanya,
    Pada dasarnya Duta Wisata adalah sebuah pemilihan untuk memilih seorang “Duta” yanga rtinya dalah utusan, dimana merka akan menjadi Brand Ambassador untuk setiap daerah yang diwakili.
    Mereka dipilih berdasarkan Brain. Beauty dan juga Beahavior, tidak sekedar tampak luarnya, akan tetapi kepribadian dan juga pengetahuan serta wawasanya. Oleh karenanya coba Anda cermati lebih lanjut tentang kiprah Duta Wisata di Dunia Pariwisata dan juga budaya.

    1. Duta Wisata Kota Magelang bukan sekedar ajang cantik dan ganteng saja
    Duta Wisata Kota Magelang selalu memberikan yang terbaik untuk Kota Magelang. Kami berkomiutmen untuk memajukan Pariwisata dan juga budaya yang ada dimanapun kami berada, Tidak bisa dipungkiri, tidak semua juara ataupun finalis memiliki passion untuk pengembangan pariwisata dan juga budaya di Kota Magelang. Tapi Anda salah ketika mengatakan kami tidak berkiprah sama sekali. Rasa pengabdian kami terhadap tanah Jawa lebih dari sekedar pemuda pemudi yang berlenggak lenggok saja, lebih sari sekedar apa yang disorot oleh media. Kami mengabdi untuk Kota Magelang dari keinginan kami sendiri dari hati kami untuk tanah kelahiran kami.
    Pengetahuan pariwisata dan budaya yang dipertanyakan? Coba bisa di cek dan berbanggalah terhadap tim Duta Wisata Magelang yang terlibat aktif sebagai Kelompok Sadar Wisata yang meraih Juara 1 tingkat provinsi Jawa Tengah, meraih penghargaan tarian rakyat terbaik serta menjadi juara 1 dalam lomba cerdas cermat pariwisata dan budaya.tahun 2012. Masih mau mempertanyakan lagi? Duta Wisata Kota Magelang Martina Fiani yang fotonya Anda pasang, telah dinobatkan sebagai juara 1 Mbak Jawa Tengah dan Aditya Putra sebagai juara harapan 3 Mas Jateng (http://remaja.suaramerdeka.com/2012/11/19/meriahnya-pemilihan-mas-dan-mbak-duta-wisata-jateng-2012/), kami membuat program penyuluhan pariwisata, kami melakukan edukasi pentingnya Bahasa Inggris tidak hanya di Kota Magelang saja, kami melakukan workshop dan seminar batik, memperoleh penghargaan tingkat Regional maupun Nasional. Beberapa dari kami sampai ke luar negri untuk melakukan promosi pariwisata sebut saja ke Negara-negara ASEAN (SIngapore Malaysia, Thailand, dll), Australia, Eropa dan juga ke negara-negara lain melalui berbagai program, tanpa disuruh pun kami membawa nama Kota Magelang dan juga Jawa Tengah, karena selempang itu tidak hanya melekat di malam penobatan. Rasa memiliki kami terhadap warisan budaya dan juga keinginan memajukan pariwisata lebih dari sekedar yang Anda tahu.
    Kalau pemuda pema dan pemudi yang mau berjuang untuk Kotanya, untuk provinsinya, malah di underestimate dan dikatakan untuk apa? Bagaimana Kota Magelang bisa maju. pariwisata adalah sebuah sitem dimana satu pihak dan pihak lainya saling membantu, membentuk suatu sinergi yang menghasilkan daya tarik wisata. Bukanya saling meremehkan tanpa mengetahui fakta yang jelas

    2. Pejalan, Ahli Budaya dan Seni
    Ketua Dewan Seni Kota Magelang, menjadi pembimbing kegiatan-kegiatan kami serta Ketua Dewan Seni Tari Jawa Tengah bersama Paguyuban Duta Wisata Kota Magelang juga melakukan banyak kegiatan yang mengusung pariwisata dan budaya sebagai landasanya.
    Kami bekerja sama dengan banyak para traveler, dan sebagian dari kami adalah pejalan serta penulis.

    3. Jaringan
    Saya juga merangkap sebagai Seksi Pengembangan dan pengelolaan SDM Ikatan Duta Budaya dan Pariwisata Indonesia, tidak hanya omong kosong dan melakukan ajang cantik-cantikan serta ganteng2an. Kami membangun Jaringan para Duta Wisata se Indonesia, Duta- duta wisata dan budaya juga berkiprah di dunia wirausaha, seperti membuat industri batik sendiri, mengeloloa makanan khas (kalau mengikuti trend perkembangan kuliner, pasti tahu ada brownis gethuk,) ada juga yang memberikan pengajaran gratis untuk penyuluhan bahasa Inggris, dan lain-lain. Kami bukan hanya pemuda yang tidak memiliki visi.

    Saya harap dikemudian hari, kita semua bisa bekerja sama, tidak ada yang sempurna dari sebuah organisasi ataupun kegiatan, selalu ada plus minus, pro dan kontra. Tapi apabila kita semua memiliki visi yang sama untuk memajukan daerah kita, melestarikan warisan budaya Bangsa. Mari bekerjasama

    Terimakasih

    • terima kasih atas tanggapannya mas Andri. dan terima kasih sudah berkunjung ke blog ini untuk memberikan klarifikasi yang jelas.

      sebenarnya tujuan tulisan ini tidak kepada persona Duta Wisata, tapi lebih kepada penyelenggara. agar mereka juga membuka mata tentang program lain selain Duta Wisata yang bisa memberikan kontribusi positif dan masif kepada Magelang. sekarang ini saya sedang bekerjasama dengan sebuah instansi traveling terkemuka untuk membuka jalur wisata di Magelang, dan menyelesaikan e-book tentang Magelang yang bisa diunduh gratis.(oia, kami traveler tidak bicara soal Kota Magelang, tapi lebih kepada Magelang Raya, mencakup Kota dan Kabupaten, pengkotakan Kota dan Kabupaten ini bisa membuat potensi wisata Magelang menjadi njomplang)

      ada ceruk yang besar yang sebenarnya bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan kreatif untuk mengundang orang datang. tentunya saya tidak menutup mata, tapi hampir tidak ada berita tentang Duta Wisata mas. maafkan saya kalau saya memang kurang informasi. tapi saya kira, perlu ada terobosan baru tentang paradigma bagaimana tentang konsep Duta Wisata itu sendiri.

      Anyway, saya sangat senang jika suatu saat kita bisa bertemu dan bekerjasama untuk wisata Magelang yang lebih kreatif. salam.🙂

    • Tambahan sedikit mas, maafkan jika saya mungkin kurang tahu. Tapi saya sudah googling nama nama duta wisata magelang,namun nihil mencari berita / artikel tentang kiprah di bidang pengembanganan wisata dsb. Seharusnya kalau duta pasti ada beritanya. Termasuk tentang sosok mas sendiri.
      Kemudian saya juga searching nama untuk mencari artikel artikel atau tulisan tulisan karya duta wisata magelang. Tapi tidak menemukannya mas.
      Untuk nama yang terpilih sebagai putra putri pariwisata (selain intelegensia) saya juga tidak menemukan artikel berkaitan wisata,kecuali akun social media.
      Mungkin saya yang kurang tahu infonya mas..jadi mungkin mas andre bisa memberitahu saya,siapa tahu bisa berkolaborasi bersama. Misalnya membuat buku tentang magelang..

      • prestasimu opo can? wis duwe buku rung? wis tau gembel nang chang i durung? wis loncing buku indie durung? yen durung meneng sik ojo cangkeman. :)))))

      • Prestasine isih sitik mas, sek yo bukune isih indi durung terbit, wes kerep ki turu neng Mushola2, turu neng perko, neng ndalan, neng seput, nggembel neng Bangkok wes tau, turu neng terminal Malaysia yo wes tau

  7. Selamat siang, perkenalkan saya Andre Wijaya Binarto, ketua Ikatan Mas Mbak Jateng dan juga Ketua Paguyuban Duta Wisata Kota Magelang

    terima kasih sekali untuk masukanya,
    Pada dasarnya Duta Wisata adalah sebuah pemilihan untuk memilih seorang “Duta” yanga rtinya dalah utusan, dimana merka akan menjadi Brand Ambassador untuk setiap daerah yang diwakili.
    Mereka dipilih berdasarkan Brain. Beauty dan juga Beahavior, tidak sekedar tampak luarnya, akan tetapi kepribadian dan juga pengetahuan serta wawasanya. Oleh karenanya coba Anda cermati lebih lanjut tentang kiprah Duta Wisata di Dunia Pariwisata dan juga budaya.

    1. Duta Wisata Kota Magelang bukan sekedar ajang cantik dan ganteng saja
    Duta Wisata Kota Magelang selalu memberikan yang terbaik untuk Kota Magelang. Kami berkomiutmen untuk memajukan Pariwisata dan juga budaya yang ada dimanapun kami berada, Tidak bisa dipungkiri, tidak semua juara ataupun finalis memiliki passion untuk pengembangan pariwisata dan juga budaya di Kota Magelang. Tapi Anda salah ketika mengatakan kami tidak berkiprah sama sekali. Rasa pengabdian kami terhadap tanah Jawa lebih dari sekedar pemuda pemudi yang berlenggak lenggok saja, lebih sari sekedar apa yang disorot oleh media. Kami mengabdi untuk Kota Magelang dari keinginan kami sendiri dari hati kami untuk tanah kelahiran kami.
    Pengetahuan pariwisata dan budaya yang dipertanyakan? Coba bisa di cek dan berbanggalah terhadap tim Duta Wisata Magelang yang terlibat aktif sebagai Kelompok Sadar Wisata yang meraih Juara 1 tingkat provinsi Jawa Tengah, meraih penghargaan tarian rakyat terbaik serta menjadi juara 1 dalam lomba cerdas cermat pariwisata dan budaya.tahun 2012. Masih mau mempertanyakan lagi? Duta Wisata Kota Magelang Martina Fiani yang fotonya Anda pasang, telah dinobatkan sebagai juara 1 Mbak Jawa Tengah dan Aditya Putra sebagai juara harapan 3 Mas Jateng (http://remaja.suaramerdeka.com/2012/11/19/meriahnya-pemilihan-mas-dan-mbak-duta-wisata-jateng-2012/), kami membuat program penyuluhan pariwisata, kami melakukan edukasi pentingnya Bahasa Inggris tidak hanya di Kota Magelang saja, kami melakukan workshop dan seminar batik, memperoleh penghargaan tingkat Regional maupun Nasional. Beberapa dari kami sampai ke luar negri untuk melakukan promosi pariwisata sebut saja ke Negara-negara ASEAN (SIngapore Malaysia, Thailand, dll), Australia, Eropa dan juga ke negara-negara lain melalui berbagai program, tanpa disuruh pun kami membawa nama Kota Magelang dan juga Jawa Tengah, karena selempang itu tidak hanya melekat di malam penobatan. Rasa memiliki kami terhadap warisan budaya dan juga keinginan memajukan pariwisata lebih dari sekedar yang Anda tahu.
    Kalau pemuda pema dan pemudi yang mau berjuang untuk Kotanya, untuk provinsinya, malah di underestimate dan dikatakan untuk apa? Bagaimana Kota Magelang bisa maju. pariwisata adalah sebuah sitem dimana satu pihak dan pihak lainya saling membantu, membentuk suatu sinergi yang menghasilkan daya tarik wisata. Bukanya saling meremehkan tanpa mengetahui fakta yang jelas

    2. Pejalan, Ahli Budaya dan Seni
    Ketua Dewan Seni Kota Magelang, menjadi pembimbing kegiatan-kegiatan kami serta Ketua Dewan Seni Tari Jawa Tengah bersama Paguyuban Duta Wisata Kota Magelang juga melakukan banyak kegiatan yang mengusung pariwisata dan budaya sebagai landasanya.
    Kami bekerja sama dengan banyak para traveler, dan sebagian dari kami adalah pejalan serta penulis. Kami tidak hanya tinggal diam dan karena kami mengabdi apakah harus digembor2kan kalu melakukan kegiatan. Kami melakukan banyak kegiatan lebih daris ekedar omong kosong dan kritikan.

    3. Jaringan
    Saya juga merangkap sebagai Seksi Pengembangan dan pengelolaan SDM Ikatan Duta Budaya dan Pariwisata Indonesia, tidak hanya omong kosong dan melakukan ajang cantik-cantikan serta ganteng2an. Kami membangun Jaringan para Duta Wisata se Indonesia, Duta- duta wisata dan budaya juga berkiprah di dunia wirausaha, seperti membuat industri batik sendiri, mengeloloa makanan khas (kalau mengikuti trend perkembangan kuliner, pasti tahu ada brownis gethuk,) ada juga yang memberikan pengajaran gratis untuk penyuluhan bahasa Inggris, dan lain-lain. Kami bukan hanya pemuda yang tidak memiliki visi.

    Saya harap dikemudian hari, kita semua bisa bekerja sama, tidak ada yang sempurna dari sebuah organisasi ataupun kegiatan, selalu ada plus minus, pro dan kontra. Tapi apabila kita semua memiliki visi yang sama untuk memajukan daerah kita, melestarikan warisan budaya Bangsa. Mari bekerjasama

    Terimakasih

  8. eh eh sebenarnya travel blogger itu adalah duta wisata independent bagi daerahnya masing2 dan tentu saja Indonesia yg jasanya jg besar *kasih selempang ke semua travel blogger lalu dadah2 barengan dengan senyum paling menawan*

  9. hahahaha diskusi yang menarik. ikut nimbrung ya.

    mas andre, maksud dari tulisan ini bukan untuk menganggap kecil peran para duta, bukan. saya yakin mereka yang menjadi duta juga telah turut membantu mempromosikan pariwisata daerah hingga keluar negeri, dengan biaya negara tentunya. mereka yang menyandang gelar duta juga telah memperkenalkan budaya tradisional daerah seperti tari-tarian atau lagu dan lain sebagainya, walaupun beritanya jarang sekali terdengar.

    itulah masalahnya. apa yang dilakukan butuh publikasi, baik melalui tulisan, foto, maupun video. kenapa? karena kegiatan-kegiatan duta-duta itu dibiayai negara. dibiayai uang pajak masyarakat. masyarakat perlu tahu, meskipun masyarakat tidak ikut memilih duta-duta itu.

    prestasi bukanlah menjadi juara ini atau juara itu, juara nasional atau juara alam semesta. dalam konteks pariwisata, prestasi adalah ketika apa yang dilakukan mampu memberikan sumbangan terhadap perkembangan pariwisata indonesia. saya setuju ketika anda bilang prestasi duta pariwisata adalah melakukan workshop/seminar tentang batik atau menggelar pertunjukan tari tradisional di eropa. tapi menjadi juara kelompok sadar wisata, juara cerdas cermat antar daerah, juara mas mbak jateng, pfffttt, itu bukan prestasi. itu lomba antar sesama kalian. ketika saya ketik “wisata magelang” di google, yang bermunculan adalah link2 blog para pejalan. tidak ada nama anda, tidak ada nama duta2 itu, apalagi kelompok sadar wisata.

    jadi, bagaimanakah seharusnya duta wisata yang ideal? masing-masing orang punya kriteria sendiri-sendiri, seperti setiap orang punya kriteria pacar idaman. tapi bagi saya, duta wisata itu tidak ada hubungannya dengan penampilan. yang penting cerdas, dan punya komitmen. dan bisa nulis. anda tidak perlu sepakat, toh pemerintah juga yang menentukan. hahaha…

    • mas. saya setuju dengan pendapat mas regy.
      perlu disadari bahwa, jika memang duta seharusnya mereka adalah ujung tombak campaign, tidak hanya eksternal, tapi juga internal.
      dikenal-mengenalkan.

  10. mungkin apa yang kami lakukan memang belum sebesar yang mereka lakukan.
    kontribusi kami tidak sebesar Anda sekalian.
    kami disini hanya berbekal kemampuan yang kami miliki untuk MEMBANTU mempromosikan pariwisata .dan kami masih terus belajar, mungkin Bapak – Bapak bisa membagi ilmunya kepada kami. memberi kami training, bagaimanakah promosi wisata yang baik dan efektif.
    boleh saya bertanya,
    1. kami memang dipilih menggunakan uang rakyat. lebih baik uang pemerintah untuk membiayai kegiatan pemilihan pageants seperti ini atau digunakan untuk biaya rehabilitasi orang-orang yang terjebak narkoba?
    2. menurut saya, duta wisata bukan sekadar orang yang ditunjuk untuk mempromosikan, tetapi mereka yang bisa dijadikan role model bagi pemuda – pemudi di sekitarnya, relakah Anda ketika melihat seluruh pemuda-pemudi di Indonesia raya berkaca pada pelaku seni ibukota?
    3. kami disini pemuda-pemudi yang berusaha bersama dalam melestarikan kebudayaan, jika jalan kami tidak didukung seperti ini, siapakah yang patut disalahkan ketika kebudayaan itu luntur?
    4. adakah pelau wisata di Magelang atau di daerah lain yang tidak profit oriented?tidak money oriented?kalau ada boleh saya minta kontak orang tersebut?

    mungkin di pemilihan duta wisata berikutnya Bapak bisa ikut terlibat aktif bersama kami, sehingga bisa menilai kami secara lebih dekat. kami akan sangat memberi apresiasi apabila bapak bersedia mengisi salah satu kelas di pemilihan duta wisata selanjutnya🙂
    Terima Kasih

    – diskusi ini menarik sekali untuk saya, kapan Bapak dan sodara sekalian ada waktu? mungkin kita bisa bertemu untuk berdiskusi bersama

    • Saya orang magelang. Dan mungkin saya terlalu cupu untuk tidak pernah melihat secara nyata anda terlihat di jalan, berlebih jika ada acara tentang magelang.
      Sebenarnya yang saya lihat dari beberapa pertanyaan yang terlontar diatas adalah jelas hal yang sebenarnya tak perlu keluar. Bahkan ini adalah seorang yang digadang-gadang jadi duta wisata. Berlebih deretan prestasi (fana) yang ternyata tak pernah kita temui kiprah positifnya di dunia maya, berlebih kita temui merapat bersama di dunia nyata. Memang Duta wisata itu bergengsi, sehingga ada kemungkinan gengsi untuk datang kejalan, dan berinteraksi kepada khalayak ramai. Interaksi saja jarang, apalagi untuk membantu mempromosikan pariwisata? Maafkan saya, kalau memang saya kurang funky, bahkan untuk tidak pernah bersalam sapa secara nyata.
      Mungkin saya akan mencoba menjawab, akan tetapi apakah sebelum itu, Anda tau apa yang sebenarnya anda tanyakan? Anda ketahui pasti tentang artikel diatas?
      1. Kami memang dipilih menggunakan uang rakyat. lebih baik uang pemerintah untuk membiayai kegiatan pemilihan pageants seperti ini atau digunakan untuk biaya rehabilitasi orang-orang yang terjebak narkoba?

      Apakah pertanyaannya tidak ada yang lebih berkelas? Haha.. Kalau saya memilih untuk biaya Kolektif pasar Rejowinangun yang sampai sekarang tertanggalkan. Semua bungkam dan kalem seperti tidak ada apa-apa. Hanya Magelang yang mempunyai keanehan, kala pasar yang sebagai tempat sector perekonomian selama 4 tahun belum juga dibangun lagi tapi mayoritas mereka hanya diam. 4 Tahun? Coba aja di kota lain, 1 tahun juga pemerintah sudah dipaksa suruh gulung tikar. Magelang? Silahkan jawab sendiri.

      2. Menurut saya, duta wisata bukan sekadar orang yang ditunjuk untuk mempromosikan, tetapi mereka yang bisa dijadikan role model bagi pemuda – pemudi di sekitarnya, relakah Anda ketika melihat seluruh pemuda-pemudi di Indonesia raya berkaca pada pelaku seni ibukota?

      Pelaku seni ibukota? Haha. Saya pengen lihat apakah anda juga tidak berkaca pada pelaku seni ibukota? Bahkan dari berdandan.

      3. kami disini pemuda-pemudi yang berusaha bersama dalam melestarikan kebudayaan, jika jalan kami tidak didukung seperti ini, siapakah yang patut disalahkan ketika kebudayaan itu luntur?

      Yang patut disalahkan sih kalau menurut saya kalau kita sudah punya duta wisata, tapi pariwisata nya juga miskin atensi. Yang katanya mereka memajukan. Hehe.

      4. Adakah pelau wisata di Magelang atau di daerah lain yang tidak profit oriented?tidak money oriented?kalau ada boleh saya minta kontak orang tersebut?
      Maap, kalau buat ini, mungkin mas pemilik blog bias menjelaskan panjang lebar .

      Selebihnya saya sependapat dengan Regy. Salam kenal!🙂

      • mbak e yang ternyata sama-sama alumni SMA 1, saya tanggapi ya :
        1. kalau uang rakyat, saya pilih untuk memilih membangun rehabilitasi narkoba.
        2. pelaku seni ibukota ada yang baik ada yang buruk, tergantung anda pilih yang mana. anda tidak bisa menyamaratakan bahwa pelaku seni ibukota semuanya memiliki pengaruh buruk seperti yang anda duga. saya kira mau menjadikan Duta Wisata Magelang sebagai role model juga agak gimana, karena banyak anak muda di Magelang yang bahkan tidak kenal duta wisatanya sendiri.
        3. saya rasa pelestari kebudaayaan tidak semata menjadi tugas anda. banyak anak muda lain yang concern di bidang pelestarian budaya.
        4. pelaku wisata yang tidak profit oriented? silahkan anda cari profil para komentator di blog ini, rata-rata mereka adalah para pelaku wisata yang tidak memikirkan profit, kalau memang minta kontak, nanti boleh kontak saya. saya sejak 2009, sudah membuka rumah saya untuk para traveler singgah, free, gratis. kalau memang itu dianggap bukan sebagai kegiatan wisata. ya ndakpapa.🙂 kalau butuh yang lain, bisa silahkan googling “Kota Toea Magelang” sangat-sangat non profit, profilnya bisa dilihat di postingan saya setelah ini.
        tabik.

  11. Kalo saya jadi Kepala Dinas Pariwisata Magelang, Duta Wisata ini tetep harus ada. Kenapa? karena kita bicara komunikasi antara institusi dengan publik. Dalam hal ini antara Dinas Parwisata (apalah itu namanya) selaku pembuat kebijakan mengenai wisata kota Magelang.

    Komunikasi antara institusi dengan publik harus ada satu kesatuan. Lewat saluran yang bisa menjembatani antara institusi dengan publik, jadi ada kesamaan persepsi. Bukan hanya publik luar, tapi juga publik internal. Dalam kasus ini ya pariwisata Magelang. Ini yang disebut sebagai aktivitas public relations/PR.

    Keberadaan Duta Wisata sebetulnya bisa berperan sebagai public relations. Persoalannya apakah mereka sudah menjalankan peran sebagai praktisi PR yang sebenarnya? sebagai perantara antara institusi dengan publik, sebagai garda paling depan institusi, juga sebagai problem solver dalam situasi krisis. Ini yang seringkali jadi salah kaprah fungsi PR. Seakan-akan kasih wajah cantik, habis perkara.

    Saya setuju dengan ide menjadikan apa yang disebut “para pejalan dari Magelang, yang melanglangbuana” sebagai “duta wisata”. Toh sebetulnya dalam institusi semua orang adalah PR secara tidak langsung. Tapi sekali lagi ini soal komunikasi dengan publik. Para pejalan itu tetap harus ada kesamaan persepsi soal kampanye wisata Magelang supaya pesan yang disampaikan bisa optimal. Tugasnya siapauntuk menyamakan persepsi ? ya tugasnya Public Relations.

    Sekali lagi saya tetap berpendapat Duta Wisata itu perlu. Cuma fungsinya yang harus berubah. Jadikan mereka PR Wisata Magelang. Kalau perlu sekolahkan di agensi PR ternama seperti Fortune atau Mavericks.

    Maaf kalo panjang. Cuma pengen menganalisa masalah ini dari sudut pandang disiplin ilmu yang saya dapat saat kuliah.

    • thanks mas jak, yang sudah memandang permasalahan ini dari segi keilmuan.
      saya rasa saya setuju, dengan mas jak bahwa Duta Wisata tetap ada, hanya memang perlu diberikan konsep baru yang segar dan lebih tepat sasaran.

  12. Dari sudut pandang saya, permasalahan ini ada beberapa point.
    1. Sudut pandang penulis yang menganggap bahwa ajang pemilihan Mbak/Mas/Duta Wisata ato apalah itu kurang efektif dalam memajukan pariwisata di daerah. Hal ini dilihat dari kurangnya publikasi mengenai hal2 yang dilakukan oleh Duta Wisata itu sendiri. Saya pun mengamini, dimana sebagai warga Magelang, saya kurang mendengar kiprah Duta Wisata tersebut dalam memajukan pariwisata. Adapun prestasi-prestasi yang disebutkan, menurut saya tidak lebih dari ajang persaingan antar sesama, atau hal yang bersifat simbolis atau seremonial belaka. Jarang saya membaca artikel atau berita yang memberi informasi nyata mengenai pariwisata Magelang yg berasal dari ”brand ambassador” yg disebut Duta Wisata ini.

    2. Penggunaan standard penilaian Brain, Beauty, Behaviour.
    Memang tidak bisa dipungkiri, budaya kita masih menilai sesuatu dengan melihat sisi beauty. “Wong sing luih ayu/ngganteng biasane luih dipercoyo ro luih entuk pengecualian lan pemakluman”, kata teman sma saya, dan tampaknya itu benar adanya. Dan menurut saya, mindset seperti ini harus dirubah.
    Saya justru lebih banyak mendapat informasi dari para pejalan atau pelaku dan pemerhati seni. Saya senang sekali ketika mengetahui ada komunitas Kota Toea yang aktif mempelajari dan mempublikasikan sejarah Magelang. Termasuk bung Efenerr yang kemarin memberi kabar bakal bekerjasama dengan situs pariwisata untuk membuka paket wisata ke Magelang.
    Para pelaku yg berkontribusi nyata ini bergerak lebih aktif tanpa memperoleh apresiasi, apalagi bayaran. Orang2 ini seharusnya lebih pantas dipilih sebagai Duta Wisata, karena dedikasinya terhadap daerah mereka. Tapi hal ini terpinggirkan, karena unsur ‘Beauty’ mungkin tidak ditemukan disini. Menurut saya itulah yg sangat disayangkan oleh penulis.

    Maaf kalo komennya panjang Bang..
    Cm nyampein unek-unek..
    Maju terus bang Sincan !!

  13. Dari sudut pandang saya, permasalahan ini ada beberapa point.
    1. Sudut pandang penulis yang menganggap bahwa ajang pemilihan Mbak/Mas/Duta Wisata ato apalah itu kurang efektif dalam memajukan pariwisata di daerah. Hal ini dilihat dari kurangnya publikasi mengenai hal2 yang dilakukan oleh Duta Wisata itu sendiri. Saya pun mengamini, dimana sebagai warga Magelang, saya kurang mendengar kiprah Duta Wisata tersebut dalam memajukan pariwisata. Adapun prestasi-prestasi yang disebutkan, menurut saya tidak lebih dari ajang persaingan antar sesama, atau hal yang bersifat simbolis atau seremonial belaka. Jarang saya membaca artikel atau berita yang memberi informasi nyata mengenai pariwisata Magelang yg berasal dari ”brand ambassador” yg disebut Duta Wisata ini.

    2. Penggunaan standard penilaian Brain, Beauty, Behaviour.
    Memang tidak bisa dipungkiri, budaya kita masih menilai sesuatu dengan melihat sisi beauty. “Wong sing luih ayu/ngganteng biasane luih dipercoyo ro luih entuk pengecualian lan pemakluman”, kata teman sma saya, dan tampaknya itu benar adanya. Dan menurut saya, mindset seperti ini harus dirubah.
    Saya justru lebih banyak mendapat informasi dari para pejalan atau pelaku dan pemerhati seni. Saya senang sekali ketika mengetahui ada komunitas Kota Toea yang aktif mempelajari dan mempublikasikan sejarah Magelang. Termasuk bung Efenerr yang kemarin memberi kabar bakal bekerjasama dengan situs pariwisata untuk membuka paket wisata ke Magelang.
    Para pelaku yg berkontribusi nyata ini bergerak lebih aktif tanpa memperoleh apresiasi, apalagi bayaran. Orang2 ini seharusnya lebih pantas dipilih sebagai Duta Wisata, karena dedikasinya terhadap daerah mereka. Tapi hal ini terpinggirkan, karena unsur ‘Beauty’ mungkin tidak ditemukan disini. Menurut saya itulah yg sangat disayangkan oleh penulis, dimana unsur Beauty lebih diutamakan daripada esensi dari fungsi Duta Wisata itu sendiri.

    Maaf kalo komennya panjang Bang..
    Cm nyampein unek-unek..
    Maju terus bang Sincan !!

  14. rame sekali yak diskusi di sini. hehe,..

    sebenernya cuma perlu membangun sebuah komunikasi yg lebih baik aja di antara institusi yg menaungi duta wisata dan masyarakat (termasuk di dalamnya traveler, blogger, fotografer dsb)
    saya yg orang magelang sendiri memang kurang paham dgn wisata yg ada di magelang, saya tdk tau siapa duta wisata magelang, serba tdk tau. saya sendiri sering bingung ketika mau berwisata di magelang. mungkin karena informasi akan wisata magelang yg masih minim.
    saya yakin mas farchan ini tdk meremehkan duta wisata, tujuannya baik, jelas agar duta wisata difungsikan sebagaimana mestinya yaitu sbg garda terdepan pariwisata, sbg sosok yg akan dicari pertama kali ketika ada yg bertanya ttg pariwisata.
    magelang itu punya potensi wisata yg besar, yg bisa jd PAD yg besar jg jika dikelola dgn baik. dan saya rasa ini bkn mustahil ketika semua pihak mau berusaha mewujudkannya salah satunya dgn menginformasikannya ke masyarakat.

    • betul sebenarnya dengan potensi pariwisata yang luas, Magelang bisa meraup keuntungan apabila dunia wisata dikelola dengan baik.
      nah, saya sepakat bahwa duta wisata adalah garda terdepan jika bertanya soal pariwisata, ya sesuai labelnya, dan seharusnya sesuai fungsinya.

  15. 1. Publikasi tentang para duta
    Saya sangat menyangsikan kalau Anda sudah mencari nama-nama Duta Wisata dan kiprahnya dalam google, bisa dicermati lebih lanjut nama-nama duta wisata, Duta Wisata Magelang dalam hal ini sangat banyak publikasi tentang kami (walaupun banyak juga kegiatan yang tidak dipublikasikan karena goal kami bukan menjadi artis yang tenar), nuwun sewu kalau Anda menanyakan kiprah saya, sangat takabur sekali klau saya menjelaskanya satu persatu, google memuat banyak kiprah duta wisata kota Magelang dari tahun ketahun kok, bila Anda cermat mengamatinya.

    2. Personal atau Penyelenggra
    jelas diawalnya Anda membicarakan tentang personal seorang Duta Wisata lalu kemudian dialihkan dengan menyalahkan penyelenggara yaitu Pemerintah Kota Magelang dan Dinas Pariwisata, berkaitan dengan hal tersebut saya sudah memberikan komentar-komentar Anda, beserta tulisan Anda ini ke pihak yang bersangkutan yaitu ke Bapak Walikota Magelang dan juga ke Dinas Pariwisata.
    Agar ditindak lanjuti artikel yang secara tersirat melibatkan banyak pihat (Duta Wisata Magelang, Duta Wisata daerah2 lain, Penyelenggara Duta Wisata)
    Kebebasan berpendapat di Indonesia sebaiknya tidak dimaknai dengan kebebasan menyebarkan informasi kurang benar dengan asumsi pribadi yang memperburuk citra suatu organisasi ataupun citra suatu daerah (dalam hal ini Anda tidak hanya berurusan dengan Para Duta wisata tapi juga dengan Pihak penyelenggaranya).

    3. Buku Potensi Pariwisata
    Dinas Kebudayaan dan priwisata Kota Magelang, dan juga Jawa Tenagh, membuat Visitor Guide dan juga buku-buku tenatng potensi Pariwisata yang dibagikan secara gratis, kalau ingin menerbitkan E-book mungkin materinya bisa didapatkan

    4. Komunikasi
    Sebenarnya Komunitas Duta Wisata, Dinas Pariwisata dan juga Komunitas Fotografi lainya sudah membangun komunikasi yang baik, dan melakukan kegiatan2 bersama, hanya karena ketidak tahuan dari penulis tiba2 meuncul artikel ini

    Saya harap dalam menulis artikel bisa lebih bijaksana dan melihat lebih dalam tentang fakta yang ada, apalagi Anda membicarakan banyak pihak terkait dan juga secara tidak langsung menjelekan nama pemerintah Kota Magelangs ebagai pihak penyelenggara

    • 1. mas saya bahkan sudah membaca blog anda, postingan terakhir adalah Oktober 2012. saya sarankan, karena media blog bisa menjadi sarana promosi wisata yang sangat mumpuni, perbanyak posting tentang Magelang, sebagai Duta, itu bisa menjadi sarana promosi yang ampuh. jangan dibiarkan berdebu blognya, sayang blog nya masih baru tapi sepanjang November belum ada postingan. ada komunitas blog Bala Tidar, kumpulan blogger Magelang jika ingin guyub dengan para blogger.
      2. Mas, tulisan ini bersifat kritik, saya tidak ada niatan untuk memperburuk citra suatu instansi apapun. Dan saya berterima kasih sekali karena sudah memberikan tulisan ini kepada pihak terkait, semoga ada perbaikan ke depannya.
      3. Betul mas, tapi salahkah saya kalau saya membuat sesuatu yang lebih fresh? mas bisa download buku #Magelangsidetrip yang saya buat bersama rekan-rekan traveler di blog ini.
      4. Maafkan saya jika saya memang tidak tahu..
      kemudian mas, jika dianggap menjelekkan. itu masalah persepesi semata, semoga tulisan bersifat kritik ini bisa membangun pariwisata ke depannya menjadi lebih baik.

  16. Hebat…sebuah diskusi yang semestinya sangat bernas. Mungkin diantara kita, sesama putra Magelang Raya, sangat jarang dijumpai adanya wadah komunikasi yang intensif untuk saling berdiskusi dan berbagi informasi, terkhusus forum ofline semacam sarasehan ataupun rembugan rutin diantara sesama warga Magelangan. Maka tidaklah terlalu mengherankan justru di tengah kemajuan era informasi seperti sekarang ini seringkali terjadi banyak miskomunikasi yang sebetulnya bisa dijembatani dengan saling share informasi itu sendiri.
    Dalam diskusi ini saya justru melihat bahwa kepedulian diantara putra Magelang untuk turut memberikan sumbangsih bagi kemajuan daerahnya sangat tinggi. Nah alangkah sangat lebih baik jika semangat itu disinergikan menjadi sebuah agenda ataupun program bersama untuk saling guyub, bahu-membahu, gotong royong dan saling memperkuat jaringan untuk kemajuan bersama. Diskusi semacam ini memang harus disikapi secara cerdas dan dewasa sebagai bagian dinamika untuk berproses menghasilkan sintesa-sintesa rumusan terbaik bagi pemecahan persoalan bersama.

    Salam Bala Tidar!

    • Setuju sekali dengan komentar Mas Nanang, sebagai sesama Putra Magelang yang berkomitmen dengan kemajuan Pariwisata Magelang, sudah sepatutnya hasil dari diskusi yang panas ini menghasilkan sesuatu yang berguna.
      Jika tadi mas Duta Wisata mengusulkan untuk membawa ini ketingkat yang lebih ‘serius’ saya rasa teman-teman blogger ini bakal sangat setuju. Mengingat selama ini kiprah mereka sering dipandang sebelah mata, kesempatan untuk bs berkomunikasi dengan Pemerintah merupakan sebuah kesempatan emas bagi para blogger untuk menyalurkan passion mereka Traveling dan Memajukan Daerah.
      Mungkin usul itu bs ditindak lanjuti sebagai wujud hasil positif dari diskusi ini.

      Sekali lagi, saya percaya, apa yang penulis sampaikan melalui blog ini merupakan sebuah kritik yang bertujuan untuk membangun, bukan saling menjatuhkan.

      Saya sedikit kecewa dengan komen sang Duta Wisata sendiri yg menurut saya kurang relevan dengan topik pembahasan, sebagai PR yang baik, seharusnya memiliki kemampuan complain handling yang baik pula, bukannya membalas dengan nada saling menyalahkan.
      Saya rasa salah satu fungsi Duta Wisata adalah menyambung elemen-elemen yg terkait dengan pariwisata, demi mencapai kemajuan. Bukan menciptakan perpecahan.

      Atau saya salah??

      • terima kasih Mas Nanang, saya masih menunggu kesempatan kita berjumpa dan ngobrol seperti saat Mas Nanang masih setia ber Budiman ria.
        makasih banyak mas, sarannya..akan sangat berguna dan saya kiira diskusi ini bisa menemukan solusi utama untuk Magelang ke depannya.
        saya gregetan je, melihat potensi Magelang yang luar biasa tapi kaya ga ada gregetnya..

  17. Diskusi yang seru… kadang memang sesuatu perlu dicambuk sedikit agar berubah :p

    Oke dalam pendapat saya keduanya dalam posisi pengen berkontribusi untuk kemajuan pariswata Magelang. Oke yang saya tangkap adalah ini soal efektivitas publikasi saja.

    Walau bukan satu-satunya media untuk berpromosi namun rating dalam index pencarian google sering dijadikan acuan untuk mendapatkan informasi. Tidak terkecuali oleh orang yang mencari informasi tentang destinasi wisata. Yang perlu diketahui adalah Google dan search engine lainnya mempunyai metode dalam merangking hasil pencarian. misal pageviews, linkback etc etc. jgn2 skrng pencarian Google soal Magelang skrng no.1 adalah ke Page diskusi ini gara2 aktivitasnya huahaha :p Tapi apa ini info yang bagus untuk promosi Magelang?🙂

    Jadi intinya begini, menurut saya yang dikatakan om Efener ini benar adanya, perlu adanya perubahan cara mengkomunikasikan wisata, khususnya di Magelang. Stakeholder yang punya kepentingan langsung dan juga data lebih valid berikut kekuatan (dana, personil etc) hendaklah jangan melupakan media Internet yang semakin lama semakin besar ini. Manfaatkan media ini dengan isi yang lebih mernarik, berkualitas dan tentunya Akurat tentang wisata Magelang, rangkulah juga komunitas pejalan, travel writer, fotografer dsb yg punya kapabilitas untuk memperkenalkan Magelang lebih luas lagi.

    Untuk Duta Wisata, memang efektivitas acara promosi kalian akan kalah telak dengan jumlah blogger yang rajin memberitakan perjalanan mereka. Selebihnya fungsi Duta wisata saya sepakat dengan bang Fakhri Zakaria diatas, manfaatkan posisi kalian sebagai PR yang seperti bang Fakhri bilang diatas dengan maksimal itu saja sudah cukup menurut saya🙂

    • wah, terimakasih analisanya.
      dari segi marketing di internet saya kira hasil pencarian internet adalah acuan apabila ingin melancong ke suatu daerah. jadi saya kira benar ,adanya jika memang perlu memanfaatkan media internet untuk optimalisasi promosi.ini peluang yang sebenarnya sangat besar.

  18. Mas Sinchan, mohon ijin space untuk menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan Mba Martina Fiani ya ..

    1. Kami memang dipilih menggunakan uang rakyat. Lebih baik uang pemerintah untuk membiayai kegiatan pemilihan pageants seperti ini atau digunakan untuk biaya rehabilitasi orang-orang yang terjebak narkoba?

    ** Mba Martina Fiani, pertanyaan pertama ini retoris sekali deh, menurut saya sih. Orang disodori pertanyaan seperti ini ya arah jawabannya jelas ke rehabilitasi pengguna narkoba ya. Dengan catatan, orang2nya tidak berorientasi pada eksistensi lho ya. Dan lagi, perbandingan “beauty peagant & rehabilitasi pengguna narkoba” bukan apple to apple ah, Mba.

    2. Menurut saya, duta wisata bukan sekadar orang yang ditunjuk untuk mempromosikan, tetapi mereka yang bisa dijadikan role model bagi pemuda – pemudi di sekitarnya, relakah Anda ketika melihat seluruh pemuda-pemudi di Indonesia raya berkaca pada pelaku seni ibukota?

    ** Role model ? Anda yakin, Mba Martina Fiani ? Masalahnya, saya coba tanya ke beberapa pemuda-pemudi Magelang yang masih berdomisili di Magelang tentang apakah mereka mengenal Anda, jawaban mereka nihil. Mereka tidak mengenal Anda, lalu bagaimana bisa mereka menjadikan Anda role model. Duh, bingung saya .. Lalu, tentang “berkaca pada pelaku seni ibukota”, yakin Anda tidak berkiblat pada mereka ? Saya kok kurang yakin ..

    3. Kami disini pemuda-pemudi yang berusaha bersama dalam melestarikan kebudayaan, jika jalan kami tidak didukung seperti ini, siapakah yang patut disalahkan ketika kebudayaan itu luntur?

    ** Saya boleh bertanya balik ya, apa yang harus kami dukung, Mba ? Sementara kami tidak mendengar apapun tentang apa yang Anda dan teman-teman lakukan. Ah, mungkin saya yang terlalu kuper tentang kabar-kabar kegiatan Anda ya. Maafkan ..

    4. Adakah pelaku wisata di Magelang atau di daerah lain yang tidak profit oriented? Tidak money oriented? Kalau ada boleh saya minta kontak orang tersebut?

    ** Kalau tulisan-tulisan saya tentang Magelang yang memang belum banyak bisa membuat saya Anda sebut pelaku wisata di Magelang, silahkan, ini no kontak saya : 085228892868. Anda bisa hubungi saya, Mba. Saya bermimpi wisata Magelang bisa cemerlang, usaha yang bisa saya lakukan adalah menulis dan mengabarkannya pada banyak orang. Belum banyak, tapi saya berusaha. Dan saya TIDAK MONEY ORIENTED. Saya berseberangan dengan Anda, Mba Martina Fiani, masih ada ratusan bahkan ribuan teman-teman Magelangers lainnya yang tidak pernah masuk kancah per-Duta Wisata-an, namun tetap peduli dengan kondisi wisata Magelang, tanpa harus mikir PROFIT/MATERIAL/DUIT ..

    Sekian.
    Terima kasih.

  19. permisi, urun rembug dengan harapan bisa membantu. saya bukan penduduk magelang namun fenomena ini juga terjadi di kota tetangga magelang tempat saya dibesarkan. (yang jelas di jawa tengah alias salah satu tanggung jawab mas andre selaku ketua paguyuban untuk membaca tulisan ini dengan seksama)

    setelah mengikuti artikel beserta diskusi disini ada yang menggelitik, apakah segudang prestasi.. umm, maaf sebelumnya, apa benar itu prestasi, mengingat imbasnya tidak menyeluruh kepada seluruh pihak yang terlibat di dunia wisata. menambahi tanggapan dari mas regy. prestasi duta yang dipresentasikan secara apik oleh agensinya yaitu mas andre berupa promosi ke luar negeri saya rasa memiliki kesan terlalu terburu-buru mengglobal, maksud saya “think locally first” . apakah anda sekalian (duta wisata) sudah cukup yakin dengan bekal kearifan lokal yang akan kalian bawa ke ranah global. saya rasa belum, karena jika kalian ini adalah pihak yang cukup mumpuni sebagai teladan kearifan lokal, sepertinya tidak akan muncul diskusi yang menarik ini, tidak akan muncul komentar pedas semacam “cuma ngabis2in duit doang” , “emangnya mbak martina ini siapa sih, saya malah belum pernah tau sepak terjang mbak di magelang ?” dan sebagainya.

    belajarlah untuk “melokal” terlebih dahulu, sepertinya daya tenaga duta wisata dan biaya pemerintah yang terbalut didalamnya bisa lebih bermanfaat jika dimanfaatkan untuk “seminar anti perusakan obyek wisata” misalnya, karena seperti yang kita ketahui masih banyak masyarakat yang belum sadar betapa berharganya peninggalan budaya. kalian mempromosikan borobudur (misal) ke orang bule dan mereka berdatangan kemari, namun bagaimana kesan mereka jika masih ada sampah berserakan di obyek wisata hingga bule itu bersungut – sungut dan menyebarluaskannya ke kerabat bulenya ? jadi buat apa kalian ini promosi ke global ? sebenarnya logika polos pun jadi : ‘bule tu ga usah dikasih promo, klo emang mereka tertarik mereka pasti bersedia dengan senang hati dateng kesini (bahkan hingga hidup disini)’

    atau mungkin mbak/mas duta wisata bisa mencoba menjadi penjaga loket atau cleaning service obyek wisata selama seminggu misalnya, supaya paham masalah apa yang muncul di sebuah obyek wisata. hal itupun menurut saya lebih riil ketimbang ‘prestasi yang tidak harus ditakaburkan’ .. iyung alahh.. kalian ini dibiayai rakyat cuma buat diem – diem nyimpen foto kalian saat melakukan kegiatan yang berkaitan dengan KEDUTAAN ? kedutaan melakukan sesuatu diem – diem ? bwahhh,

    lakukan sesuatu yang imbasnya langsung, seorang duta patutnya dikenal oleh semua pihak dunia wisata karena sumbangsihnya. jangan sampai, ups. atau jangan – jangan mas / mbak duta wisata ini belum kenalan sama penjaga loket borobudur ? oh, ga penting ya ? yang penting kenalan ama bule yang fungsinya diajak foto bareng ?

    “kami membuat program penyuluhan pariwisata, kami melakukan edukasi pentingnya Bahasa Inggris tidak hanya di Kota Magelang saja, kami melakukan workshop dan seminar batik” << patut dipertanyakan karena beritanya ga ada. yah, namanya juga duta diem – diem :p

    • Kearifan lokal selalu menjadi landasan untuk dipelajari lebih lanjut sedangkan strategi pengenalan “think locally first” . ataupun “think globaly” first merupakan startegi pemasaran yang sudah lama ditinggalkan karena tridak bisa menjawab kemajuan jaman, apa yang dilakukaan oleh pihak pemerintah daerah ataupun pihak Duta Wisata adalah melakukan startegi yang disebut GLOKALISASI (Global dan Lokal ) menggali kearifan lokal terus menerus serta berusaha menjalin relasi masyarakat lokal, selain itu juga membuat masyarakat global mengenal dan kemudian mau mencintai potensi Lokal

      Publikasinya ada banyak di media cetak mungkin bisa mampir ke Dinas Pemuda OlahRaga, Kebudayaan dan pariwisata Kota Magelang di JL Gatot Subroto,

      ide2 dan masukan tentang Borobudur mungkin bisa berkomunikasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Magelang,
      Setiap kegiatan yang ada di Borobudur Duta Wisatapun selalu terlibat dalam kegiatanya.

  20. Sebelum Anda menyalahkan mungkin bisa dicermati apa akar permasalah ini, akar permasalahan ini ada pada ketidak tahuan penulis tentang apa yang telah dilakukan oleh Duta Wisata dan juga pendapat penulis yang jelas-jelas menyalahkan personal dan penyelenggara Duta Wisata, bukan ingin memecah belah akan tetapi ingin membenarkan paradigma.

    Ketika Anda berbicara tentang PR,fungsi PR bukan hanya menjadi jembatan, akan tetapi sama PR juga berfungsi sebagai image builder dari organisasi/ instansi yang diwakili. Fungsi sebagai jembatan saya lakukan dengan menghubungkan penulis dengan pihak terkait dan dengan para duta wisata lainya, sedangkan fungsi sebagai image builder saya lakukan dengan klarifikasi miss-understanding dari minimnya informasi dari penulis sendiri.

    Akan lebih bijak jika Anda mencari akar permasalahan dari awal dan memberikan solusi ataupun informasi yang tepat berkaitan denagn permasalahan tersebut, bukanya mengomentari pendapat yang tidak akan berkesudahan.

    Blogger yang dipandang sebelah mata saya yakin hal tersebut hanyalah asumsi belaka, berkaitan dengan studi saya di marketing communication dan juga sebagai wujud pengabdiuan kepada Jawa Tengah. Saya melakukan survei tentang Efektivitas Marketing dalam kaitanya dengan jumlah wisatawan. E-MArketing atau marketing berbasis internet menjadi jawaban startegi yang harus digunakan, hal tersebut dikarenakan akses informasi yang diperoleh oleh wisatawan, 86% berasal dari internet dari pengalaman para traveler dan juga dari blog pariwisata ataupun jejaring sosial.
    Pihak pemerintah daerah ataupun provinsi setahu saya tidak pernah memandang remeh para blogger, karena saya juga adalah seorang blogger jadi saya serara pribadi selalu mengapresiasi kiprah para blogger, tentu saja blogger yang memiliki visi positif dan dapat bekerjasama dalam kegiatan online ataupun offline. Dan tentu saja blogger yang dapat bekerjasama dengan instansi swasta maupun pemerintah, bukan yang menyudutkan salah satu pihak dikarenakan minimnya informasi yang diperoleh.

    Menurut pendapat saya secara pribadi, tulisan ini bila ditanggapi tidak akan ada habisnya, paradigma yang berbeda menjadi landasan perbedaan pendapat yang ada,
    Alangkah lebih bijaknya bila tulisan ini disudahi dan social violence berupa kata2 sindirian serta kata2 kasar di sosial media sekalipun disudahi, karena tidak menghasilkan apa-apa dan hanya memicu perselisihan lebih lanjut. Bagi empunya blog bila sudah menyadari kekurangan informasi dan artikel yang anda tulis kurang tepat, semoga bisa direvisi.

    Bagi yang memberi komen tentang apa yang saya tulis ataupun asumsi2 anda sekalian, saya rasa bisa melihat akar permasalahan yang sebenarnya serta apa yang ingin Anda lakukan? Mau mengembangkan Pariwisata?Mau meklestarikan budaya?

    Apakah caranya dengan memberikan komentar seprti itu kepada para Duta Wisata?

    Sejalan dengan yang dikatakan oleh mas Nanang akan lebih baik bila ada forum komunikasi agar mencapai suatu tyujuan yang lebih berguna dari pada sekedar debat kusir

  21. Tahun 1990 Pemilihan Mas Jateng yang pertama Kali dilakukan, sempat fakum beberapa saat dan sekitar tahun 1997 pemilihan Mas Mbak Duta Wisata Jawa Tengah diadakan lagi, kemudian tahun 2005 kami mulai membuat paguyuban dan bergerak sedikit demi sedikit.
    Lalu apakah dengan munculnya kami menjadi sebuah kerugian buat Anda sekalian? kalau memang Anda sekalian benar-benar ingin menggembangkan Pariwisata bersama mengapa tidak berusaha saling mendukung dan memberikan masukan yang lebih positif daripada sekedar sindiran yang dilontarkan terus-menerus.
    Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai dan melestarikan budayanya. Pemuda sebagai fondasi pembangunan bangsa selalu disarankan dan didorong untuk turut aktif dalam pengembangan dan memupuk rasa cinta terhadap tanah air dan budaya bangsa, lalu
    Ketika ada Ajang positif untuk mewadahi pemuda untuk mengembangkan pariwisata dan budaya, mengapa Anda lebih memilih untuk mencerca dari pada mengajak bekerjasama?

    inikah yang dinamakan mental Bangsa Indonesia? Saling Sirik? Saling menjatuhkan? Merasa Benar Sendiri?

    Jawabanya BUKAN

    Bangsa Indonesia dilahirkan dengan Mental mau membantu satu sama lain. Orang yang tinggal di Tanah Jawa memiliki nilai filosofi dan menghargai sesama yang tinggi; menggenal unggah ungguhing Basa, mengenal Tepa Salira, mengenal Andhap Asor dan terus saling bergotong Royong, nilai2 tersebut yang saya dapatkan dari hidup di Tanah Jawa selama 22 tahun ini.

    Para Blogger, teman-teman sekalian, pertama saya ingin meminta maaf apabila ada kata yang kurang berkenan, akan tetapi saya memohon dengan sangat agar Anda sekalian memikirkan juga bagaimana perasaan para pemuda generasi penerus bangsa tersebut, mereka mengambil jalan sebagi Duta Wisata, berusaha ambil andil dalam penmbangunan budaya dan wisata, berusaha mencintai warisan budayanya, tapi harus merasakan sindirian disana dan disini.

    Saya berusaha menjaga dan menggerakan pemuda di Jawa tengah dan juga di Magelang, terus menginspirasi dari sosial media maupun dari kegiatan- kegiatan, melakukan yangs aya mampu dan saya bisa, untuk apa? Untuk membalas Jasa Tanah Jawa yang sudah membiarkan saya hidup, tinggal dan juga memetik banyak nilai dan filosofi hidup.

    Saudara2ku para penggerak wisata, saya ini bukan orang Jawa, saya orang China asli, masih generasi pertama. sanak saudara saya banyak yang dibantai, dan juga didiskriminasi, tapi saya memiliki rasa trima kasih yang begitu besar dan mau berusaha untuk memajukan tanah kelahiran saya di Jawa Tengah, di Magelang Kota kelahiran saya.

    Kalau saya yang bukan penduduk lokal saya mau berusaha sedemikian hingga memajukan pariwisata dan budaya, mengapa Anda sekalian yang merupakan orang Jawa yang benar-benar dititipi warisan budaya yang begitu banyak tersebut malah memecah belah satu sama lain?

    Berkaca dari tulisan ini, saya harap kedepanya bisa ada komunikasi yang baik antara para duta wisata, pelaku

  22. Tahun 1990 Pemilihan Mas Jateng yang pertama Kali dilakukan, sempat fakum beberapa saat dan sekitar tahun 1997 pemilihan Mas Mbak Duta Wisata Jawa Tengah diadakan lagi, kemudian tahun 2005 kami mulai membuat paguyuban dan bergerak sedikit demi sedikit.
    Lalu apakah dengan munculnya kami menjadi sebuah kerugian buat Anda sekalian? kalau memang Anda sekalian benar-benar ingin menggembangkan Pariwisata bersama mengapa tidak berusaha saling mendukung dan memberikan masukan yang lebih positif daripada sekedar sindiran yang dilontarkan terus-menerus.
    Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai dan melestarikan budayanya. Pemuda sebagai fondasi pembangunan bangsa selalu disarankan dan didorong untuk turut aktif dalam pengembangan dan memupuk rasa cinta terhadap tanah air dan budaya bangsa, lalu
    Ketika ada Ajang positif untuk mewadahi pemuda untuk mengembangkan pariwisata dan budaya, mengapa Anda lebih memilih untuk mencerca dari pada mengajak bekerjasama?

    inikah yang dinamakan mental Bangsa Indonesia? Saling Sirik? Saling menjatuhkan? Merasa Benar Sendiri?

    Jawabanya BUKAN

    Bangsa Indonesia dilahirkan dengan Mental mau membantu satu sama lain. Orang yang tinggal di Tanah Jawa memiliki nilai filosofi dan menghargai sesama yang tinggi; menggenal unggah ungguhing Basa, mengenal Tepa Salira, mengenal Andhap Asor dan terus saling bergotong Royong, nilai2 tersebut yang saya dapatkan dari hidup di Tanah Jawa selama 22 tahun ini.

    Para Blogger, teman-teman sekalian, pertama saya ingin meminta maaf apabila ada kata yang kurang berkenan, akan tetapi saya memohon dengan sangat agar Anda sekalian memikirkan juga bagaimana perasaan para pemuda generasi penerus bangsa tersebut, mereka mengambil jalan sebagi Duta Wisata, berusaha ambil andil dalam penmbangunan budaya dan wisata, berusaha mencintai warisan budayanya, tapi harus merasakan sindirian disana dan disini.

    Saya berusaha menjaga dan menggerakan pemuda di Jawa tengah dan juga di Magelang, terus menginspirasi dari sosial media maupun dari kegiatan- kegiatan, melakukan yangs aya mampu dan saya bisa, untuk apa? Untuk membalas Jasa Tanah Jawa yang sudah membiarkan saya hidup, tinggal dan juga memetik banyak nilai dan filosofi hidup.

    Saudara2ku para penggerak wisata, saya ini bukan orang Jawa, saya orang China asli, masih generasi pertama. sanak saudara saya banyak yang dibantai, dan juga didiskriminasi, tapi saya memiliki rasa trima kasih yang begitu besar dan mau berusaha untuk memajukan tanah kelahiran saya di Jawa Tengah, di Magelang Kota kelahiran saya.

    Kalau saya yang bukan penduduk lokal saya mau berusaha sedemikian hingga memajukan pariwisata dan budaya, mengapa Anda sekalian yang merupakan orang Jawa yang benar-benar dititipi warisan budaya yang begitu banyak tersebut malah memecah belah satu sama lain?

    Berkaca dari tulisan ini, saya harap kedepanya bisa ada komunikasi yang baik antara para duta wisata, pelaku wisata, masyarakat, pihak pemerintah dan pihak-pihak lain yang ingin emngembangkan pariwisata, melestarikan budaya, untuk Magelang, untuk tanah Jawa, untuk tanah kelahiran kita dan untuk INDONESIA

    Mari bekerjasama untuk membentuk masa depan yang lebih baik

  23. Permisi, mas mas mbak mbak ikut komentar. Saya cuma pembaca yang sangat minim kontribusi terhadap dunia pariwisata. Sebut saja penonton. Saya tidak akan mengkritisi secara mendalam hanya saja mungkin memang sudah saatnya instansi yang in charge dalam dunia pariwisata indonesia dalam menyelenggarakan lomba duta-dutaan ini memperluas kriteria pesertanya. Hal ini mengingat yang mampu menjadi image builder seperti kata mas Andre dapat berasal dari banyak golongan. Blogger, pejalan, seniman, dan lain-lain. Menurut saya jika hal ini diterapkan, maka ajangtersebut akan lebih terasa sebagai ‘pemilihan duta wisata’, nyuwun sewu nggih, pemilihan ajang duta wisata sekarang di berbagai daerah lebih mirip lomba modelling😐

  24. mas andre yang budiman. saya kira pembicaraan ini sudah melebar kemana-mana, pada intinya tulisan ini bersifat kritik, kritik membutuhkan klarifikasi dan dalam hal ini saya sudah sangat berterima kasih mas andre bersedia panjang lebar memberikan klarifikasi dan saya sudah mendapatkan pencerahan dari mas.
    saya akan sangat berterima kasih jika kita bisa bekerja sama, karena saya dan teman-teman traveler sedang membuat sebuah proyek wisata untuk Magelang Raya.🙂

  25. makin ke bawah makin ndak mudeng saya bacanya, kok ya sampe bawa etnis. ini kan pariwisata, bukan bahas etnis. maaf nek salah, wong IQ ku tiarap.

    aslinya itu ga ada yg saling menyalahkan, tulisane jelas bgt kalo si mas efenerr ini pengin wisata di magelang ini didongkrak naik dgn duta wisata, tp dgn perbaikan sistemnya.

    trus mas andre nek punya info mbok ya disebarin, ben warganya juga tau, nyebarin info itu bukan bagian dari takabur kok, tinggal niate wae, inna ma a’malu bin niat. nek niate apik insya Alloh dapet pahala kok.

    ini maaf bgt ya kalo aku ga mudengan, IQ ku tiarap.

    menyikapi apa yang diutarakan mas andre itu, menurut saya luar biasa mas, ternyata programnya dispora itu banyak, tapi juga nyuwun sewu mas, wong2 cilik apalagi IQ nya tiarap macam saya ini jarang bgt tau kegiatannya, lha ngenet wae jarang, ga biasa selancaran alias surfing di dunia maya, kami lebih seneng nongkrong di pos kamling, kalo ndak ya hangout di pasar buat saling sapa, tp sayangnya ndak ada mbak2 ayu sing dadah-dadah di pasar buat promosi masalah wisata, jd ya mohon dimaklumi nek saya ndak tau infonya dari dispora.

    ya ada baiknya kalo pihak pemkot lebih gencar nyebarin infonya ke rakyat jelata macam saya, biar saya ndak melulu ke kyai langgeng, alun-alun, atau ba’daan,mentok2 yo nang pisangan trus ciblon kalo liburan. aku yo seneng mas kalo tau ada tempat lain yg bisa dibuat plesiran di magelang. kan asyik kalo aku bisa ngajak cah2 ayu dari daerah lain mampir di magelang, iso terkenal mas aku. hehe..

    ngapunten nggih kalo komenku ini ndak berbobot, lha yo ngerti sendiri kenapa. komen ku ndak usah dipikir berat-berat mengko mandan IQ ne jadi tiarap kyk aku.

    matur nuwun.
    dadah sik ben koyo duta wisata. (^_^)/ (^_^)| (^_^)/

  26. hahaha duwis cuma teori di mana bukti nya? pemenang biasanya cuma sok sok an, setelah menang tong kosong berbunyi nyaring, bosok bener

    • mas bimo, monggo disimak pemaparan yang diberikan oleh mas andre wijaya di posting sebelumnya
      mungkin sedikit ilustrasi bagi mas agar lebih mengerti kaitan dengan bukti yang mas ingin lihat
      hal tersebut saya rasa cukup jelas pemaparannya, dan saya harap agar tidak memperkeruh suasana,,
      lebih baik kita bersama-sama berkontribusi bagi pengembangan pariwisata ketimbang hanya memberikan cacian,,
      matur nuwun

  27. hahaha..makin lama jadi makin lucu deh..😀

    saya mau menanggapi dikit pernyataan dari mas andre wijaya binarto. jadi gini mas, saya paham..posisi anda di duta wisata merupakan sebuah posisi yang amat mulia, dan mungkin sangat terhormat. yang ingin saya garis bawahi disini adalah, mas efenerr sebagai pemilik blog sekaligus tulisannya, adalah seorang warga magelang yang mempunyai semangat dan concern seputar pariwisata di magelang (saya juga orang magelang lho..🙂 begitu pula Anda juga pemerhati dunia pariwisata karena posisi anda sebagai ketua ikanas duta wisata jateng.Oke, 2 2nya sama2 punya niat baik untuk memberikan andil positif dalam dunia pariwisata. Mas efenerr ini (yang saya yakin juga representasi dari sebagian masyarakat umum) sebenernya memberikan masukan buat industri pariwisata dengan pemikirannya terhadap duta wisata. Toh hal itu sah sah saja kan? sebagai warga negara indonesia siapa saja bebas berpendapat dan beropini. Justru dengan opini dari mas efenerr kita menjadi lebih introspeksi dan care terhadap pariwisata di Indonesia.
    Kalo mas efenerr kurang / minim informasi tentang duta wisata, saya rasa hal itu sangat wajar mas. Saya ambil posisi mas farchan (dan saya juga) itu sebagai orang awam. kalau mas membaca keseluruhan komentar blog ini, dan merenungkan isinya, dengan kepala dingin lho ya, maka mas akan membaca banyak orang yang sependapat dengan mas efenerr. Intinya, adalah kurangnya informasi mas…mohon digarisbawahi. Informasi ini adl supaya ajang duta wisata yang ada di kota kita bisa menjadi ajang yang benar2 dapat mempromosikan dan memperkenalkan magelang sebagai kota wisata yang memang layak dikunjungi. Tapi saya tidak mau menyalahkan siapa2, tidak ada yang perlu kita salahkan. Kan sudah saya bilang 22nya sama2 punya concern untuk memajukan wisata.
    Jadi, intinya mari kita bangun komitmen bersama. Antara semua pihak yang terkait dan memiliki antusiasme yang tinggi untuk sama2 mempromosikan kota kita, magelang tercinta. oh ya mas, kalo masnya mau ngasih tulisannya mas efenerr ke bupati/walikota, saya nitip juga dong tulisan saya (comment saya) ini. ini juga masukan lho supaya ada koordinasi dari pihak disbudpar kepada “wajah baru” duta wisata yang concern memperkenalkan mgelang di dunia maya, yaitu para blogger, pejalan, dan pelaku seni seperti kata mas efenerr. Karena tidak bisa kita pungkiri bahwa di era sekarang kita harus sudah mulai beralih ke teknologi.

    metursuwun..salam🙂

  28. beginilah,susahnya,,,chan hidup di indonesia.mau jd duta wisata kan di bayar,,, anak sd aja mau kok buat beli es pong.
    cb untuk mereka yg merasa “aktif” di pariwisata magelang,,, aku mau nanya sama mereka, ada berapa sih candi di magelang,sebutkan nama dan lokasi nya. gak bisa jawab ke laut aja sono.mampus makan duit pajak motor gua.
    love magelang(walaupun aku sekarang di riau)

  29. Hmmm… masih pada sibuk bahasa duta wisata toh? Yang jadi duta wisata menjawab dengan pertahanan diri, yang penonton duta wisata saling mengkritisi.. ;D
    yang seharusnya bisa diambil kesimpulan di sini, sebaiknya mas duta mengakui saja peran duta wisata memang tidak begitu banyak dalam memajukan industri pariwisata lokal (saya berbicara tentang kota Magelang). Kenyataannya? Yaaahh penonton2 duta wisata Magelang seperti kami ini buktinya, ya kaaan? Istilahnya, mas duta ngaku2 menanam sejuta bunga ;D, tapi gak ada yang lihat.
    Kacau deh..

    Saran saya, mas duta bilang aja.. “Iya, kami akui peran duta wisata memang sangat kurang bagi khalayak ramai. Semoga kritik anda bisa meningkatkan mutu dan kualitas. Oh ya.. ini blog saya di http://www.dutawisataaktif.com, dan buku-buku yang saya terbitkan tentang Magelang adalah Magelang Sejuta Bunga. Lagi, saya juga aktif dalam men-translate brosur-brosur wisata Magelang ke Bahasa Inggris. Saya posting ke web juga..”

    Nah kalau mas duta jawabannya gitu kan, penonton semua akan segera ber-aaahh.. dan ooohh, setuju. Dan akhirnya diskusi benar-benar menjadi diskusi. Tidak debat sana-sini, membela hal yang tidak ada hubungannya. ;D

    Oh ya, btw, kalau di Solo, duta wisata benar-benar didayagunakan lhoo (saya domisili di Solo). Mereka sering diminta menjadi MC-MC acara pemkot, menyelenggarakan acara-acara atau festival-festival di kota. Jadi saya bisa bilang pendapat saya objektif, Duta wisata Magelang memang belum apa-apa ;D….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s