Tentang Pilihan Untuk Tidak Membuat Itinerary

Saya selalu kebingunan saat seusai, sedang atau menjelang melakukan trip ada yang bertanya soal itinerary trip saya. Kebanyakan pertanyaan tersebut tidak saya jawab dengan memberi si penanya itinerary trip, tapi ucapan maaf karena saya tidak bisa memberikan itinerary yang diminta. Ya, bagaimana saya bisa memberikan itinerary, karena bahkan saya sendiri tidak membuat itinerary untuk perjalanan saya.

Ya, begutulah saya, dalam setiap perjalanan jarang sekali saya membuat itinerary. Yang pertama adalah saya mempunyai prinsip/pemikiran, sebagus, seistimewa, sesempurna itinerary yang saya buat, pasti masih akan kalah dengan informasi dari orang lokal. Yang kedua, saya tidak mau perjalanan saya dikekang oleh itinerary, keharusan untuk mengunjungi objek satu atau objek lain yang justru membuat perjalanan saya tidak bebas. Yang ketiga, saya tidak mau merasakan rasa kecewa karena tidak mampu mengunjungi objek sesuai itinerary. Daripada kecewa, lebih baik saya tidak membuat itinerary, dengan begitu saya bebas, tidak harus mengunjungi tempat A,B,C,D dan apapun tempat yang saya kunjungi akan menjadi sebuah pengalaman yang istimewa.

Saya bukan orang yang terpaku pada objek kunjung. Saya adalah seseorang yang sering mengamati hal-hal baru di tempat tujuan, mencatat kebiasaan-kebiasaan orang-orang, mengamati budaya dan mempelajari sejarah tempat tersebut. Dengan tanpa itinerary saya berupaya membebaskan pola pikir bahwa perjalanan itu melulu soal tempat, bahwasanya pasar kumuh bisa jadi tempat menarik, atau bangunan tua hampir ambruk bisa menjadi harta karun dalam perjalanan saya.

Lalu bagaimana saya bisa berjalan-jalan tanpa itinerary.  Kuncinya hanya satu, relasi. Biasanya sebelum melakukan perjalanan saya akan mencoba menghubungi rekan sejawat di tempat tujuan. Alhamdulillah, teman-teman saya kuliah lalu berdiaspora hampir ke seluruh Indonesia. Saya kemudian meminta rekomendasi apa yang menarik disana, apapun itu, bisa tempat, bisa kuliner, bisa budaya. Semuanya. Menggali informasi dari teman yang tinggal disana, akan lebih memberikan hasil yang menarik daripada bertanya pada mesin pencarian seperti Google. Karena mereka sudah lebih akrab dengan kondisi disana, tahu dan mengerti benar kondisi disana, tentunya saran-saran teman-teman saya pasti paten.

Mulai dari Bali, Lombok, Palembang, sampai Jepang, tidak ada itinerary yang saya buat. Saya mengunjungi tempat – tempat wisata setelah saya bertemu dengan teman-teman saya, setelah bercengkerama bersama. Terkadang kita bisa bersama-sama mengunjungi tempat tersebut, terkadang sendiri.

Oleh sebab itu dalam setiap perjalanan, saya bisa jadi hanya sedikit sekali mengunjungi lokasi. Ya, tidak lain karena saya memang tidak menetapkan target untuk mengunjungi tempat tertentu. Bukankah bisa berjalan-jalan itu sudah sebuah anugerah? Biasanya ritme perjalanan saya akan sangat lambat, cenderung santai. Tidak tergesa untuk bangun pagi mengejar sunrise misalnya dan juga tidak diburu waktu mengejar sunset. Ya, karena itu tadi, ada banyak hal yang menarik lainnya bagi saya.

Saya percaya 100 persen atas rekomendasi teman-teman saya, mereka lebih menguasai daerah daripada saya ataupun tulisan-tulisan di mesin pencarian. Mereka lebih mengerti detail dan seluk beluk daerah dibandingkan lonely planet sekalipun. Dan kepercayaan saya biasanya berbuah manis, perjalanan saya Alhamdulillah selalu memberikan pengalaman yang berbeda dan membuat saya tersenyum.

Percaya dengan teman, kemudian bertemu dengan teman yang tinggal di tempat tujuan, akan mempererat kembali tali silaturahmi, menjalin lagi keakraban karena lama tidak berjumpa. Dalam setiap perjalanan, saya kembali tertawa bersama dengan teman-teman kuliah dulu, bisa mengenang masa-masa kuliah dulu. Dan jika itu terjadi, bertemu dengan teman-teman lama adalah kebahagiaan tertinggi dalam setiap perjalanan dan objek-objek wisata hanyalah bonus perjalanan.

Bagi saya, berjalan tanpa itinerary memberikan saya pengalaman baru, memberikan sensasi berdebar-debar karena kita tidak tahu kemana akan melangkah. Jika terpaku mengikuti itinerary yang dibuat detail, lalu apa bedanya dengan robot? Bukankah kita manusia yang bebas menentukan kehendak kita sendiri?

Tapi ini saya, bagaimana dengan anda?

Tabik.

13 thoughts on “Tentang Pilihan Untuk Tidak Membuat Itinerary

  1. saya selalu mencoba untuk seperti kamu mas, tapi rasa gatal untuk melihat informasi dari mesin pencari itu benar-benar mengganggu, saya tidak tahu kenapa, mungkin karena rasa penasaran atau rasa takut akan kondisi yang tak terduga..

    btw, baca pos ini malam-malam membuat saya berpikir ulang makna jalan-jalan.
    thx buat posnya

    • terima kasih sudah membaca blog saya.
      mungkin gaya jalan-jalan satu orang dengan yang lain berbeda.
      nah, yang penting adalah bagaimana menikmatinya.

      selamat berjalan-jalan.

  2. “Jika terpaku mengikuti itinerary yang dibuat detail, lalu apa bedanya dengan robot? Bukankah kita manusia yang bebas menentukan kehendak kita sendiri?” –> SETUJU banget kalimat ini.

    Dulu saya juga pernah terpaku dengan itinerary dari bbrp buku panduan yg membeberkan itin lengkap beserta “harus” milih hotel ini, “harus” mampir ke objek ini, “harus” makan ini… Setelah sekali jalan dengan cara demikian, akhirnya sadar…bahwa dengan jalan ter-itin atau nyontek perjalanan orang lain membuat saya jadi robot dan lupa akan hal-hal yang harusnya bisa diperhatikan saat di jalan. Akhirnya beberapa kali saya jalan tanpa itin yang mengengkang, dan terasa lebih nyaman dan santai…
    Jalan tanpa itin membuat jadi makin peka dgn hal seperti rasa kekeluargaan dengan sobat/ keluarga saat jalan bareng, interaksi dengan penduduk lokal, nyasar tak kenal arah yang bikin semakin terasa “adventure”-nya…dan kejutan-kejutan di jalan lainnya.🙂

    • ya mas halim..
      betul sekali, itu juga yang saya rasakan..
      manfaatnya juga sangat banyak..
      saya setuju, akan lebih banyak hal yang saya dapatkan, namun tentunya tidak semua bisa mengikuti gaya jalan-jalan tanpa itinerary ini.

  3. sering buat itinerary buat perjalanan panjang. soalnya uang yg saya punya dikit hehe.. jd itinerary yg saya buat lebih untuk membantu budget-ing saya aja. Soalnya pernah, males ngerencanain malahnya jadi tekor,.. di sisi lain asik sih cuma jd nya malah bingung.
    Jd itinerary dibuat itu semata2 untuk mencari ide saja tempat apa yg asik dan akan memakan budget brp..

  4. itinerary, buat saya penting. khusus untuk pendakian atau kegiatan tebas alam. dan biasanya itinerary untuk kegiatan macam ini sedikit berbeda dengan itinerary untuk trip wisata ke kota. lebih ke arah untuk menentukan kapan waktu istirahat dan kapan waktunya untuk bergerak lagi. saya sendiri tidak pernah pakai itinerary untuk trip ke sebuah kota. mending jalan dengan spontan, tapi paling tidak ada batasan sederhana tentang perjalanan agar waktu tidak terbuang percuma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s