Kisah Peziarah

Foto diatas adalah Senad Hazic, seorang pria dari Bosnia Herzegovina yang bersujud setelah berhasil mencapai perbatasan Saudi Arabia dengan berjalan kaki. Ribuan kilometer Senad tempuh setapak demi setapak demi tujuannya menuju Baitullah menunaikan ibadah haji.

Aktivitas para pejalan seperti Senad disebut Pilgrimage yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Ziarah. Secara umum pilgrimage adalah aktivitas mengunjungi tempat tempat suci agama/kepercayaannya (biasanya jarak jauh dan ditempuh dalam waktu yang lama) sebagai tindakan ketaatan dan mempertebal iman.

Para pelaku pilgrimage disebut pilgrim / peziarah adalah para pejalan yang melakukan praktek pilgrimage. Mereka biasa menempuh jarak ratusan kilometer menuju tempat-tempat suci sesuai agama dan kepercayaan mereka. Bagi kaum pilgrim konservatif biasanya mereka menempuh perjalanan tersebut dengan berjalan kaki.

Pilgrim/Pilgrimage adalah salah satu bentuk seni perjalanan paling tua yang masih terus ada sampai sekarang. Dimulai dari sejak adanya agama maka tradisi pilgrimage pun dimulai. Manusia akan berkelana menuju tempat-tempat suci sesuai agama dan keperceyaannya. Secara garis besar ada beberapa tempat tujuan pilgrim yang terkemuka di dunia, bagi umat Islam tentu saja tujuan utamanya adalah Mekah, bagi umat Hindu mereka menuju Varanasi, dan bagi penganut Kristiani dan Yahudi mereka akan menuju Yerussalem.

Seiring perkembangan zaman, pelaku Pilgrim tak hanya melakukan perjalanan menuju tempat yang menunjukkan entitas suci agama/kepercayaan mereka. Namun juga berubah sesuai perkembangan jaman, beberapa jenis pilgrimage juga bervariasi seperti napak tilas perjalanan tokoh-tokoh suci dan/atau mengenjungi situs tokoh terkemuka yang dianggap suci.

Apa yang dilakukan oleh para Pilgrim tidak bisa disamai oleh traveler manapun. Mereka memiliki keteguhan, keikhlasan dan motivasi yang tidak dimiliki oleh traveler lain. Tujuan mereka adalah Tuhan, motivasi mereka adalah mendapat berkah Tuhan, bekal mereka adalah Iman dan teman sepanjang perjalanan mereka adalah keikhlasan. Itulah mengapa di mata orang normal perjalanan kaum Pilgrim tampak tak masuk akal, namun bagi pelaku Pilgrim mereka tampak bahagia melakukannya karena Tuhan selalu bersama mereka dan mereka percaya perjalanan mereka akan selalu dilindungi oleh Tuhan.

Di mata agama saya, Islam. Pilgrimage dijunjung tinggi dan merupakan salah satu dari 5 kewajiban utama umat Islam, yaitu berhaji. Haji adalah kewajiban paripurna, yang menuntut keikhlasan, bagi mereka yang mampu dan bagi mereka yang sudah terpanggil. Perjalanan menuju haji pun tidak mudah, dan kadang pengorbanan yang dilakukan untuk berhaji pun luar biasa, seperti kisah Senad yang berhaji dengan berjalan kaki dari Bosnia Herzegovina ke Saudi Arabia.

Praktek kuno Pilgrim yang teguh melakukan perjalanan berjalan kaki bahkan masih hidup sampai sekarang. Salah satu yang terkenal adalah napak tilas perjalanan Santo Yakobus. Bagi umat Katolik, rute Pilgrim tadi adalah rute kudus kedua yang terkenal setelah Yerusalem. Ritus perjalanan yang disebut Camino de Santiago ini merupakan rute yang ramai dilalui kaum pilgrim setiap tahunnya. Para Pilgrim yang melakukan ritus ini bahkan harus memiliki paspor Pilgrim dan bisa menginap di penginapan khusus Pilgrim.

Selain itu, bagi Muslim Syiah ada praktek Pilgrim yang sangat dikenal, yaitu perjalanan kaki jutaan muslim Syiah sejauh 70 kilometer dari Najaf ke Karbala di Iraq setiap bulan Asyura. Perjalanan bermula di Najaf dimana disitu terdapat makam Ali bin Abi Thalib r.a / Imam Ali yang dalam bagi penganut Syiah adalah tokoh yang paling dihormati. Dan perjalanan itu berakhir di Karbala tempat tragedi Karbala yang membuat Imam Husein terbunuh. Maka untuk memperingati hal itu, Muslim Syiah setiap tahunnya melakukan ritus jalan kaki dari Najaf ke Karbala, tidak hanya dari Irak, namun juga dari negara-negara tetangga pun turut mengikuti ritus pilgrim tersebut.

Praktek Pilgrim pun marak terjadi di Indonesia dan sangat mudah ditemui. Paling banyak adalah para pelaku ziarah, banyak jumlahnya, ribuan bahkan ratusan ribu. Di jawa aktivitas Pilgrim yang paling umum adalah para pelaku ziarah wali songo. Mereka biasanya berombongan berkeliling pulau jawa, menziarahi makam para penyebar agama Islam dan beberapa makam beberapa kyai yang dianggap suci lainnya.

Situs-situs pilgrim itupun mengemuka dan menjadi tempat tujuan wisata yang melahirkan genre baru wisata, wisata ziarah. Tersebutlah beberapa diantaranya adalah Gresik, Kudus dan Cirebon yang menjadi tempat tujuan wisata ziarah umat Islam di Indonesia. Para umat muslim yang melakukan ziarah ini biasanya adalah kaum muslim tradisional yang berasal dari pedesaan dan umumnya adalah petani.

Bagi umat Katolik di Indonesia, bentuk pilgrimage adalah dengan mengunjungi Gua Maria. Gua Maria secara historis adalah gua tempat penampakan Bunda Maria kepada orang-orang tertentu. Salah satu yang terkenal adalah kemunculan Bunda Maria di hadapan Bernadette Soubirous di Lourdes, yang sekarang Gua Maria Lourdes adalah salah satu Gua Maria paling terkenal di dunia.

Di Indonesia, Gua Maria paling tua dan menjadi tempat ziarah terkemuka di Indonesia adalah di Sendangsono, Wates. Disitu jugalah tempat Romo Van Lith membaptis Barnabas Sarikromo dan beberapa warga lokal lainnya menjadi orang Jawa pertama yang menjadi umat Katolik. Sendangsono sekarang terus diziarahi oleh umat Katolik dari seluruh Indonesia.

Selain tempat-tempat suci, ritus Pilgrim di Indonesia juga ditemui dalam sebuah upacara perayaan keagamaan. Contoh praktek Pilgrim seperti ini adalah perayaan Trisuci Waisyak yang berpusat di Borobudur. Sebagai ritus utama umat Budha, berbondong-bondong umat Budha dari seluruh Indonesi, beberapa dari negara tetangga berkumpul dari satu titik dan mengikuti rangkaian Waisyak dari awal hingga akhir.

Kemudian ada juga upacara Grebeg Sekaten atau oleh orang Jawa tradisional disebut dengen Grebeg Muludan (Maulud). Upacara ini sebenarnya adalah akulturasi antara ajaran Islam dan kepercayaan lokal masyarakat Jawa. Sehingga upacara  ini biasanya dianggap sakral baik oleh penganut Islam dan Kejawen.

Grebeg Sekaten adalah perwujudan rasa syukur atas karunia Illahi, dengan mengarak gunungan yang berisikan hasil bumi. Kemudian gunungan ini diarak dan dibagikan kepada masyarakat yang langsung berebutan mengambil isi gunungan. Ritual ini cukup masyhur dan dilandasi tradisi bahwa isi gunungan yang diperebutkan itu akan menjadi berkah bagi yang mengambilnya. Masyarakat jawa tradisional menyebut tradisi ini dengan “ngalap berkah” / mencari berkah. Isi gunungan yang didapatkan tadi kemudian dibawa pulang, ditebar ke sudut rumah atau persawahan agar rumah / sawah mereka terbebas dari malapetaka dan mendapat keberkahan dari Yang Maha Kuasa. Para Pilgrim di Sekaten ini tidak hanya berasal dari Jogja, namun menyebar sampai Boyolali, Lereng Merapi, Magelang, Wonosari dan daerah-daerah yang dulunya secara de facto adalah wilayah Kesultanan Mataram Islam.

Sebenarnya menarik jika mengamati perjalanan para Pilgrim, terutama para Pilgrim tradisional dan yang berasal dari pedesaan. Para pilgrim dari pedesaan yang biasa ditemui baik saat Ziarah Wali Songo, Waisyak, Ziarah Gua Maria ataupun Sekaten. Jauh dari kesan modern, para pilgrim tersebut biasanya membawa bekal sekenanya, tidur dimana saja, bahkan makan apa saja. Namun satu yang tidak bisa dilepaskan dari mereka adalah wajah-wajah tulus dan polos. Mereka seolah tidak kenal lelah dan terus ikhlas menempuh perjalanan sampai selesai.

Para pilgrim tradisional di Indonesia biasanya menabung dalam jangka waktu lama dan melakukan ritus pilgrimage sebagai wujud syukur dan mendapatkan keberkahan dari Illahi. Mereka akan meninggalkan pekerjaan mereka untuk waktu tertentu, terkadang mengajak keluarganya untuk melakukan ritus pilgrim ini.

Sebenarnya beberapa anggota keluarga saya pun masih teguh melakukan praktek pilgrim ini. Seperti kemarin minggu, beberapa dari anggota keluarga besar saya melakukan ziarah ke makam kyai-kyai di Jawa Tengah berombongan dengan 3 bis. Biasanya ziarah ini dilakukan seusai panen raya, sebagai wujud rasa syukur atas anugerah berupa panen raya, dan berharap mendapat berkah dari kunjungan ziarah ini untuk panen berikutnya.

Secara pribadi, nenek buyut saya, Satinem juga berpilgrim sampai akhir hayatnya. Kisah pilgrimnya ke Mekah bahkan sempat menjadi cerita di desa karena merupakan generasi pertama di desa saya yang beribadah haji ke Mekah. Nenek saya bercerita, dulu nenek buyut saya menghabiskan waktu hampir satu tahun untuk menunaikan ibadah haji bersama kakek buyut saya, dengan kapal laut berangkat dari Semarang. Beliau berdua diantar oleh hampir seluruh penduduk desa, berbondong-bondong turut mengantarkan dan mendoakan keselamatan. Ibu saya dengan detail menambahkan bahwa barang bawaan kakek dan nenek buyut saya berpuluh-puluh peti, termasuk satu keranjang besar kelapa dan bumbu masakan yang sudah dikeringkan untuk bekal selama berbulan-bulan perjalanan laut.

Seusai berhaji, keteguhan melakukan perjalanan ziarah nenek buyut saya tetap diteruskan. Beberapa kali sempat melakukan ziarah walisongo, ditemani satu atau dua orang anaknya, hingga di usianya yang ke 90 tahun beliau masih sanggup berjalan kaki 15 kilometer dari rumah saya di Paremono menuju makam Kyai Haji Dalhar di Watucongol, Muntilan.

Kisah-kisah para pilgrim memang kadang di luar batas nalar. Namun bagi penganut Pilgrim itu adalah wujud ketaatan mereka terhadap Tuhan. Setiap perjalanan yang mereka lakukan adalah untuk mencapai kebahagiaan spiritual dan memenuhi kesempurnaan relijius. Setiap agama/kepercayaan pastilah memiliki tempat suci dan tujuan dari ritus pilgrim ini, itulah mengapa seni perjalanan ini akan terus lestari, kisah sejarahnya panjang dengan cerita-cerita yang luar biasa. Pilgrim tak hanya sekadar perjalanan, tak sekedar mencapai tujuan. Jauh didalamnya, ada makna pencarian jati diri dan wujud kecintaan kepada Tuhan.

Dan dimata saya, Pilgrim adalah para pejalan paling teguh, tabah dan ikhlas yang pernah saya temui.

Tabik.

referensi :

http://www.onpilgrimage.com/index.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Pilgrim

http://www.newadvent.org/cathen/12085a.htm

http://abna.ir/data.asp?lang=3&id=291550

http://en.wikipedia.org/wiki/Way_of_St._James

9 thoughts on “Kisah Peziarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s