Gilang Gemilang Sejarah Aceh

Pasukan Kesultanan Aceh

“Sultan Alaudin Riayat Syah Al Qahar tampak menunggu dengan cemas di singgasananya, suratnya pada Sultan Sulaiman al Qanuni belum terbalas. Kecemasannya semakin bertambah mengingat armada Portugis semakin merajalela di Selat Malaka, menguasai sekaligus mengganggu jalur perdagangan saudagar-saudagar muslim dari Aceh ke Timur Tengah dan sebaliknya. Tindakan sewenang-wenang sudah mencapai titik puncak dan Sultan Alaudin tidak bisa berdiam diri begitu saja. 

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya bala bantuan dari Kesultanan Utsmaniyah datang. Kesultanan Aceh dengan bantuan 200-an tentara Utsmani menggempur Portugis dan kemudian berhasil beberapa kali menggentarkan Portugis yang bercokol di Malaka. Tak hanya menyingkirkan gangguan Portugis, penyerbuan ini juga berarti menjamin keamanan hubungan dagang Aceh – Timur Tengah dan jalur pelayaran haji dari Nusantara ke Mekkah.”

Hubungan baik Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Utsmaniyah adalah titik dimana kelak Kesultanan Aceh mencatat jejak  sejarah yang gilang – gemilang di Nusantara. Hubungan Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Utsmaniyah terus berlanjut sampai pada era Sultan Aceh yang paling masyhur, Sultan Iskandar Muda. Kesultanan Aceh mendapat bantuan tentara, persenjataan, ahli militer dan itu dipergunakan untuk membangun armada Kesultanan Aceh yang tangguh.

Saya pernah mendapatkan manuskrip perjanjian kerjasama Kesultanan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Utsmaniyah, sayangnya saya menghilangkan manuskrip tersebut. Namun intinya adalah pengiriman tentara, senjata api, beberapa meriam dan kapal-kapal laut ke Aceh Darussalam. Jika menurut sejarah itu, maka Kesultanan Aceh Darussalam adalah salah satu Kesultanan di Nusantara yang sudah memiliki teknologi modern pada masanya.

Walaupun jejak kerajaan selalu pasang surut, dan itu terbukti dengan kemunduran Kesultanan Aceh Darussalam pasca Sultan Iskandar Muda. Akan tetapi Aceh sudah mencatatkan namannya dengan gilang gemilang dalam sejarah Nusantara, bahkan Dunia. Menurut Wilfred Cantwell Smith dalam Islam in Modern History, Kesultanan Aceh Darussalam adalah salah satu dari lima kerajaan Islam paling berpengaruh di dunia pada eranya.

Lambang Kesultanan Aceh.

Meskipun begitu, jauh sebelum jejak Kerajaan Aceh Darussalam tertoreh, di Peureulak pada sekitar era 840-1292 Masehi telah terdapat kesultanan yang telah eksis. Kesultanan itu dikenal dengan Kesultanan Peureulak, keberadaan kesultanan ini mulai dikenal berkat catatan perjalanan Marcopolo, sang penjelajah ulung dari Eropa. Pada catatannya seusai penjelajahan dari Cina, Marcopolo mencatat bahwa dia singgah di sebuah negeri bernama Ferlec / Feerlece, yang mana raja dan penduduknya beragama Muslim. Kelak, Ferlec / Feerlece kemudianlah yang dimaksud dengan Peureulak dan catatan  itulah yang membuka tabir sejarah Kesultanan Peureulak.

Sejarah memang lebih suka mencatat bahwa kesultanan Islam pertama adalah Samudera Pasai, namun berdasarkan fakta, tampaknya sejarah harus lebih membuka mata bahwa ada kesultanan lain yang sudah ada sebelum Samudera Pasai. Kesultanan Peureulak ada di era yang sama dengan Sriwijaya yang berkuasa bagian selatan Pulau Sumatera dan bahkan ada sebelum Majapahit yang konon kerajaan terbesar di Nusantara belum ada.

Kesultanan Peureulak tumbuh dari aktivitas perdagangan antara negeri – negeri Muslim di Timur Tengah dengan Nusantara. Para pedagang-pedagang muslim dari Gujarat, Mesir dan Arab tertarik dengan kuatnya Kayu Peureulak yang hanya tumbuh di Peureulak sebagai bahan untuk membuat kapal.

Hubungan perdagangan inilah yang membuat Islam masuk ke Puereulak, dengan interaksi antara pedagang muslim dan sambutan hangat dari penduduk Peureulak dan bahkan penguasa Peureulak saat itu  Meurah Syahir Nuwi, kemudian secara sukarela menjadi muslim, menjadi raja Peureulak pertama yang beragama Islam dan diikuti oleh rakyatnya.

Walaupun masih menjadi perdebatan, Kesultanan Peureulak mendapat pengaruh besar dari Islam Syiah. Syiah memberi pengaruh besar kepada Kesultanan Peureulak karena kedatangan orang-orang Syiah di Persia yang ditaklukkan Kesultanan Abbasiyah, selain itu pengaruh Syiah juga datang melalui Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir yang mengirimkan delegasinya ke Perlak.

Kemudian konon terjadi konflik ntara Syiah dan Sunni yang membuat Kesultanan Peureulak pecah dan mengalami vacuum of power selama beberapa tahun. Dan ini mengakibatkan Kesultanan Peureulak dibagi menjadi 2, Kesultanan Peureulak Pesisir dikuasai oleh Syiah dan dipimpin oleh  Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah dan golongan Sunni pindah menjauhi pesisir dan menguasai Kesultanan Peureulak Pedalaman dipimpin  Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat.

Peureulak kemudian mengalami beberapa pergolakan, diantaranya ekspansi Sriwijaya yang membuat Kesultanan Perlak berperang untuk mempertahankan kedaulatannya. Pada akhirnya setelah pergolakan dengan Sriwijaya yang membuat Kesultanan Peureulak kembali bersatu, penerus tampuk kekuasaan kesultanan Perlak memilih untuk menganut politik damai, hal ini diwujudkan oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat yang menikahkan 2 putrinya masing – masing Sultan Muhammad Shah dari Kesultanan Malaka dan Sultan Malik As Saleh dari Kesultanan Samudera Pasai.

Periode sejarah Kesultanan Peureulak ditutup pasca meninggalnya Sultan terakhir Kesultanan Perlak Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat. Kesultanan Perlak kemudian menggabungkan diri dengan Kesultanan Samudera Pasai dibawah kekuasaan Sultan Muhammad Malik Az Zahir.

Kapal-kapal Laksamana Cheng Ho pernah sandar di pelabuhan Samudera Pasai. Kedatangan Laksamana Cheng Ho dalam rangka ekspedisi dari China ke Nusantara itu disambut sepenuh hati oleh Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zahir. Belakangan, Laksamana Cheng Ho beberapa kali sandar kembali ke Samudera Pasai dan disambut sebagai saudara sesama muslim oleh masyarakat Samudera Pasai. Kedatangannya pertama kali ke Samudera Pasai pada tahun 1405 itulah yang kemudian dicatat dalam sejarah.

Namun jauh sebelum Laksamana Cheng Ho, Samudera Pasai sudah dikunjungi oleh avonturir muslim lainnya, Ibnu Battutah pada tahun 1405. Battutah mencatat bahwa kedatangannnya disambut oleh Sultan Mahmud Malik Az-Zahir dengan sangat ramah. Lanjut mencatat, Battutah mencatat Samudera Pasai dengan Samatrah dalam karyanya Rihlah. Kelak pula, nama Samatrah dalam Rihlah tadi disalin eksplorer seperti Niccolo da Ponti dan Antonio Pigafetta menjadi Sumatra untuk mengacu Samudera Pasai, dari sinilah selanjutnya orang-orang Barat menyebut Sumatera untuk sebutan bagi satu kesatuan Pulau Sumatera.

Kesultanan Samudera Pasai dalam sejarah populer Indonesia dikatakan sebagai kerajaan muslim pertama di Nusantara, walaupun belakangan banyak dibantah dengan bukti-bukti terbaru. Namun memang Kesultanan Samudera Pasai pernah menjadi sebuah kerajaan besar yang melambungkan nama Aceh. Didirikan oleh Malikussaleh pada 1267, Samudera Pasai berdiri hampir bersamaan dengan munculnya Kesultanan Utsmaniyah di Jazirah Turki dan sudah ada sejak sebelum Majapahit yang konon kerajaan terbesar di Nusantara berdiri pada 1299.

Kesultanan Samudera Pasai berkembang sebagai negara pelabuhan yang besar di jalur perdagangan di Selat Malaka. Dalam catatan Ma Huan, seorang pengelana dari China mencatatkan detail bahwa pada saat itu Samudera Pasai tumbuh besar dari perdagangan lada, selain itu Kesultanan Samudera Pasai secara resmi sudah mempunyai mata uang yang digunakan sebagai transaksi resmi, yaitu dirham.

Jauh sebelum gegap gempita emansipasi dan gerakan feminis yang dipelopori R.A Kartini melalui Habis Gelap Terbitlah Terang karnyanya, Kesultanan Samudera Pasai bahkan sudah pernah dipimpin oleh seorang ratu, Sultanah Nahrasiyah memerintah antara 1405 sampai 1412 menggantikan suaminya, Sultan Zainal Abidin Malik Az-Zahir.

Salah satu babak sejarah kepemimpinan Ratu Nahrasiyah adalah ketika beliau menundukkan Sekandar (mungkin Iskandar?) kerabat ratu yang merampok tamunya saat itu, Laksamana Cheng Ho. Dalam peristiwa itu Ratu Nahrasiyah beserta bantuan pasukan Cina pimpinan Laksamana Ceng Ho berhasil menangkap Sekandar, dan Sekandar dibawa ke Cina untuk dijatuhi hukuman mati atas perbuatannya kepada pasukan Laksamana Cheng Ho.

Sultanah Nahrasiyah meninggal pada 1428 Masehi dan dimakamkan berdampingan dengan ayahnya, Sultan Zainal Abidin. Sultanah dimakamkan dalam sebuah pusara yang terbuat dari Pualam/Marmer dengan ukiran-ukiran ayat suci Al-Qur’an. Saking indahnya, Christiaan Snouck Hurgronje seorang orientalis Belanda menyebut-nyebut makam Sultanah Nahrasiyah adalah makam seorang muslim yang paling indah di seantero Asia Tenggara.

Lambang Samudera Pasai

Pasca sejarah gilang gemilang kerajaan yang diakhiri dengan berakhirnya Kesultanan Aceh oleh serbuan Belanda, kisah sejarah Aceh tidak berhenti, melainkan terus ditulis oleh para pemberani-pemberani yang terus menentang kekuasaan bangsa asing di Tanah Rencong.

Salah satu perlawanan paling dikenang adalah Perang Aceh yang berlangsung hampir 3 dekade lamanya. Perang ini dibumbui dengan perlawanan dahsyat yang dikobarkan oleh Kesultanan Aceh dengan jihad fi sabilillah dimana seluruh komponen di Kesultanan Aceh akan bahu membahu melawan Belanda. Dalam kronik Perang Aceh inilah lahir pahlawan-pahlawan Aceh yang legendaris seperti Panglima Polim, Cik Di Tiro, Teuku Umar dan kisah pilu perlawanan Cut Nya’ Dien.

Snouck Hurgronje adalah alasan dibalik kekalahan Kesultanan Aceh, dia menyaru untuk mengambil hati rakyat Aceh, mendekati ulama-ulama, dan mengadu domba secara diam-diam masyarakat Aceh. Dibaliknya dia membuat penelitian tentang Aceh yang kelak dibukukan dalam buku Atjeh Verstlag dan 2 jilid De Athjeher. 

Buku-buku tadi sebenarnya hasil dari penyusupan Snouck untuk mematahkan perlawanan Kesultanan Aceh. Sebagai mata-maa dan penyusup, Snouck memetakan kekuatan rakyat Aceh, kehidupan sosial budaya serta metode untuk mematahkan perlawanan Masyarakat Aceh. Metode kontra gerilya yang dipaparkan di buku tersebut membuat Belanda unggul dari tentara – tentara pemberani Kesultanan Aceh.

Perlawanan rakyat Aceh ini membuat Belanda mengerahkan segala sumber daya, bahkan sampai membuat neraca keuangan Belanda diancam krisis karena harus membiayai perang yang sedemikian lama. Pada era itu jugalah, kekejaman      pasukan Marsose / Marechaussee mulai melegenda. Marsose sebagai pasukan kontra gerilya sangat bengis dan kejam, gabungan pasukan multibangsa dari Jawa, Ambon, Minahasa, Eropa bahkan Afrika sering mengejutkan pasukan Aceh dan membunuh tanpa ampun para pejuang-pejuang Aceh.

Kelak akhirnya, Perang Aceh dimenangkan oleh Belanda dan dengan itulah runtuh pula Walaupun Kesultanan Aceh runtuh namun bukan berarti perlawanan Aceh berhenti, rakyat Aceh terus berjuang dengan caranya masing-masing untuk melawan kekuasaan kolonial.

Marsose di Kraton Sultan, Kutaraja.

Marsose di Kraton Sultan, Kutaraja.

Kisah sejarah Aceh turut menyertai dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Kisah RI 001  – Seulawah ini bermula saat umur Republik Indonesia yang baru seumur jagung membutuhkan pesawat untuk kepentingan propaganda. Presiden Soekarno yang pada saat itu sedang bersafari di Aceh kemudian meminta bantuan Rakyat Aceh untuk mewujudkan keberadaan pesawat tersebut.

Hasilnya, dana setara 20 kilogram emas berhasil dikumpulkan oleh Rakyat Aceh dan akhirnya oleh pemerintah Republik dibelikan sebuah pesawat Dakota DC-3 dan diberi nomer sayap RI – 001 dan diberi nama Seulawah. Seulawah sendiri berarti gunung emas.

Sumbangan Rakyat Aceh ini kemudian sangat berjasa untuk republik, RI – 001 berulangkali menembus blokade Belanda untuk menyelundupkan senjata dan obat-obatan di daerah-daerah pertempuran, RI – 001 juga berperan mengantarkan para pendiri republik mengunjungi rakyatnya untuk mengobarkan nasionalisme di awal kemerdekaan, RI – 001 jugalah yang menyebarkan pamflet propaganda kemerdekaan Republik Indonesia di daerah Aceh.

Tak terkira sumbangan Rakyat Aceh terhadap Kemerdekaan Indonesia, RI – 001 jugalah yang menjadi cikal bakal Indonesia Airways sebagai maskapai penerbangan pertama milik bangsa Indonesia. Atas peran besar inilah kemudian Aceh diberikan keistimewaan dengan status Daerah Istimewa, yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah lain di Indonesia.

RI – 001 Seulawah

Salah seorang rakyat Aceh yang kemudian juga memiliki jasa besar adalah Teuku Markam. Jasanya bahkan masih terlihat sampai sekarang dan menjadi landmark nasional. Konon Teuku Markam adalah penyumbang 18 kilogram emas yang sampai sekarang masih berkilau di puncak Monas, Jakarta. Selain itu rakyat Aceh menyumbang 10 kilogram emas lainnya yang berasal dari perhiasan yang dikumpulkan dan kemudian dilebur menjadi satu.

Teuku Markam sendiri adalah karib Soekarno, seorang konglomerat yang dekat dengan Soekarno di awal kemerdekaan. Kekayaannya banyak digunakan untuk menyokong republik yang baru merah bayi. Menurut cerita lain, konon Markam juga lah yang menyediakan lahan di Senayan yang sekarang digunakan sebagai Kompleks Olahraga Senayan. Markam jugalah konon yang di awal-awal kemerdekaan menyumbangkan kekayaannya dengan menyuntikkan hartanya untuk APBN demi keberlangsungan republik.

Selain sumbangan – sumbangan tadi masih ada sumbangan lain rakyat Aceh demi keberlangsungan Republik, yaitu sumbangan untuk keberlangsungan perwakilan Republik Indonesia di Singapura dan India dan juga sumbangan berupa biaya perjalanan untuk LN Palar yang pada era 1950-1958 menjadi Duta Besar Indonesia untuk PBB.

Teuku Markam

Kiranya gilang gemilang hikayat Aceh yang panjang patut membuat bangga Rakyat Aceh. Namun sejarah pun memiliki bagian menyakitkan, bagian yang menorehkan luka yang sebenarnya tak ingin dikenang. Begitupun dengan sejarah Bangsa Aceh, memiliki periode kelam yang tentunya menyakitkan.

Sejarah memang milik pemenang, dan itulah yang dialami oleh bangsa Aceh. Sejarah Kesultanan – kesultanan Aceh tidak digores dengan tinta emas secemerlang Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Padahal sejarah kesultanan-kesultanan Aceh juga tidak kalah besarnya dengan kerajaan – kerajaan tadi.

Kisah sejarah Aceh yang dikebiri pun berlanjut, seolah tidak belajar sejarah lampau Rakyat Aceh kembali harus menelan pil pahit dihianati oleh Jakarta, mereka yang sudah membantu kemerdekaan, mereka yang turut menegakkan republik dipaksa menelan kekecawaan oleh Republik yang mereka bela sekian puluh tahun lamanya. Dimulai dari urungnya pemberian status provinsi di era Orde Lama yang berarti janji pendiri negara ini kembali ditarik, sampai penjajahan ekonomi di era Orde Baru. Rakyat Aceh harus menelan pahitnya sejarah dalam jangka waktu yang lama.

Kemudian siapa yang ingat dibalik kemegahan Monas ada nama Teuku Markam. Konon setelah era berganti Orde Baru, Markam difitnah dan dijebloskan ke penjara. Jasa yang besar diupah dengan dinginnya sel penjara dan bahkan setelah bebas pun namanya tetap kelam tanpa permintaan maaf dan rehabilitasi.

Namun, Rakyat Aceh adalah bangsa yang pantang menyerah, bertekad kuat dan keras. Didera berbagai masalah, sampai yang terakhir didera musibah Tsunami besar, Bangsa Aceh tetap tegak berdiri dan menahbiskan diri sebagai orang-orang tertangguh di Indonesia. Rakyat Aceh tetap mempertahankan harga dirinya sebagai orang Aceh, tetap teguh dengan nilai-nilai yang mereka anut, Rakyat Acehlah yang mengajarkan kepada bangsa Indonesia arti sebuah keteguhan dan arti sebuah pengorbanan.

Gilang – gemilang Sejarah Aceh seharusnya kembali cemerlang, Gilang Gemilang Sejarah Aceh adalah salah satu rona cerah dalam sejarah bangsa yang panjang.

-Udep Sare, Mate Sahed-

Postingan panjang ini saya persembahan untuk @iloveaceh, saya sebagai orang non Aceh saya sangat tertarik dengan sejarah Aceh yang panjang dan penuh kejayaan. Sebagai seorang pecinta sejarah, saya berharap di tengah himpitan modernitas, di tengah bangkitnya gairah wisata di Aceh, semoga Aceh tetap teguh dengan tradisinya, tetap ingat kepada sejarah, tetap merawat sejarah dan bangga akan sejarahnya.

Ada banyak tempat yang belum saya tuliskan, seperti Kerkhoff Peucut, makam para serdadu Belanda di era Perang Aceh, yang menjadi perang terpedih bagi Belanda. Masjid Baiturrahman yang selain sebagai masjid kebanggaan juga memiliki kronik sejarah sebagai tempat bersembunyi prajurit penembak jitu Kesultanan Aceh yang berhasil menewaskan Jenderal JHR Kohler. Atau mengulik kebudayan dari secangkir kopi di Aceh yang konon budaya minum kopi orang Aceh adalah sisa-sisa pengaruh Khalifah Ustmaniyah sampai sekarang, dimana teknik pengolahan kopi dan budaya minum kopi sembari berdiskusi adalah budaya yang sama dengan budaya minum kopi orang-orang Turki di era Ustmaniyah.

Tentunya @iloveaceh adalah program yang bagus, mengglobalkan Aceh, namun jangan sampai meninggalkan keping sejarahnya. Semoga dengan @iloveaceh, bangsa Indonesia lebih bisa belajar sejarah Aceh yang gilang gemilang dan terus mencintai Aceh.

Tabik.

 

8438313966_948832775f_z

I Love Aceh

 —

Referensi Foto :

1. Dari buku Indonesian Heritage :  Early Modern History – Anthony Reid

2. Bendera Kesultanan Aceh : wikipedia

3. Lambang Samudera Pasai

4. Marsose : KITLV

5. Teuku Markam

Referensi Sumber :

a. Kesultanan Aceh : 1, 2,

b. Hubungan Kesultanan Utsmaniyah dan Kesultanan Aceh : 1, 2

c. Penguasa yang menjalin kerjasama dengan Sultan Aceh adalah Sultan Sulaiman Al Qanun atau Sultan Sulaiman I. Bangsa Eropa menjuluki Sultan Sulaiman I ini dengan Sulaiman The Magnificent. Gelar Al Qanun sendiri mencerminkan pribadinya yang menjunjung tinggi hukum, dikenal juga sebagai tokoh yang menyusun undang-undang di Kekhalifahan Utsmaniyah, Al Qanun = Pemberi hukum.

d. Informasi awal tentang Kesultanan Peureulak saya dapatkan dari buku Mutiara Nusantara karangan Hj. Assabariah, buku ini adalah catatan perjalanan beliau selama berkelanan di Bumi Serambi Mekah.

e. Kesultanan Peureulak : 1, 2

f. Tulisan tentang kerajaan – kerajaan Islam dan datangnya Islam ke Nusantara juga ada pada tulisan Nur Kurniati Solihat, seorang sarjana sejarah dari UPI Bandung.

g. Perdebatan mengenai pengaruh Syiah di Kesultanan Peureulak masih terjadi, namun jika benar adanya maka Kesultanan Peureulak adalah kawasan yang menerima pengaruh Syiah , selain daerah Sumatera Barat. Bahkan Sumatera Barat masih melaksanakan sisa-sisa ritus Syiah dalam bentuk Tabuik.

h. Tulisan panjang tentang pengaruh Syiah di Kesultanan Peureulak bisa dibaca disini.

i. Kesultanan Samudera Pasai : 1, 2

j. Antonio Pigafetta yang menyalin kata Samatrah dari catatan Ibnu Battutah adalah seorang pengikut Ferdinand Magelhaens yang menjelajah hingga Filipina, sementara Nicolo Da Ponte adalah seorang bangsawan dari Venezia.

i. Ma Huan banyak disebut sebut dalam buku buku sejarah sebagai pencatat sejarah dari China. Ma Huan sendiri mengikuti ekspedisi Laksamana Cheng Ho ke Nusantara dan mencatat perjalananannya dan menjadi arsip Dinasti Ming. Tak hanya catatan perjalanan, Ma Huan juga menuliskan tentang kondisi geografis, politik, sosial budaya, ekonomi dan hukum di daerah tujuan. Catatan detailnya telah menjadi sumber detail mengenai kondisi Nusantara pada abad 14-15.

j. Tentang kisah Samudera Pasai juga terdapat dalam Hikayat Raja-raja Pasai. Buku ini merupakan kisah tentang alur sejarah Kesultanan Samudera Pasai sejak ia didirikan, menjadi perdebatan karena cerita dalam hikayat ini tercampur antara fakta dan fiksi, mirip dengan cerita dalam Babad Tanah Jawi yang mencampur fiksi dan fakta. Namun Hikayat ini menjadi sumber sejarah tulis lengkap tentang sultan-sultan Kesultanan Samudera Pasai.

k. Ratu Nashriyah : 1, 2

l. Makam Ratu Nashriyah bisa ditemukan di Gampong Kota Krueng dan menjadi salah satu destinasi ziarah di Aceh.

m. Snoujk Hurgronje   adalah sosok kontroversial, dianggap penghianat oleh rakyat Aceh, namun sebagai seorang ilmuwan dia berhasil memetakan kehidupan di Aceh dengan sangat detail.

n. Perang Aceh : 1, 2. Perang ini perang terpanjang dan mendatangkan kerugian besar bagi Belanda. Serdadu Belanda yang tewas dimakamkan di Kerkoff Peucut.

o. Kisah Marsose dituliskan dengan apik oleh sejarawan muda Petrik Matanasi disini.

n. Keping sejarah serdadu Marsose asal Afrika di Perang Aceh saya dapatkan dari buku Serdadu Afrika di Hindia Belanda karangan Inneke van Kesseldan diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Serdadu Afrika disini dilukiskan sebagai serdadu yang tangguh, tahan penyakit dan kuat.

o. Dakota RI – 001 – Seulawah : 1, 2, 3

p. Teuku Markam : 1, 2

q. Kisah sumbangan bangsa Aceh pada era kemerdekaan ini juga diutarakan oleh M. Nur El Ibrahimy disini.

 

4 thoughts on “Gilang Gemilang Sejarah Aceh

  1. Pingback: Om Carl dan Pesawat “Seulawah” « Nias – Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s