Sendiri

Saya mungkin seorang egois, saking egoisnya sampai-sampai pacar saya sering ngambek saat saya mengabarkan saya hendak jalan-jalan sendirian. Dia selalu minta diajak, sementara saya tahu kalau kasihan pacar saya jika dia harus mengikuti gaya jalan-jalan sendirian saya karena terkadang resikonya terlalu besar untuknya.

Sendiri kadang berarti tanpa kawan, bercengkrama dengan diri sendiri, kemudian harus bergelut dengan nurani yang dirundung kesepian. Namun sendiri juga bisa berarti saya menemukan ketenangan, menemukan kebebasan saat menapak langkah demi langkah di jalanan.

Barang kadang lebih berat, karena saya harus mempersiapkan kebutuhan sendiri. Biaya kadang harus dilebihkan karena saya tak bisa berbagi. Stamina kadang harus hancur-hancuran karena tak ada kawan bersandar dan Sepi terkadang menyergap kejam sehingga harus dilawan habis-habisan.

Tapi toh sendiri tak berarti muram. Tuhan menyediakan kawan-kawan di perjalanan untuk menemani para pejalan yang sendirian. Debur ombak laksana tawa kawan-kawan yang menyenangkan, aspal jalanan yang bak luka koreng terkadang adalah candaan paling lucu sepanjang perjalanan dan yang paling menyenangkan adalah bertemu kawan yang sama-sama sendirian lalu bersama-sama menertawakan kesendirian.

Terkadang saat peluh membasah, bahu-bahu sudah kepayahan memanggul ransel, kaki sudah berontak diajak bergerak dan hati sudah meronta meminta teman. Tuhan Maha Baik mempertemukan dengan penduduk yang mempersilahkan saya duduk sejenak di teras rumahnya, kemudian disuguhkannya minuman dingin dan camilan seadanya.

Sendiri berarti juga bagaimana bercengkerama dengan diri sendiri, bagaimana bertanggung jawab dengan diri sendiri, bagaiamana memperlakukan diri sendiri dan bagaimana tahu batasan diri. Sendiri mengajarkan agar seseorang selalu tunduk dan tidak pongah, sendiri adalah cara untuk mendapatkan renungan-renungan yang akan menghajar sampai habis idealisme seseorang atau cara paling mujarab untuk belajar kehidupan.

Ada banyak ruang yang bisa didapat saat sendiri dan bisa dijadikan pelajaran. Ada banyak kebebasan yang bisa diraih dan ada banyak pelajaran yang bisa dipetik. Entah sendiri, entah beramai tak akan berarti jika tak ada pelajaran yang bisa diambil. Sendiri tak berarti sepi karena sepi itu letaknya ada di hati. Sendiri pun bisa ramai menyenangkan jika seseorang berpikiran demikian.

Sendiri adalah sikap, sikap untuk merengkuh kebebasan lebih, sikap untuk mencari pelajaran untuk diri sendiri, sikap untuk mandiri dan bertanggung jawab serta sikap untuk lebih mengenal siapa diri kita sebenarnya.

Tabik.

Sebuah pengantar untuk Sri Anindiaty Nursastri.

10 thoughts on “Sendiri

  1. Awalnya jalan sendiri karna lagi anti-sosial dan mau menenangkan diri. Terdengar ngenes sih memang, tapi pas dijalanin…hemmm oke juga nih jalan sendirian, suka-suka kaki melangkah.😀

    Belajar lebih peka terhadap sekitar, lebih merasa “owalah gue tuh pendatang disini, jaga deh sikap. Tar gak ada yg bantu.” Bhihihik!

    Artikel yg menarik hati seperti biasanya, Chan.🙂

  2. Saat pergi sendiri, biasanya banyak pertanyaan2 absurd yg muncul tentang hidup, sesuatu yang jarang terpikirkan saat terjebak dalam rutinitas. Hal itu yang membuat kita selalu jadi “baru” sepulang ke rumah

    Saya tergetar baca tulisan ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s