Menjadi Diri Sendiri

Saya mempunyai prinsip bahwa perjalanan adalah sesuatu yang bersifat personal. Dan itulah alasan mengapa dalam setiap postingan saya, saya tidak memberikan detail perjalanan. Yang saya bagikan adalah pengalaman personal saya, bukan petunjuk bagaimana saya berjalan-jalan. Harapan saya adalah tulisan saya memantik rasa ingin tahu seseorang sehingga bisa melakukan perjalanan dengan caranya sendiri, bukan untuk mengajari seseorang jalan-jalan seperti cara yang saya lakukan.

Seseorang tak perlu silau dengan perjalanan orang lain. Walaupun mungkin orang lain sudah berkeliling dunia, sudah menjelajah lima samudera atau mencapai gunung-gunung tertinggi di dunia. Tak perlu iri, itu perjalanan mereka. Mereka bisa, mereka mampu, tapi diri sendiri belum tentu bisa. Kiranya kita harus ingat bahwa perjalanan orang lain mungkin mendebarkan, tapi apakah kita perlu meniru perjalanannya? Mengapa tak ciptakan perjalanan sendiri? Menciptakan momen mendebarkan untuk diri sendiri.

Terkadang terlalu terpaku dengan orang lain justru membuat diri sendiri lupa bahwa masing-masing punya potensi yang hebat. Secara individu jika terlalu meniru atau mengacu pada orang lain justru akan membuat lupa akan jati diri sendiri. Membuat ukuran ukuran lain pada diri sendiri bukanlah hal bijak, itu ibarat porsi minum kita adalah 1 sloki, tapi kita paksakan minum 1 gelas bir, yang terjadi akan mencelakakan, mabuk tak terkira dan merugikan diri sendiri.

Mungkin menjadikan orang lain sebagai role model perlu sebagai motivasi diri, tapi cukup di situ saja dan jangan jadi peniru atau menjadikan diri sendiri replika orang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana menjadi diri sendiri, menciptakan perjalanan yang sesuai diri sendiri. Pencapaian orang lain adalah prestasi orang lain, tak usah silau tapi ciptakan prestasi sendiri yang mana bisa menjadi cerita untuk anak-cucu nanti.

Tentunya saya mungkin ingin seperti pejalan mahsyur yang bisa kemana-mana setiap saat. Saya tentunya pun ingin mencapai apa yang mereka capai. Tentunya di masa silam saya pernah seperti itu, mencoba berbagai cara meniru sang idola. Tapi apa yang terjadi? Saya bukan sang idola, saya tidak bisa menjadi seperti sang idola. Saya gagal dan itu kesalahan besar saya, saya terlampau larut mengikuti sang idola dan melupakan perjalanan saya sendiri.

Seiring waktu berjalan, akhirnya saya justru bertemu dengan para pejalan yang saya idolakan itu dan belajar banyak tentang perjalanan. Ya, perjalanan itu seperti tumbuh kembang – manusia, dari bayi sampai dewasa, dari tidak tahu apa-apa, sampai bisa menjadi pembelajar selama di perjalanan. Ya, dari pertemuan itu justru mengajarkan saya untuk menjadi diri sendiri, menciptakan perjalanan sendiri tanpa mengekor orang lain.

Ketimbang sibuk mencari referensi perjalanan orang lain, bukankah lebih asyik jika membuat perjalanan sendiri? Toh, jika dipaksakan juga tidak akan bisa, selera perjalanan orang berbeda satu sama lain. Saya tentunya tidak mengikuti para pejalan yang bisa keliling dunia sambil bekerja, hidup nomad, atau melakukan perjalanan non stop menclok sana menclok sini. Maka saya lebih baik memaknai perjalanan sendiri dan membuatnya lebih indah.

Saya tak bisa melakukan perjalanan setiap hari selama bertahun-tahun, saya pun tidak akan mencobanya atau memaksakan kehendak untuk melaksanakan itu. Alih-alih itu, saya lebih baik menyesuaikan diri melakukan perjalanan dengan status saya selama PNS, toh pada akhirnya saya belajar bahwa perjalanan bukan persoalan lokasi, durasi dan biaya perjalanan, namun lebih apa pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan itu sendiri.

Pada akhirnya setiap perjalanan memiliki ceritanya sendiri-sendiri dan tidak ada penyesalan,dan kemudian saya belajar berkompromi dengan status saya, namun tetap bisa konsisten melakukan perjalanan – perjalanan baru. Tanpa perlu bersusah payah memaksakan kehendak menjadi orang lain, meniru gaya berjalan orang lain, saya memilih untuk melakukan perjalanan seperti yang saya suka, yang saya mampu dan saya sanggup melakukannya.

Ya, semua serba personal memang. Bayangkan jika semua menggunakan ransel bermerk sama, maka akan sangat monoton bukan?

Tabik.

17 thoughts on “Menjadi Diri Sendiri

  1. Bener banget, setiap orang ga perlu silau dengan perjalanan orang lain. Sesuatu yang terlihat anggun belum tentu nyaman bagi orang lain, jadi diri sendiri tentu lebih nikmat..

  2. Seperti mas Chan tau apa yang sedang saya pikirkan akhir2 ini..Hahahha..

    Setiap postingan begini yg mas Chan posting selalu pas dengan pertanyaan2 saya yg muncul di suatu waktu ..

    Mencerahkan mas..Bermanfaat untuk jiwa nih postingan😀

    Thx..

  3. Baru tau ini blognya Om Chan…
    Hehee…
    Awalnya banyak dari kita mencontoh dan mengikuti perjalanan berbagai orang untuk menemukan perjalanan yang bagaimana yang cocok dengan diri masing-masing. Itu merupakan bagian dari proses penemuan diri.

    Seperti halnya saya yang mendengar cerita Om Chan yang sempat melakukan eksplorasi hingga pelosok nusantara. Mungkin ada beberapa kisah perjalanan Om Chan yang juga ingin saya alami.

    Tujuan, ekspektasi, dan mimpi memang bukan suatu patokan statis, namun patut untuk dicapai dan diperjuangkan. Siapa tau dalam perjalanan mencapai dan memperjuangkan tujuan, ekspektasi bahkan mimpi itu kita menemukan tujuan yang lebih menarik. Ekspektasi yang lebih menggairahkan. Mimpi yang lebih indah.

    Just don’t stop. at least not now…
    #btw, nica share Om Chan! I’ve found new topics for mine. Thx…

    • hai mas romes..lama tak sua dan semoga kita segera bisa bersua..
      betul perjalanan sendiri adalah proses pendewasaan dan sesungguhnya melalui perjalanan, maka kita akan menemukan diri kita yang sebenarnya.
      salam.

  4. Kalau saya pribadi, memasukkan tulisan how to? how to get there? dan kawan – kawannya, karena ingin balas budi. dulu (ketika baru seneng jalan2), saya banyak tertolong oleh tulisan blogger2 yang lengkap seperti itu. Cuma ya tiap orang perjalanannya memang beda – beda sih. Untukmulah perjalananmu, dan untukku lah perjalananku, tapi jangan lupa berbagi, dan tetap enggak boleh sombong🙂

  5. EXACTLY ! terimakasih mas , udah ngebuka pikiran saya yg “cupet” tentang potensi saya. yg saya dapatkan adalah , ” get your trip , maknai perjalanmu , dan jadilah diri sendiri” kamsya ya mas ?🙂

  6. Selain untuk skripsi, ini juga salah satu alasan saya mendirikan backpackidea. Mengajak orang untuk keluar dari rumah tapi menemukan perjalanannya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s