Rumah Untuk Para Traveler

DSC_0054

Akhsay, Saya, Ibu dan Kartini.

Rumah di sebuah desa di Magelang akhirnya kedatangan tamu lagi, kali ini Akhsay dari Singapura yang datang bersama Kartini dari Jogja. Kartini tempo hari pernah menginap semalam di rumah dan akhirnya memenuhi janjinya berkenan datang kembali ke rumah sederhana tersebut. Rumah itu adalah rumah keluarga kami, terletak di Desa Paremono. Lokasinya benar-benar di kampung yang jauh dari keramaian, dikelilingi persawahan yang luas membentang.

2009 lalu, saat saya mencetuskan ide untuk membuat rumah ini sebagai jujugan teman-teman yang ingin datang ke Jogja, Magelang dan sekitarnya yang kehabisan penginapan, ibu saya langsung mengiyakan. Bahkan untuk kepentingan itu, dia langsung mengusulkan untuk merenovasi rumah agar cukup layak dan nyaman saat kedatangan tamu. Dan saya pun mengiyakan, maka dimulailah proses renovasi rumah tersebut sampai kepada wujudnya yang sekarang.

Ketika saya berpikir logis bahwa membuka rumah untuk para pendatang adalah salah satu cara untuk menjalin pertemanan dan jaringan, ibu berpikiran lain. Di pikiran ibu saya,  membuka rumah ini adalah perwujudan tuntunan agama untuk membantu para musafir selain itu juga salah satu cara bagaimana belajar memuliakan tamu. Menurut ibu saya, rumah keluarga memang sudah sering jadi jujugan sejak jaman ibu dan paman saya muda. Banyak teman-teman mereka yang datang dan menginap.

Akhsay keheranan ketika saya bilang, siapa saja boleh menginap dengan bebas dan gratis. Kulturnya berbeda dengan tempat dia tinggal, dimana jarang sekali seseorang mengizinkan orang asing untuk tinggal di rumahnya. Selama ini saya memang tidak memungut biaya untuk siapa saja yang tinggal. Silahkan datang, menginap, makan, minum dan pakailah semua fasilitas di rumah dengan bebas. Kalo kata ibu “Gusti Alloh yang bayar nanti”. Tapi saya juga akan fair, jika memang butuh biaya karena tamunya banyak, maka saya juga akan jujur. Biasanya itu akan digunakan untuk membayar asisten bagi ibu untuk memasak dan menyiapkan rumah. Karena ibu yang juga terkadang masih disibukkan dengan urusan mengajar dan pengelolaan sawah milik keluarga kami.

Sejauh ini mungkin sudah ada hampir seratusan tamu yang mampir / menginap di rumah saya sejak 2009. Tidak pernah saya hitung karena datang silih berganti, tidak ada batasan yang boleh mampir,siapa saja silahkan mampir. Pernah teman kuliah, pernah teman sekolah, pernah dari Kaskus Traveller, pernah teman-teman dari ACI, pernah mas Balibackpacker, terakhir kemarin Couchsurfer. Rumah ini bisa menjadi ruang untuk siapa saja tanpa sekat asal-usul dari mana dia datang. Saya tidak aktif di Couchsurfer jika anda mengira membuka rumah seperti ini maka saya seorang Couchsurfer. Tidak, siapa saja silahkan berkunjung. Saya tidak ingin membatasi mereka yang datang ke rumah, rumah ini untuk semua.

Namun, mohon dimaklumi sejauh ini tamu yang mampir hanya bisa pada saat saya sedang pulang ke Magelang. Karena saya sendiri masih belum bisa jika tamu datang saat saya tidak ada di rumah, saya takut memberatkan ibu dan kasihan ibu saya nanti. Karena selama ini ibu hanya tinggal dengan nenek saya di rumah, sementara saya bekerja dan adik saya kuliah.

Mungkin sejauh ini tidak ada target apa-apa selain ini cara saya untuk berbagi dengan sesama pejalan. Tapi saya sedang memikirkan bagaimana keberadaan rumah ini bisa bermanfaat untuk tetangga-tetangga sekitar,misalnya mungkin membangun kompleks desa wisata. Tapi itu mungkin untuk jangka panjang. Jangka pendeknya, mungkin dalam waktu dekat kami akan membangun sebuah kamar mandi khusus untuk tamu yang singgah agar mereka lebih nyaman. Semoga segera terwujud. Amin.

Tabik.

30 thoughts on “Rumah Untuk Para Traveler

  1. Aku terakhir kali ke Magelang tahun 2005 dan langsung jatuh hati dengan kotanya yang dingin, bersih, rapi, penduduknya ramah dan… harga sayuran yang muraaaah🙂

    Wah, mudah-mudahan suatu hari bisa balik ke Magelang dan numpang nginap di sana ya🙂 *nodong hihi*

    Betul, kata ayah-ibuku juga, jika memuliakan tamu, rezeki akan datang dengan sendirinya🙂

  2. Wah,,jadi pengen ke Magelang, sentuhan budaya dan alam yang eksotis membuat kota ini menjadi salah satu kota yang saya suka. Teraakhir ke Magelang tahun 2009, pas study tour SMA ke AKMIL……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s