Dari Sabang Enambelas

???????????????????????????????

 

 

Saya bukan orang yang romantis. Tanya pacar saya kalau tidak percaya, 2 tahun lebih pacaran saya bahkan belum pernah memberinya bunga, yang kata orang adalah simbol romantisme. Pacar saya bahkan sampai bersungut-sungut, katanya saya cuek bebek dan tidak romantis. Lha, saya bisa bantah apa? Mungkin memang tidak romantis, karena saya berpikir logis. Bahwasanya bunga hanyalah simbol, sementara romantisme adalah sikap yang tulus.ย Ah, tapi memang perempuan itu makhluk yang susah dipahami. Mungkin bunga dimata perempuan adalah lambang romantisme lelaki, atau simbol rasa sayang? begitu? entahlah.

Tapi saya menyebut romantisme dengan sikap. Seperti suatu pagi saat saya menunggu pacar di seberang stasiun Cikini. Pagi yang sepi, hanya sesekali kendaraan lewat. Menunggu pacar saya datang, saya menyiapkan sesuatu untuknya, bukan bunga tentunya karena saya bukan orang yang romantis. Ketika kemudian pacar saya datang, dan saya memberikan bawaan saya itu padanya, dia cemberut. Tapi tentu cemberut senang karena setelah itu dia tergelak dan mencubit-cubit saya, dia bilang begini :

“cowo macam apa kamu, datang ke tempat pacarnya, minta dijemput, ga bawa bunga malah bawa roti maryam.”

saya terkekeh dan saya jawab :

“kan tadi kamu bilang kamu lapar, makanya saya bawa roti maryam, membawa bunga sia-sia, itu tidak akan membuatmu kenyang…”

dan jawaban itu yang membuat pacar saya terdiam tak bisa berkata-kata lagi, dan hanya tersenyum malu-malu dengan pipi memerah.

???????????????????????????????

Saya mengajaknya ke Sabang 16, salah satu tempat kuliner favorit kami berdua di Jakarta. Seperti biasa, kami datang terlalu pagi, masih sepi. Pengunjung hanya kami berdua, atau sebenarnya tidak kami berdua saja pengunjungnya dan hanya ilusi saya saja yang merasa hanya kami berdua disana? entahlah, tapi kata orang cinta itu dunia serasa milik berdua, yang lain hanya numpang lewat, begitu bukan?

Pesanan saya adalah segelas teh tarik panas, sementara pacar saya segelas Horlicks panas. Itu minuman favoritnya. Di pagi yang masih dingin itu, oia, tentu saja dingin karena saya di ruangan ber-AC, seteguk dua teguk yang diminum bersama tentu saja akan menghangatkan badan, dan menghangatkan hati.

Kami berdua tidak saling banyak bicara, hanya bicara basa-basi ringan. Pacar saya masih terbayang setelah weekend dia harus menghadapi ujian maha berat di kampusnya, saya paham itu. Makanya saya datang, menghiburnya, memberinya semangat, meringankan sedikit beban agar ujian yang katanya maha berat itu bisa dia lewati.

Pagi itu cukup menyenangkan, bisa menyingkirkan kekalutan pacar walau mungkin dia sudah bosan dengan guyonan garing saya. Tapi tak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan senyum si pacar,

Di pagi yang masih baru, senyum pacar dan 2 gelas minuman hangat. ย Lalu apa ada yang lebih romantis daripada itu semua?

Tabik.

???????????????????????????????

 

20 thoughts on “Dari Sabang Enambelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s