Wawancara : Kick @AndiFa !

Andi “Ganteng” Fachri

Kenalken, Andi panggilannya di twitter dia mengaku sebagai @AndiFa walau sebenarnya nama lengkapnya adalah Andi “Galau” Fachri. Pria modis asli Semarang berprinsip bahwa perjalanan adalah untuk menemukan cinta. Makanya dia sering melakukan perjalanan, karena belum juga menemukan cintanya. Sekarang di tinggal di Bali dan tampaknya sedang akan menemukan cintanya.

Pengakuannya pada saya sih, dia adalah bukan seorang traveler yang sangar, tapi traveler hura-hura. Karena Andi selalu berpikir bahwa traveling adalah sarana hura-hura. Tentu saja duit habis pikir nanti.

Oia, Andi Fa ini orang yang sangat selo. Terpilih ACI 2011 tapi dia tinggalkan karena dia tidak mau menang uang 100 juta, karena baginya uang bukan segalanya, cintalah yang utama.

Berikut ini sedikit wawancara saya dengannya disela-sela lemburan kantornya :

Saya (S) : Ndi, kenapa kamu galau?

Andi (A) : Aku galau di timeline nda…

S : Pertama kali keliling luar negeri kapan? kemana? berapa duit?

A : Pertama kali long trip keluar, belum lama kok. Tahun 2009. abis sekitar 7-10 jt aku ga ingat pastinya buat 5 minggu.

S : Wih, duit darimana tuh? jangan-jangan nyolong?

A : Rupamu, ngene2 laku yo karo tante-tante *kok bangga? <- tidak diedit sedikitpun, ternyata Andi pecinta MILF.

Sebagai mahasiswa dulu saya suka mroyek mas, bantuin proyek dosen, jadi asisten, jualan takoyaki, ngedit buku barang ding (biyen sregep nulis / dulu rajin nulis) saiki males / sekarang males.

S : Wogh! Keren sekali! Jadi kamu backpackper + enterpreneur ?

A : Chaan, lebih tepatnya backpacker haus belaian…. <- jenis baru backpacker. backpacker haus belaian

Ya namanya mahasiswa, ga mikir cari duit buat seneng2, buat jalan-jalan..

Itu traveling gap-year ku jadi tahun antara lulus dan bekerja dan kamu memutuskan untuk jalan-jalan dulu

Eh shit 2008 opo 2009 yo <- Andi sudah mulai lupa, tampaknya faktor Umur.

Tak cek sik bener ding 2009, aku lulus e suwe berarti…..

Abis itu kalo ga salah, aku pindah dari Jogja ke Jakarta, dadi anak gaul ibukota.

S : Jadi kamu sudah gaul sekarang?

A : Ga kak, saya tetap nerd. Sukanya duduk di pojokan baca buku atau depan laptop. Gaul is overrated anyway.

S : Jadi kenapa dulu memutuskan Asean? kenapa tidak misalnya Australia?

A : Duit su … !! / Duit njing!! <- duh, saya dimaki narasumber malah…

Tapi juga karena negara2 berkembang tampak lebih menarik daripada negara maju.. lebih chaos…

Rasanya chaos itu familiar banget, kayak di indonesia. Jadi rasanya lebih enak aja tau ke-chaos-an masing2 negara di Asean.

Oh dan karena utang janji ding.. Saya orangnya ga enakan kalo utang janji . Ada temen dari taun kapan udah dijanjiin mau ditengok, ya udah ditengok sekalian…

S : Terus apa menariknya chaos? 

A : Asu ki aku kok malah konsen jawab pertanyaanmu ora nglembur kerjo. / Anj*ng ini kog aku malah lebih konsen menjawab pertanyaanmu daripada lembur.

Tapi gini, tidak terencana, chaos, spontanitas itu kayak antitesis bidang pekerjaan/kuliahku : finance. Dimana finance dipaksa terstruktur, metodik, kadang-kadang robotik.

Kayak menemukan pelarian gitu. Bahkan dream destinationku salah satu negara paling chaotic : india

S : Jadi aku menangkapnya, inti jalan-jalanmu adalah pelarian? pelarian dari?

A : I hate to admit it! Tapi ya, mungkin cerita jalan-jalanku adalah pelarian dari keseharian mencari tempat paling mebahagiakan di muka bumi, meminjam istilah bukunya Eric Weiner.

Yes i hate to admit it, Tapi mungkin itu benar.

Ini pasti gara2 hikayat yang sering diceritakan waktu kecil, tentang perjalanan2 yang heroik. Ini buah konspirasi penulis-penulis untuk anak, seperti Mark Twain

Jadi mengko anakmu ojo diceritani dongeng2 sebelum tidur yo chan…bahaya.

S : Bukan pelarian cinta?

A : Aduh chan, cinta melulu sih ah!

Dulu aku pernah nulis soal rites de passage..ritus peralihan…

Ya anggap saja traveling itu ritus peralihan. Baik personal, transendetal dg Tuhan atau bahkan cuma peralihan dari kuliah ke kerja.

Traveling ki piknik, sik penting seneng..

S : Waktu itu kan Asean belum mainstream seperti sekarang, apa yang kamu rasakan?

A : Well, begini… Itu bukan kali pertama aku keluar atau kali pertama jalan2 agak lama. Tapi itu kali pertama jalan agak lama di negeri orang, dan penasaran aja.

Sebenarnya beda ga sih di pelosok-pelosok? beda sama Indonesia ga.

Makanya beruntung banget punya temen yang mau ngajak kita pulang kampung di Thailand entah bagian mana, beruntung banget bisa juga bantuin anak-anak di panti asuhan di pinggiran Pnom Penh, beruntung bisa ketemu orang2 kayak si beer traveler itu.

Ketemu dua perempuan cantik dari israel yang pengen banget ke indonesia tapi ga bisa karena urusan diplomatik.

Oh itu mungkin kali yo.

I’M FEELING LUCKY!

S : Jadi banyak sekali yang kamu dapatkan ndi? apakah itu perjalanan yang paling mengesankan?

A : Hihih paling itu susah chaaaan

Beberapa orang menyebutnya “vibe”, “ambience” tapi aku suka menyebutnya “energi”. Setiap tempat punya energi dan karakter…

Tapi kalau disuruh milih, aku mau bawa istriku bulan madu ke kamboja dan Ubud.

Tapi sebelum kesana harus dipastikan dulu, apa saya sudah punya istri atau belum. Kalau belum punya istri namanya bukan bulan madu.

S : Jadi kapan punya istri?

A : Setelah menikah..

S : Kapan menikah?

A : Ga wani jawab…ampun dije… Sik jelas aku wis mulai mikir omah, if that is a satisfying substitute answer.

S : Haha..oke ndi, iki pertanyaan 2 terakhir.. Bagaimana kamu memandang dunia traveling sekarang?

A : Aku asline wonge serius jeh, dan iki pertanyaan serius, tak jawab rodo serius yoh..

Infrastruktur turisme semakin terjangkau, low cost carrier, kamera yang terjangkau, mobile device, dll

Di satu hal itu kabar bagus.

Di beberapa tempat turisme dipandang sebagai jalan keluar dari kemiskinan, tapi ya itu, disisi lain jadi pedang bermata dua.

Setiap tempat yang didatangi abakal membawa perubahan bagi si pejalan maupun tempat yang didatangi… Di tempat yang tidak pernah didatangi turis, mereka akan terkaget-kagettapi lama kelamaan (kalau banyak yg datang) penduduk lokal beradaptasi dan akan berubah

Itu ga sepenuhnya buruk…

Tapi… What if…

Ada seorang yang sangat berpengaruh di dunia traveling menyebarkan pesan yang salah terhadap suatu tempat dan imbasnya ke tempat itu sungguh dahsyat.

Misal, dia dicopet trus menganggap seluruh negara ga aman (saya pernah dicopet di perbatasan thailand-kamboja), trus nulis bahwa negara a itu ga aman dan banyak yang baca lalu trus beranggapan yang sama, dan menghindari

Atau yg lebih buruk…

Datang ke sebuah tempat karena motivasi bersenang-senang lewat narkotik dan prostitusi. Coba deh lihat semua tempat yg populer dg turis pasti ada prostitusinya…

Tapi ga yoi banget, misal, seorang penulis mengabarkan bahwa bisa ngeganja+mushroom di pulau tertentu, terus orang bakal datang kesana dengan tujuan yang ngawur…

I’m not playing innocent ya, masa laluku jg ga bagus2 amat. Tapi bikin nyesel sampe sekarang

If you can spread the words about your destination, tolong pikirin juga impactnya…

Makanya aku lebih seneng nulis menye2,toh yg menye2 bisa jadi personal branding yang laku dijual.

Soalnya tanggung jawab nulis sebuah destinasi, berat. Ga sanggup aku.

Intine infrastruktur oye, tapi infrastruktur hati buat jalan2 juga perlu ditata.

S : Lho, jadi inti wawancara ini kamu sebenarnya curhat asmara ndi?

A : Nggatheli cah iki, iyoh! / Yoi bro..!

S : Terakhir ndi. Apa harapanmu?

A : Punya rumah chan, aku wis kesel dolan-dolan./ Punya rumah, aku sudah capek main-main. Anyway, the best part of traveling is coming back home kan?

Yak, itu tadi wawancara dengan Andi, sekarang dia sudah pulang karena rupanya penunggu kantornya tak suka Andi lama-lama di kantor. Jika bertemu Andi, mukanya komikal, tapi hatinya galau maksimal. Yang jelas, dia orangnya sangat serius walau tampangnya tidak serius.

Ingin lebih dekat dengan Andi? ini FB-nya, ini Twitter-nya, ini Blog-nya.

Tabik.

24 thoughts on “Wawancara : Kick @AndiFa !

  1. aaaaaaaaa *screamin out loud* boleh kenalan gaaa sama narasumbernyaaahhh?? koq kayaknya keceeeh gitu sih kakaaaaaakkk *kedipkedip*

      • Bener dik, tim sukses! Sukses menghancur-leburkan imej cool dan ramah yg selama ini kubangun.

        Mbaknya yang diatas, kalau lagi di Bali silahkan towel saja via twitter. Saya sudah berhenti jadi anak gaul ibukota. Jadi beach boys sekarang. Dari penggemar tante-tante, ganti profesi jadi bule hunter *ga pernah bener

  2. Andifaaaaaaakkk! You rule big timeeee! :)) eniwe aku super roaming pas bahasa jokaw.. hempftthhh.. pesen edisi bahasa bugis doong..

  3. hahaha baca tulisan yg ini ngekek tok ik mas sinchan..narasumber sama reporternya sama2 jos..mas sinchan pinter nggiring dan memantik jawaban,mas andinya jg jabane koplak2 bijak..haha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s