Bootcamp Batu Hijau 3 : Maluk, Dari Tiga Puluh Enam Menjadi Puluhan Ribu.

Namanya Arifin, tinggi, besar, tegap, bicaranya lantang khas orang Sumbawa Barat kebanyakan. Raut mukanya kukuh, keras khas orang-orang tambang kebanyakan. Sepulang dari tambang, Arifin menyambut kami peserta bootcamp di lantai dua rumahnya. Di usianya yang setengah baya dan setahun lagi pensiun dari Newmont, Arifin bercerita banyak hal tentang hidupnya, tentang Newmont dan tentang apa yang terjadi di sekitarnya pada kami dengan sesekali disisipi gelak tawa terbahak-bahak.

Arifin kecil lahir di Maluk, asli Maluk. Puluhan tahun yang lalu, Maluk hanyalah kampung kecil yang dihuni 36 Kepala Keluarga. Suasananya tenang, damai, pertanian adalah pekerjaan dan cara mereka menyambung hidup. Sampai tahun 1970-an, Maluk masih daerah yang mungkin bisa dibilang terisolir atau susah dijangkau. Untuk sampai ke kota terdekat, Taliwang hanya bisa ditempuh dengan kuda, atau kata Arifin jika tidak naik kuda, penduduk Maluk akan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer menuju Taliwang.

Maluk sekarang beda dengan Maluk di era Arifin kecil, Maluk sekarang berkembang menjadi sebuah kota kecil yang ramai dan hidup sampai malam larut. Arifin menuturkan, pembukaan tambang Newmont-lah yang membuat Maluk menjadi ramai. Berbondong-bondong arus manusia datang ke Maluk, puluhan, ratusan, ribuan, puluhan ribu. Dari 36 Kepala Keluarga sekarang penduduk Maluk sudah mencapai angka lebih dari sepuluh ribu, dari sebuah kampung menjadi kota kecil.

Maluk memang area residen terdekat dengan tambang dan merupakan area ter-ramai diantara area sekitar tambang yang lain. Mulai berkembang sejak era konstruksi, dimana pada masa itu Newmont secara masif mempekerjakan banyak pekerja, menembus angka 17.000 pekerja dan arus manusia yang menyerbu Newmont pun kemudian merembes ke Maluk. Maka jadilah Maluk tiba-tiba ramai dan lambat laun seiring waktu bertransformasi menjadi Maluk seperti sekarang.

Di mata Arifin, perubahan ini memberikan banyak dimensi yang berbeda. Arifin bersyukur, Maluk tidak lagi tertinggal, bersyukur karena ekonomi Maluk berkembang, banyak usaha-usaha baru, banyak lapangan pekerjaan. Di bidang kesehatan, dulu Arifin bercerita bahwa Malaria adalah kawasan endemik Malaria tertinggi di area Maluk, sekarang itu hanya masa lalu, masyarakat Maluk sudah tidak was-was lagi dengan Malaria. Infrastruktur dibangun, pendidikan diperhatikan dan Maluk berkembang menjadi sebuah kawasan yang modern.

Saya sepakat dengan Arifin, Maluk menjadi berkembang karena pembukaan tambang. Memang kemudian hal itu tidak bisa dipungkiri. Arus manusia yang banyak otomatis menggerakkan perekonomian dan membuat sebuah kawasan akan berkembang. Tapi semua perkembangan itu pasti tidak melulu soal kemajuan, pasti ada sisi kelam dari sebuah perkembangan daerah yang cepat.

Arifin bercerita, dahulu masyarakat hidup tentram dan aman. Misalkan ada hasil panenan yang ditinggal di sawah, tidak perlu khawatir hilang, cukup digeletakkan begitu saja. Atau jika ada yang mengambil, besok harinya pasti akan diganti dengan barang yang sama. Tapi sekarang berubah, seiring dengan perkembangan Maluk, maka kriminalitas pun ikut berkembang. Sekarang, tutur Arifin, jangan pernah meletakkan sepatu sembarangan, dalam sekejap mata sepatu bisa langsung raib.

Atau kemudian yang merisaukan adalah banyaknya kafe dan bar di tepi pantai. Tempat hiburan yang hingar – bingar sepanjang malam. Ditengarai menjadi area abu-abu untuk prostitusi. Memang itu semua adalah konsekuensi dari berkembangnya sebuah kawasan. Ada sisi terang dan pasti ada sudut gelap, 2 sisi mata uang yang akan menyertai perkembangan kota.

Untungnya kearifan lokal di Maluk masih kuat. Hukum adat masih dikedepankan jika terjadi masalah, perangkat sosial adat juga masih berfungsi. Arifin sendiri di Maluk adalah salah seorang tokoh yang dituakan di Maluk. Para pendatang yang tinggal di Maluk, mau tak mau harus mengikuti aturan adat di Maluk, ya dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Arifin adalah salah seorang yang mengalami sendiri perkembangan Maluk dari sebuah daerah yang bukan apa-apa menjadi sebuah daerah yang semarak. Arifin juga salah satu dari beberapa orang Maluk yang turut membangun Newmont dari sejak Newmont ada dan beroperasi di Maluk. Saya kira, apa yang Arifin rasakan dan tuturkan adalah hasil kisah hidupnya selama bertahun-tahun, sebagai orang Maluk.

Hanya saja ada sedikit ganjalan dari saya, Maluk adalah satu dari sekian banyak contoh kawasan yang berkembang dari kawasan Tambang. Sekarang ini Maluk sedang berbulan madu dengan kawasan Tambang, menikmati lesatan ekonomi dan modernisasi yang maju pesat, sedang dalam masa keemasan. Tapi seperti yang sudah-sudah, Tambang pasti akan tutup suatu hari nanti. Dan ada banyak contoh kasus sebuah kawasan yang tadinya ramai, tiba-tiba langsung sepi karena penutupan Tambang.

Saya kira saya tak mampu membayangkan bagaimana Maluk setelah tambang ditutup. Apabila masyarakat hanya menikmati manis-manisnya masa sekarang dan tidak bersiap untuk antisipasi saat tambang ditutup, apa jadinya Maluk berpuluh tahun ke depan tanpa adanya tambang? Akankah kembali menjadi sebuah kawasan yang sepi? Semoga tidak.

Tabik dari Sumbawa Barat.

2 thoughts on “Bootcamp Batu Hijau 3 : Maluk, Dari Tiga Puluh Enam Menjadi Puluhan Ribu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s