Bootcamp Batu Hijau 4 : Operasi Laut

DSC_0005

Matahari belum genap saat saya, Harris, Alfons, Yudi dan Mumun harus meninggalkan townsite menuju Maluk untuk sarapan. Jam 5 pagi Pak Arie sudah stand by di depan mess menjemput kami. Kali ini kami berlima adalah rombongan bootcamp yang akan mengikuti jadwal operasi divisi Marine Environment mengambil sample tailing di perairan Sumbawa Barat.

Persoalan tailing / sisa material pertambangan selama ini senantiasa menjadi perdebatan panjang yang seolah tiada ujung, Newmont sendiri memilih mengikuti apa yang sudah disarankan di AMDAL, yaitu meletakkan tailing di laut lepas. Apakah sampai disini saja? tidak, kondisi perairan sekitar tailing dipantau secara rutin dengan ketat.

Keseriusan Newmont untuk memantau perairan ini diwujudkan dalam bentuk Tenggara Express atau disingkat dengan Terex. Terex adalah kapal riset yang didesain untuk Newmont dan disesuaikan dengan kondisi perairan Sumbawa Barat yang berarus kuat dan berangin kencang.  Kapal ini memiliki peralatan sangat lengkap, canggih dan mutakhir, disesuaikan untuk kinerja divisi environment.

Persiapan dilakukan dengan cepat, alat-alat dimasukkan dan seluruh peserta pengarungan laut dibriefing di muster station oleh kapten kapal. Arus cukup tenang dan matahari bersinar dengan riang gembira, tampaknya perjalanan kali ini akan berjalan lancar. Perkiraan perjalanan akan ditempuh sekitar 2 – 2,5 jam perjalanan tergantung kondisi perairan. Kapal kemudian bertolak dari Pelabuhan Benete menuju lokasi pengambilan sample air.

Ada 29 titik pengambilan sampling yang secara rutin diambil sample airnya secara berkala. Biasanya bulanan atau triwulanan, sedangkan dalam jangka 5 tahun sekali Newmont bekerja sama dengan LIPI untuk mengambil sample tailing di perairan dalam > 1000 meter untuk kemudian dianalisa oleh LIPI kandungan mineral di perairannya. Pun dengan hasil pengambilan sample ini kemudian dikirim ke laboratorium independen di Bogor untuk menjaga objektivitas hasil sampling.

Kenapa Newmont perlu repot-repot sampai membangun kapal untuk penelitian. Tak lain karena memang ini adalah kewajiban yang harus dilakukan Newmont dan berikutnya adalah komitmen Newmont untuk terus mengelola tambang dengan terus menjaga kelestarian lingkungan sekitar tambang. Upaya-upaya konsisten ini membuat Newmont diganjar beberapa kali penghargaan tambang yang ramah lingkungan seperti Proper Hijau yang diberikan oleh Kementrian Lingkungan Hidup.

Perjalanan kali ini lain dari yang lain, tampaknya saya harus curiga dibalik perkataan perairan  pagi ini tenang yang dilontarkan anak buah kapal. Tenangnya mereka berarti guncangan tanpa henti yang membuat saya hampir mengeluarkan isi perut saya, sementara rekan seperjalanan yang lain memilih untuk merebahkan badan dan tidur sepanjang perjalanan.

Maka saya memilih pergi ke buritan, matahari menyengat dengan ganas dan kapal sudah masuk ke perairan lepas. Di belakang, beberapa ABK dan tim enviro Newmont tertawa terbahak-bahak dan membunuh waktu dengan memancing ikan. Sekali waktu tampaknya joran makin mengencang dan sepertinya ada ikan yang terkena kait, begitu ditarik sepenuh hati dan ditangkap, ee..rupanya cuma sampah yang berserakan di laut.

Saya memilih bercakap dengan Sally, seorang staff Marine Environment. Menurut Sally, kinerja Marine Environment tidak seb erat di bagian enviro darat, hanya saja wilayah kerjanya penuh tantangan. Apalagi kalau bukan lautan ganas yang siap menerkam Terex. Sally pernah mengalami bahwa, Terex pernah balik haluan karena gelombang yang tinggi, padahal perjalanan sudah masuk setengah jalan. Bagi Sally perjalanan kali ini cukup tenang, karena gelombangnya masih ramah. Itu di mata Sally, di mata saya gelombang ini sudah cukup membuat saya pusing dan berjalan sempoyongan.

Harris, Mumun, Alfons dan Yudi memilih untuk memejamkan mata sepanjang perjalanan. Sementara saya tak bisa, akhirnya saya berpindah tempat di haluan, menikmati panorama Sumbawa Barat yang amboi indahnya. Tebing-tebing tinggi di sisi Samudera Hindia ini kukuh, seolah tak mau kalah dengan gerusan air laut, saling menantang satu sama lain. Di arah sebaliknya, lamat-lamat tampak Rinjani di pulau Lombok mengintip di balik awan. Amboi.

Sample diambil di 2 titik, titik 28 dan titik 15. Lokasinya tidak jauh dari ujung pipa tailing yang berada di kedalaman 125 meter di bawah permukaan laut. Begitu mendekati titik pengambilan sample, tiba-tiba semua staff Enviro da ABK menjadi sibuk. Staff enviro menuju buritan dan mempersiapkan alat pengambilan sample yang berada di buritan. Kapal kemudian semakin pelan dan begitu tiba pada titik 28 yang sudah dikunci pada koordinat GPS kapal, kapal kemudian berhenti dan pengambilan sample dimulai.

Titik kedalaman pengambilan sample kali ini ada beberapa titik, hal ini untuk mengetahui variasi sample di kedalaman yang berbeda. Saya berada di belakang Sally yang memegang kontrol operasi alat pengambilan sample. Menurut Sally ada 2 titik kedalaman pengambilan sample, yaitu pada kedalaman 210 meter dan 350 meter di bawah permukaan laut. Setelah alat siap, kemudian diturunkan dengan menggunakan sling baja. Dan begitu diturunkan kemudian Sally sibuk berkutat di depan layar monitor, memantau pergerakan alat di bawah air. Pengambilan sample ini tidak membutuhkan waktu terlalu lama, kecepatan sling turun ke bawah air adalah 1 meter / detik. Sehingga untuk kedalaman 210 meter, dibutuhkan kira-kira 5 menit turun naik.

Indikator indikator pada sample akan menunjukkan kualitas air, yang dijadikan takaran tim enviro untuk melihat kualitas lingkungan bawah air apakah baik atau buruk. Ada beberapa indikator yang bisa diukur, seperti kandungan mineral yang larut pada air, keasaman dan beberapa indikator lain yang saya lupa namanya. Setelah proses ini selesai, air sample tadi dimasukkan pada botol sample higienis dan didinginkan untuk dibawa ke laboraturium Marine Environment di Benete.

Proses pengambilan sample usai, dan Terex kemudian balik haluan kembali menuju Benete. Saya yang tak mau kembali diombang-ambingkan gelombang, kemudian memilih naik ke kabin dan dipersilakan duduk di samping kapten kapal. Di atas kabin saya baru mengetahui bahwa Terex merupakan kapal yang canggih, segala indikator adalah indikator digital, saya ditunjukkan koordinat GPS yang sudah disimpan untuk menuju titik – titik pengambilan sample.

Sesampai di Benete, kerja belum usai. Sample-sample tadi dibawa ke laboratorium untuk proses selanjutnya. Dalam laboratorium itu sample-sample tadi dimasukkan ke dalam botol-botol yang akan dimasukkan lemari pendingin. Sample-sample itu berikutnya akan dikirim ke laboratorium independen di Bogor untuk melihat hasil samplenya. Kenapa harus laboratorium independen, karena untuk menjaga objektivitas hasil sample dan selain dipantau melalui laboraturium independen tadi, hasil sample  juga dikirim dan dipantau oleh pemerintah.

Dari hasil mengikuti operasi laut ini saya melihat betapa seriusnya pihak Newmont dalam mengelola isu lingkungan. Walaupun banyak selentingan dan kabar yang tidak jelas, tapi Newmont tetap maju terus dengan langkah-langkah untuk mengelola lingkungannya. Kalau menurut saya, daripada berdebat panjang lebar dan hanya memelototi data dari dunia maya, akan lebih baik jika diimbangi dengan mengikuti langkah-langkah nyata yang dilakukan perusahaan tambang. Hal ini akan memberikan sudut pandang baru yang lebih objektif tentang operasi sebuah perusahaan tambang.

Tabik dari Sumbawa Barat.

DSC_0016

DSC_0054

2 thoughts on “Bootcamp Batu Hijau 4 : Operasi Laut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s