Wawancara : Barlian, antara Kegalauan, Perempuan dan Orangutan.

422490_3081974440806_2005262737_n

Untuk menemani jumat yang katanya ceria, maka saya postingkan sesuatu yang renyah dan bisa dikunyah tanpa berpikir panjang dan membuat kening mengkerut. Kali ini wawancara dengan salah seorang sahabat saya yang sekarang merantau   di hutan Kalimantan, namanya sih keren Barlian, tapi entah kenapa panggilannya jadi Pupung. Karena menurut saya kepanjangan, akhirnya saya malah memanggilnya “Pup”. Kurang ajar ya saya?

Pupung ini semasa SMA adalah tipe cowo idaman wanita. Tinggi, putih, kumis tipis menawan, jagoan basket sekolah, pintar, supel, periang, anak IPA, pokoknya tipe-tipe cowo baik di sinetron2 a la anak SMA. Tanpa tebar pesona pun Pupung sudah mempesona, itu sumpah benar. Kalo Pupung lewat, biasanya cewek-cewek di SMA langsung berteriak “Kyaaa-kyaaaa….” dengan pipi bersemu merah dan senyum merekah indah, bahkan kadang-kadang Pupung dicegat hanya demi minta tanda tangan atau foto bersama. Ya, di SMA Pupung bagaikan Le Bron James di NBA, idola wanita muda.

Kenapa saya memilih Pupung untuk diwawancara? tak lain adalah Pupung adalah seorang travel buddy saya yang pertama. Ceritanya saat kelas 2 SMA, saya, Pupung dan seorang teman lagi SB, tiba-tiba nekat ke Malang dengan uang seadanya. Tak hanya stop di Malang, saya bahkan ke Surabaya, berkeliling Surabaya dengan mobil sodaranya SB walaupun kami bertiga tidak ada yang punya SIM dan pulang kembali ke Malang dengan sepeda motor dari Surabaya. Gila pokoknya.

Nah, berikut ini beberapa intisari percakapannya, yang penting-penting saja ya? karena jika saya dan Pupung ngobrol isinya banyak yang tidak penting. Dalam wawancara ini, Pupung banyak berkisah tentang pekerjaannya sebagai Dokter Hewan di BOS Nyaru Menteng, menceritakan kecintaannya pada orang utan alih-alih pada perempuan. Silakan :

S / Saya : Pung, Mulai yo?

P / Pupung : Yo..

S : Pung, kenapa kamu traveling?

P :  Golek angin segar to (Cari angin segar-lah) karo passion (dan passion).

S : Kalo angin segar gausah traveling, pake kipas angin aja pung. 

P : Syit..

S : Pung jalan2 pertama kemana?

P : Sama kamu chan, ke Malang…

S : Ceritakan dong pung..

P : Ceritanya gimana ya? lupa e.. sama kaya critamu pokoknya chan..

Berhenti? belum. Wawancara terputus karena Pupung menerima telepon. Dari selingkuhannya mungkin. Eits, tapi kan Pupung memilih Orang Utan. Jadi selingkuhannya?
S : Lanjut pung.. jadi kamu kudu cerita soal perjalanan ke Malang dari sudut pandangmu..
P :  awale dari ajakan SB (nama orang bukan Sleeping Bag) dan kebetulan kog pas pas liburan, dapat ijin, ada teman dan akhirnya berangkat. 

untuk pertama kali main sendiri tanpa pengawasan orang tua atau pun orang yg lebih tua, ada rasa cemas, tapi karena SB sudah sering ke Malang jadi kayaknya bakal safe di Malang.

pas di Malang , kog menarik, tak terbiasa liat jalan besar-besar, e rupanya jalanan di sana besar-besar. 

dan adem

hahaha 

pas itu sebenarnya aku ga ngerti apa-apa chan, cuma tertarik buat main aja dan ada guide. Jadi di pikirangku hanya pengin main-main dan tahu Malang itu seperti apa.

S : Nah kan itu traveling pertama, selanjutnya jadi ketagihan ?

P : Bisa dikatakan ketagihan sih hooh, tapi menilik dompet njuk kagol. (kagol = kasih tak sampai)

semasa kuliah sih aku traveling lebih sebagai delegasi UKM satwa liar.

S : Coba jelaskan itu Pung..

P :  ceritanya itu kami punya forum study satwa liar seluruh Indonesia dan yang paling akrab waktu itu hanya UGM dan Unair. Biasanya kami saling mengundang kalo ada acara internal kami kebetulan pas itu ada undangan dari UNAIR, ditawarkan sama senior, maka berangkatlah aku. Sampe Surabaya setelah hampir 8 jam perjalananan, sampe jg di kampus FKH Unair.

Istirahat sebentar, malemnya berangkat kami ke  Taman Nasional Alas Purwo. Disana kami diperkenalkan tentang penyelamatan tukik (anak penyu) sama kegiatan yang selalu kami kerjakan yaitu birdwatching di alam bebas 

Disana yang menarik adalah di jalan lumpur yang bisa dilewati bis, aku ngeliat penampakan merak jantan yang sedang mengembangkan bulunya. Kegiatan selesai dan kami pulang chan.  

S : Wah berarti passionmu di hewan?

P : Konservasi chan, konservasi satwa terancam punah.

S : Jadi itu alasanmu ke Kalimantan?

P : Ho’o, karena setelah lulus dari kampus, teman-teman pria jarang yang tertarik. 

(Saya kira itu benar, teman-teman pria Pupung pastinya lebih tertarik pada perempuan daripada orang utan, itu ciri-ciri pria normal, berarti Pupung?)

dan karena melihat track – recordku di UKM Satwa Liar juga. 

Pengin tak ceritani perjalananku yang agak menakjubkan ng kene ra chan

S : Boleh, gimana itu ceritanya?

P : Ini tugas sih,tapi kuanggap traveling. 

Jadi aku disini pernah sebulan di hutan yang mungkin jaraknya sekitar 300 kilometer mungkin dari tempatku tinggal. Listrik minim, hanya genset dan tanpa sinyal.

Perjalanan awale sih mulus karena dari kota, tapi setelah sekitar 5 jam perjalananku sudah mulai berlumpur dan sempat terjebak lumpur kurang lebih 1,5 jam dan posisi itu di tengah-tengah hutan. Itu jam 4 sore sih, tapi lalu mikir kalo hampir gelap gini lak yo edan, mana desa terdekat masih 3 jam perjalanan. Tapi untungnya kami berhasil melewati itu. 

Sampelah kami di aliran Sungai Barito, perjalanan darat kami ganti perjalanan air, selama 4 jam tapi dengan perahu motor besar. Abis itu perjalanan kami ganti lagi. Naik darat lg, pake hartop (Toyota Hardtop) , jalan e naik turun nggilani, naik – turun bukit.

Setelah 2 jam baru sampai desa yang rupanya bekas perusahaan kayu. Disitu nginep semalem lagi.  Perjalananku berlanjut lagi pake perahu motor kecil yang sangat ga nyaman banget dan suarane ki nyetar (memekakkan telinga) banget. Perjalanan ini harus melewati arus deras karena daerah hulu, riamnya banyak. Selama 8 jam dari awal sampe ke camp.

Tapi disana luar biasa selama perjalanan, ketemu flora dan fauna yang jarang banget ditemui. Yang menarik pas pulang chan, ternyata ada air terjun di perjalanan darat yg 2 jam tadi yang keliatan dari jauh, cantik.

602451_3737766235191_1459334084_n

552489_3738002001085_1425428239_n

S : Woh..ceritanya sangar Pung! By the way kamu kan ganteng dan idaman perempuan, tapi kenapa justru milih Orang utan?

P : Hahaha… ini pertanyaanmu menjerumuskan.. ora ono pertanyaan lain?

S : Sampai saat ini belum ada Pung..hahaha..

P : Kalo itu gara-gara lowongan di satwa liar. Ada sih yg NGO lain, tapi pertimbangan gaji , walo ga beda jauh tapi yang ini lebih banyak gajinya. hahahaha. 

Awalnya aku ga kenal orangutan ko chan, aku malah tertarik ke harimau.

(Jadi dulu Pupung jatuh cinta pada harimau, tapi rupanya Orang Utan menelikung cintanya)

Tapi karena informasi soal harimau hanya sedikit dan channel juga ga ada, dan kebetulan ada channel disini, akhirnya aku milih disini.

S : Terus ga tertarik ke cewek?

P : Masa  kudu tak jawab kalo aku ini masih normal chan.  hahahaha. gimana? mau nyariin aku cewek po chan?

S : Hush..malah curhat! ini wawancara woy! Terus sampai kapan di konservasi orang utan?

P : Rencanaku 2 tahun lagi.

S : Setelah itu?

P : Mau nemenin orang tuaku di Magelang. Gatau mau kerja apa, tapi sudah ada planning mau wirausaha chan. 

Aku gamau jauh dengan orang tua sementara umur mereka tahun ini 60. 

Masku di Jakarta, Mbakku di Cilegon dan aku ga ngelewatin sedetikpun waktuku dengan mereka.😦

S : Kamu anak yang berbakti Pung. Aku terharu.

P : Yang bisa bikin aku nangis kalo punya masalah justru malah orang tuaku chan, aku selalu nangis ketika ingat wajah orang tuaku.
S : Terus, selama di konservasi apa yang kamu dapat? apakah itu membentuk kepribadianmu?
P : Kepribadian masih sama chan, yg pasti ilmunya dapet, pengetahuan tentang orangutan bertambah, tentang kenapa hutan semakin lama semakin berkurang juga aku semakin paham. Selebihnya ya prosedural kantor biasa.
S : Pung kamu sampai kapan sendiri? di Kalimantan lho, jauh dari keluarga, jauh dari teman..
P :  Ga ngerti chan, itu yang jadi beban pikiranku beberapa minggu ini. Untuk sendiri sebenernya ga, kalo kata dosenku aku sih orangnya gampang beradaptasi, gampang berteman. Walau kadang aku merasa pengen ngopi-ngopi lagi seperti dulu, ngobrol sama Shirom, ngobrol sama kamu seperti jaman SMA dulu. 

Pengen banget. Masih beruntunglah jaman sekarang teknologi komunikasi, walau ga memuaskan sih, setidaknya melegakan. 

S : Terus untuk mengisi kesepian di Kalimantan gimana caranya? kan isinya hanya hutan dan orang utan.

P : Untungnya ga chan, akses udah enak ko. Ke kotapun cuma 28 kilometer jauhnya.

S : Pung, terus di Kalimantan ada rencana traveling kemana?

P : Rencana mau ke Tanjung Puting.

S : Oia, terus di Nyaru Menteng banyak wisatawan atau traveler yang berkunjung ndak?

P : cuma berkunjung?

hmm.. jarang… 

kebanyakan mah keluarga, siswa dan siswi. jarang banget chan, karena disini lebih ke pusat informasi aj, dilarang masuk ke area karantina.

S : Berhubung sudah malam, ini pertanyaan terakhir.. menurutmu makna traveling itu apa?

P : Traveling itu ya pergi ke suatu daerah yang dipingini dengan kemampuan dan kemauan masing-masing individu dan menikmati “sajian” tempat tujuan yang disambangi, apapun bentuk “sajian” itu. 

Selain itu juga menikmati proses bertraveling yang penting. Kalo aku sih terkadang lebih menikmati perjalanan travelingnya daripada tujuannya.

S : Yowes pung aku pamit sek. Sakses di Kalimantan.

P : Podo2 chan. Sukses buat karir dan travelingmu, suatu saat kalo kamu traveling, aku melu.

Yak, kiranya demikian wawancara dengan Pupung. Cukup panjang dan semoga tidak membosankan saat dibaca. Jika ingin berkenalan lebih dengan Pupung bisa menghubunginya di twitter @maspup.

Sehari-hari Pupung bertugas sebagai dokter hewan di BOS Nyaru Menteng, bertugas menjadi seorang petugas konservasi Orang Utan yang sudah menjadi idamannya. Sebuah profesi yang sungguh mulia. Selain itu Pupung juga piawai memotret Orang Utan, beberapa hasil fotonya sangat bagus dan menyentuh.

Oia, jika kamu perempuan single suka pria berdada bidang, berkumis tipis, penyayang binatang dan jagoan binatang, Pupung adalah pria yang tepat untukmu. Sejauh ini dia masih Jomblo. X)

Tabik.

154848_4812847031539_776822778_n
534933_4828310898126_1295970869_n
561852_4119268532510_2122403687_n (1)

16 thoughts on “Wawancara : Barlian, antara Kegalauan, Perempuan dan Orangutan.

  1. Chan.. Pas percakapan di atas menurutku kok agak ganggu ya kamu bikin terjemahannya per 1 kalimat. Kayaknya lebih enak dibaca kalau langsung per paragraf jawabannya Pung nerjemahinnya

    • woh..oke mas..kemarin2 banyak yang bingung karena banyak bahasa jawanya..
      agak bingung kalo menerjemahkan per kalimat karena campur2 bahasanya mas..

  2. hahahahaha aku kudu ngekek campur bangga..ngekeke soal nawakke maspup..haha keknya aq 3 taon sekelas pas SMA biasa wae mas.. *salam damai, pup* :p
    soal alas purwo aq bisa ikut bayangin, sering dikasi liat poto dan cerita dari mas yg lain sih.. *dooh*
    tp sangar, Pung.. Aq jg selalu ingat nada semangatmu waktu cerita ke kita soal OU.. Se-ma-ngaat! Sukses versi kamu, Pung. Kuyakinbisa.😀

  3. Bingung bacanya. Mending dibikin satu paragraf kalo gagasannya masih sama. Juga dipisahkan keterangan yang dibuat pewawancara (yang didalam kurung) pakai cetak tebal. Kalo gini sih pembaca binung, mana quote narasumber mana quite si pewawancara.

    Just my two cents…

  4. gek ae moco artikel iki…
    BOS Nyaru Menteng adalah luar biasa masbro.. boleh lho suatu saat menuliskan artikel tentang NGO luar negeri yang malah lebih peduli dibandingkan orang-orang dalam negerinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s