Membaca Magelang : Sebuah Resensi.

original

Adalah Anyelir, yang tahun lalu memberi tahu saya bahwa ada proyek kompilasi penulisan buku, Membaca Magelang. Saya pun mengiyakan, lewat Anyelir juga akhirnya saya tahu kemana saya harus mengirim naskah yang sudah saya tulis. Dan akhirnya lebih dari setahun kemudian, Anyelir juga yang jauh-jauh datang ke rumah untuk mengantarkan buku Membaca Magelang tersebut ke tangan saya.

Saya pun hanya tersenyum kala membuka lembar demi lembar buku Membaca Magelang, bagi saya ini adalah karya tulisan pertama saya yang dibukukan. Rasanya mungkin seperti melihat kelahiran seorang anak, hati berbuncah saking riangnya. Ya, walaupun tulisan tersebut hanya ala kadarnya, ditulis cepat-cepat dan mungkin seharusnya tidak layak kurasi.

Membaca Magelang adalah buku kompilasi tentang kota kedua yang saya baca, buku pertama adalah Makassar Nol Kilometer. Ada perbedaan mendasar dari kemasan dua buku tersebut, jika Makassar Nol Kilometer lebih menitikberatkan pada fenomena sosial, kritik dan situasi terkini Makassar, at Membaca Magelang lebih menitikberatkan pada suasana nostalgia Magelang di masa lalu. Tapi esensi kedua karya tentang kota tersebut sama, membicarakan kota tempat tumbuh dan berkembang para penulisnya.

Ada banyak tulisan tentang tentang Magelang dari banyak penulis yang datang dari berbagai latar. Saya terkesima saat membaca kisah Magelang di era 70-80 an yang ditulis oleh ibu penjual soto, dan rupanya setelah saya simak sampai habis tulisan beliau, rupanya soto tersebut adalah soto langganan saya dan keluarga. Ada juga kisah soal culture shock seorang perantau dari Jambi yang kikuk dengan Magelang, sampai akhirnya setelah bertahun-taun, kekikukan-kekikukan itu kemudian berubah menjadi rasa betah.

Mayoritas tulisan di Membaca Magelang adalah kilasan waktu masa lalu, bisa dijadikan gambaran seperti apa Magelang beberapa tahun silam. Saya tertarik dengan kisah jalan kaki menyusuri Magelang selepas shubuh, kisahnya begitu runtut dengan menceritaka yang apa yang ditemui di Magelang sepanjang pagi buta. Sebuah angle yang unik dari sebuah perjalanan yang sederhana yang justru menghasilkan sebuah cerita yang kuat tentang Magelang.

Kiranya tulisan – tulisan di Membaca Magelang ini cukup untuk menggambarkan Magelang itu seperti apa. Hanya saja, tulisan-tulisan di buku ini masih sangat mentah dan apa adanya. Terkadang di beberapa fragmen cerita, saya terkaget-kaget dengan alur yang melompat-lompat, dengan cerita yang kadang yang justru tidak menceritakan Magelang dan terjebak dengan menceritakan dirinya sendiri. Tapi mungkin itu adalah kekayaan dari buku ini, dengan banyak bentuk fragmen cerita yang kemudian dikumpulkan jadi satu.

Saya kira buku ini adalah salah satu kemajuan yang luar biasa dari dunia literasi Magelang. Selain itu buku ini juga bisa menjadi catatan tentang perkembangan kota dari orang-orang yang bermukim di dalamnya. Dan saya berharap, semoga akan ada buku Membaca Magelang jilid kedua.

Tabik.

nb : buku ini dicetak secara Do It Yourself dan diinisiasi oleh Magelang Book Corner, untuk support dan tertarik dengan buku ini, silakan kontak @lusiadayu dan @ginteguh .

8 thoughts on “Membaca Magelang : Sebuah Resensi.

  1. Wihiyyy😀
    Asik tau jadi bertambah pengetahuannya tentang Magelang, dari segala macam sisi penulis yg beraneka ragam😀

  2. salam kenal mas.. saya sendiri orang magelang, tapi buku-buku yang saya tulis justru tidak ada yang berkaitan ttg magelang, nulis artikel juga..

    jadi kepingin nih suatu saat kalau ada proyek nulis buku lagi, pengin ikut nyumbang tulisan walau dikit-dikit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s