Tergugu Di Kaminarimon

IMG_0743

Ada sedikit alasan sentimentil ketika saya melakukan trip ke Jepang. Ya, Jepang adalah impian masa kecil saya. Masa kecil yang diisi dengan menonton Dragon Ball setiap sabtu malam atau Doraemon setiap minggu pagi. Kemudian masa kecil berupa komik-komik yang dibelikan oleh bapak setiap akhir pekan. Di pikiran masa kecil saya, Jepang adalah segala macam hal yang ajaib, menakjubkan dan luar biasa.

Makanya, saya selalu berpikir ke Jepang bukan sekedar jalan-jalan bagi saya, tapi adalah semacam perwujudan khayalan di masa kecil yang lalu menjadi bahagia. Itulah mengapa saya sangat bahagia, gembira luar biasa begitu menginjakkan kaki di Jepang. Mungkin seperti saya kembali menjadi anak kecil lagi. Tak terkira waktu itu perasaan saya, antara takjub, senang, gemas, haru campur aduk menjadi satu, mengharu biru. Cukup cengeng ya saya? Masa perjalanan saja bisa menjadi haru biru. Eh, tapi itu benar-benar apa yang saya rasakan.

Lalu dulu sekali, di masa kecil saya pernah membaca artikel tentang sebuah tempat bernama Asakusa di Majalah Bobo. Untuk anak seumuran saya waktu itu, Bobo mungkin adalah bacaan paling menyenangkan. Tidak sah rasanya tiap minggu tidak membeli majalah Bobo. Di artikel soal Asakusa itu ada yang membuat saya terbuai, sampai-sampai saya mengingatnya dalam-dalam dan sampai masuk ke alam bawah sadar dan terus terngiang-ngiang sampai besar.

Kaminarimon. Itulah nama tempat yang sampai dewasa membuat saya terngiang-ngiang. Di Majalah Bobo dulu Kaminarimon diterangkan sebagai gerbang petir dengan lampion yang luar biasa. Gerbang ini menjadi tempat dewa petir bersemayam untuk menjaga Kuil Sensoji.

Dalam bayangan imajinasi masa kecil saya Si Dewa Petir itu setiap hari berantem dengan setan-setan yang pengin masuk merusuh di Asakusa. Tampang Dewa Petir yang seram tidak membuat setan-setan gentar, maka akhirnya saling serang dan akhirnya Dewa Petir mengeluarkan petir yang luar biasa besar yang menghanguskan setan-setan yang berkeliaran di Asakusa. Seru.

Namanya juga imajinasi masa kecil, bebas, lepas tanpa batas. Kaminarimon yang sudah masuk alam bawah sadar itupun langsung saya masukkan ke dalam list destinasi saat ke Tokyo. Saya sudah tak sabar melihat bagaimana sih kondisi sebenarnya Kaminarimon yang dulu saya khayal-khayalkan.

Turun dari kereta di Asakusa Station sudah tak sabar rasanya, saya sudah setengah berlari keluar dari stasiun. Bahkan hampir menabrak rickshaw yang memang banyak berlalu-lalang di Asakusa karena saya sudah tak melihat kanan-kiri, saking sudah tak sabarnya sampai Kaminarimon.

Begitu sampai di depan Kaminarimon saya terpaku, diam, bingung, perasaan saya acakadut, entah antara senang, bungah, gelisah, bahagia, lega. Pokoknya ini mimpi yang menjadi kenyataan. Mimpi dari sepotong artikel di Majalah Bobo yang saya baca di saat saya kecil dulu.

Tanpa sadar saya terduduk, suasana mengharu biru lalu saya sujud syukur, ritual yang saya lakukan setiap saya sampai di tempat baru. Sujud tanda terima kasih pada Tuhan yang sudah memberi keselamatan sehingga saya sampai di tempat baru dan sujud tanda syukur saya sudah berhasil mewujudkan sepotong impian masa kecil saya.

Bangkit dari sujud saya mengusap pipi. Ada air hangat yang mengalir dari mata ke pipi tanpa sadar. Saya tergugu, tak mampu berucap apa-apa atau entah bingung mau bilang apa. Perasaan saya bahagia yang meluap-luap, sekaligus semacam aliran yang menyeruak menghangat dada ini.

Saya tergugu di Kaminarimon. Apa yang sudah saya impikan 15 tahun yang lalu, sudah menjadi kenyataan.

Tabik.

5 thoughts on “Tergugu Di Kaminarimon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s