Wawancara : Nizar, Traveling Adalah Perekat Rumah Tangga

545451_10150986948214470_602197754_n

Seperti biasa, jumat ceria adalah harinya wawancara. Kali ini adalah wawancara dengan Nizar Fadhillah Wogan, Nizar Fadhillah adalah nama aslinya sementara Wogan adalah nama keluarganya setelah ia menikah dengan seorang jejaka muslim asli Amerika Serikat. Asli Tanjung Priok sekarang Nizar terdampar selama 3 tahun di Iwakuni, Jepang setelah sebelumnya tinggal di Amerika Serikat. Karena asli Priok, biasanya Nizar dipanggil Mpok oleh kawan-kawannya dan berikut bincang-bincang ringan dengan Mpok Nizar untuk menemani akhir pekan yang semoga akan menyenangkan.

Saya / S : Mpok kamu aku wawancara buat blog mau ga?

Nizar / N : Eeeh.. Wawancara apaaaaan?? Malu ya.. Ngga ada yg bisa di sharing. Hahaha.. Photographer pro ya bukan, traveler lawas ya bukan, hafidz qur’an boro-boro…haha…Tapi, sok laaaaahh..

S : Okay Mpok, sejak kapan suka traveling?

N : Jadi gini, ayah saya pelaut. Dulu sebelum ada telepon, sms, email, social media dan sejenisnya, ayah selalu berkomunikasi lewat surat. Tiap surat yang dikirim ayah saya, selalu berisi cerita beliau di tempat yang beliau singgahi, mulai dari Vancouver, Johannesburg, Amsterdam, Hawaii, dan masih banyak lagi.

Lalu, karena tiap surat yang beliau kirim itu dengan prangko yg beda-beda, jadilah saya si pengkoleksi perangko. Dari perangko itu, kemudian saya suka buka atlas dunia, seringnya sih saya menghabiskan waktu dengan hanya melihat peta, lalu sering mengambil penggaris, dan menghitung jarak tiap negara dr Jakarta dengan penggaris. Jadi mungkin kalo bisa dibilang, saya suka traveling dari kecil dan dimulai dari peta .

S : Jadi traveling itu sudah semacam gen yang diwariskan turun-temurun? 

N : Ayah saya orang seberang, Sulawesi Selatan. Makanya mungkin beliau pun sangat menikmati menjadi pelaut. Dan ya jadinya mungkin juga saya dapat gen ‘suka traveling’ dr beliau.

537239_10151524874344470_243927290_n

S : Nah sekarang kan tinggal sama suami di Jepang. Ceritakan dong kisahnya, dari awal sampai bisa nyasari di Jepang?

N : Saya ketemu pertama kali sama Brian, suami saya sekarang lewat Myspace. Kayanya ya kami bisa ketemu di Myspace krn kami punya minat yang sama, sama-sama suka musik, tapi sama-sama ngga bisa main alat musik. Saya mah maen kolintang aja bleweran. Long story short dari kenalan sampe nikah semuanya singkat. Total hanya 4 bulan .

S : Sempat ragu-ragu ga? Mengingat persiapan yang cepat dan menikah dengan orang yang latar belakang budayanya sangat-sangat berbeda.

N : Jadi ceritanya gini, waktu itu saya dalam tahap dimana siapapun yang datang buat nikahin saya, akan saya terima. Tau-tau yang dateng Brian, karena keliatannya orangnya baik dan orang tua saya pun setuju, yasudah. Soal ragu-ragu, ngga sempet kepikiran sih waktu itu, soalnya persiapan nikah dari awal ketemu sampe ijab cuma 20 hari.

S : Nikah sama orang yang berbeda bangsa pasti ada culture gap kan Mpok? Lalu apa suka-dukanya atau kejadian yang lucu?

N : Culture gap, indeed. Ini lebih ke culture gap secara global, maksudnya lingkungan. Karen kalo untuk personal saya dan suami, culture gap ngga begitu kentara, banyak yang tereliminasi dengan sendirinya.

Humh, kalo sukanya, akhirnya saya naik pesawat dgn jarak tempuh yg jauh!  Saya punya kesempatan sekolah lagi dan karena sekolah, lalu saya merasa bahasa inggris saya ada kemajuan. Sukanya pun, saya jadi lebih disiplin. Lalu, ini lebih ke iman saya, saya merasa kalo saya bisa ‘berjihad’ dalam arti sesungguhnya semenjak saya tinggal di Amerika Serikat.

Dukanya.. Pertama jauh dari keluarga, jauh dari temen2. Walaupun saya punya banyak temen di Amerika, susah rasanya menggantikan temen-temen saya di Indonesia. Dukanya lagi karena saya pake kerudung, jamak bagi saya dapat tatapan dari ujung kaki sampe ujung rambut dari orang-orang sekitar.

Dan dukanya lagi, duh ini lebih ke lidah. Tau sendiri lah, Chan.. Saya dan kamu kan salah satu die hard fans nya Nasi Kapau daerah Senen, mana ada di Amerika itu si Nasi Kapau, apa-apa harus bikin sendiri. Dukanya lagi kalo musim dingin, ugh.. Tinggal 27 taun di Jkt yg panas dan humid, lalu pindah ke Pacific Northwest yang punya 4 musim, bikin saya cendrung lemes tiap winter.

Lucu nya, karena inggris bukan bahasa ibu saya, seringnya teman-teman native inggris saya suka ketawa kalo saya ngomong bhs inggris dgn vocabulary karangan sayadan mereka sering bilang, mereka ketawa bukan karena ‘ngetawain’ saya, tapi karena they think it’s cute. Blah!

S : Soal jihad nih Mpok, Amerika Serikat kan agak trauma pasca 9/11. Jadi sebagai bagaimana beratnya jihad sebagai seorang muslim disana?

N : Di Jakarta atau di Indonesia, mana pernah orang ‘ngeh sama perempuan berkerudung, karena itu pemandangan sehari-hari. Di Amerika, terutama di kota saya yang notabene ‘kota militer’, dimana salah satu US Navy Base berada, perempuan berkerudung seperti saya amat susah ditemui. Tapi Alhamdulillah 3 taun belakangan ini semakin banyak Muslim di kota yang dulu saya tinggali. Setiap ke kampus atau sekedar main ke Seattle, saya sering nya naik bis, pandangan-pandangan ‘heran’ melihat saya sering saya rasakan. 

Saya pernah dua kali dapat pengalaman yang bikin saya ‘down’ hanya karena saya imigran Muslim. Dulu, hal-hal semacam ini sedikit banyak merubah pribadi saya yang tadi nya sangat blak-blakan, terbuka  dan tidak takut, menjadi takut melakukan apa-apa. Tapi sekarang, kepercayaan diri saya berangsur terkumpul kembali, yang tadinya saya selalu tidak suka menjadi minoritas atau sebagai imigran di Amerika, kami dibilang Alien, malah menjadi suka menjadi minoritas karena saya menjadi mudah dikenali, dan diingat.

Waktu di Amerika, saya sempat menjadi Teaching Assistant utk kelas fotografi, biasanya para murid saya akan sangat gampang mengenali saya karena saya satu-satunya asdos yang berkerudung. Dan sekarang di Jepang saya tinggal di US Marines Base, dan sedang menjalankan bisnis fotografi, entah klien terdahulu atau calon klien akan langsung mengenali saya sebagai si fotografer karena jilbab saya. Jadi, menurut saya, menjadi minoritas malah bagus untuk bisnis saya.

S : Setelah tinggal di Amerika, pasti ada pandangan baru nih tentang indonesia. Nah menurut Mpok Nizar, gimana Indonesia sekarang?

N : Menurut saya orang Indonesia itu pintar dalam arti yang sesungguhnya. Dalam bidang akademis, menurut saya pelajar-pelajar Asia lebih menonjol dan bekerja berkali-kali lipat lebih keras dari orang Amerika asli. Saya pikir ini mungkin produk dari sistem belajar kita. Dan menurut saya lagi, orang Indonesia itu orang yang sabar, tapi diluar konteks antri! dan jarang mengeluh. Mungkin karena kita punya konsep ‘ikhlas’ dan ‘tawakal’ atau apapun itu namanya  di agama lain.

Oh iya, dulunya saya egosentris. Dulu saya selalu berpikir bahwa Indonesia itu super indah luar biasa, tapi ternyata, Amerika itu pun jg indah. Makanya kalo ada yang bilang, “Indonesia aja belom kelar dijelajahi, koq malah jalan-jalan ke luar negeri”. Well, saya cuma bisa bilang bahwa traveling itu bukan hanya melihat tempat baru, tapi juga kebudayaan baru. Jadi, tidak ada salahnya melihat negara lain, liat kualitas manusianya, ambil dan terapkan yang baik-baik, dan buang yang buruk-buruk.

Buat saya, inilah output dr traveling yang terpenting : matinya ego, dan tumbuhnya toleransi berpikir.

S : Pindah-pindah tugas ikut suami ke negara berbeda apa yang menarik Mpok? budayanya?

N : Alhamdulillaah sekarang saya punya kesempatan untuk tinggal di Jepang, tepatnya di Iwakuni selama 3 tahun ke depan, negara yang selama ini selalu jadi negara impian saya.  Sampai saat ini, Jepang melebihi ekspektasi saya. Bisa dibilang, saya sangat suka disini! Saya suka budaya mereka, dan mereka secara pribadi.

Menurut saya, dalam berkelakuan dan berbudaya, orang-orang Jepang itu satu tingkat diatas Amerika dan Indonesia. Betul bahwa dimanapun pasti ada manusia-manusia brengsek, tapi so far, saya belum punya pengalaman yang tidak mengenakkan disini. Oh, dan saya suka cara mereka berbicara, sangat ekspresif, dan mengingatkan saya akan anime-anime Jepang yang kerap saya tonton.

66529_10151229693569470_895022885_n

S : Soal fotografi, kan tongkrongan Mpok Nizar sudah fotografer dan apakah itu sejalan dengan traveling? saling melengkapi?

N : Kalo soal fotografi, selain suka moto, saya juga suka mendokumentasikan tempat yang saya datangi. Jadi buat saya fotografi itu berbanding lurus dgn hobi traveling. Apalagi di era social media dimana-mana seperti sekarang, sepertinya kamera itu salah satu tool fardhu ain buat para traveler.

Eh, tapi soal kamera dan traveling. Ini bikin saya inget salah satu temen saya yang dari Australia. Saya kebetulan tahun kemarin ketemu dia di kereta dari Thailand ke Malaysia  dan kami traveling bersama kira-kira hari. Dia orang pertama yang bilang ke saya kalo dia tidak butuh kamera saat traveling. Kata dia lagi, pengalaman traveling sendiri itu jauh lebih penting dari file-file foto. Jadi menurut saya, tiap orang punya pandangan berbeda soal kamera dan traveling.

S : Jadi karena berbanding lurus kamera mahal sebanding dengan traveling mahal?

N : Hahahaha.. Ngga juga Chan.. Kalo punya kamera mahal sama traveling mahal itu berarti rejekinya bagus..Alhamdulillaaah. 

S : Tahun 2011 Mpok Nizar traveling around Sulawesi dalam proyek Lihat Indonesia. Nah, apa yang didapat dari perjalanan itu?

N : Ya, saya kebetulan di kasih kesempatan oleh Bali Backpacker untuk ikut dalam proyek Lihat Indonesia mereka. Kami tadinya berencana untuk traveling di tiap propinsi di Sulawesi selama 1 bulan, tapi karena waktu dan sebagainya, saya pribadi hanya bisa tuntas ke Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan.

Banyak sekali yang saya dapat dari perjalanan itu. Pertama, teamwork dan ego. Saya pribadi bilang kalo kami cukup kompak, memang ada sedikit perbedaan pendapat di perjalanan kami, tapi saya pikir itu wajar. Dari perbedaan pendapat di perjalanan kami, ego tiap individu memang harus di kompromikan, jangan mau menang melulu dan merasa pendapat kita paling benar. Karena kita traveling dalam group, semakin banyak orang di dalam group itu, semakin banyak otak yang berbicara. Beda klo kita traveling sendiri yang bisa sesuka hati untuk ini itu.

Kedua, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya ‘manjat’ air terjun. Ini bukan dalam arti saya ‘manjat’ di track yang ada, tapi manjat dalam arti sebenarnya, manjat di air terjun dari bawah hingga ke atas. Tracking ke air terjun Samparona di Bau-Bau itu sangat menantang, karena tracking dan daerahnya masih terbilang natural. Terlalu banyak untuk digambarkan disini gimana indah dan ‘seru’ nya pengalaman itu. Kalo bisa di bilang, itu salah satu momen dalam hidup saya ketika hidup dan mati hanya di pisahkan oleh ‘keberuntungan’.

Ketiga, yang saya dapat dari perjalanan Lihat Indonesia. Benar dibilang bahwa Indonesia itu indah. Kita punya potensi yang luar biasa. Tapi sayang sekali, semuanya tidak tereksplorasi secara benar. Infrastruktur, akomodasi, dan transportasi masih susah di bilang layak. Ini mungkin kenapa Bali menjadi tujuan utama pariwisata, karena turis asing lebih nyaman untuk kesana kemari di Bali di banding daerah lain di Indonesia. Belum lagi mental warga sekitar dan pejabat yang berwenang. Ah.. Sangat gampang membedah apa-apa yang menjadi kendala di pariwisata kita, tapi sayangnya sangat susah membenahi hasil pembedahan itu.. 

S : Mungkin itulah yang jadi tipikal orang Indonesia Mpok? Suka berencana tapi malas bertindak?

N : Sayangnya saya harus mengiyakan.

539370_10151130569454470_1559892773_n

S : Kan rajin traveling nih Mpok sama suami. Gimana sih sebenarnya gaya traveling kalian? Dan ketertarikannya ke bidang apa?

N : Kita berdua punya gaya traveling yg beda! Brian itu anak alam. Maksudnya gini, dia lebih seneng naik gunung, kayaking, dan sejenisnya. Saya, lebih suka ke budaya, saya suka sekali diskusi dengan orang, walaupun bahasa sering jadi kendala. Mungkin juga itu apologi dari saya karena saya ‘out of shape’ untuk naik gunung dan sejenisnya.

Kalo gaya traveling, saya pribadi setuju dengan apa yang Wahyudi Panggabean bilang, “kadang di traveling kita ngga bisa dapat makan enak dan tidur enak. Jadi kalo kita ngga bisa makan enak, tidur harus enak, dan sebaliknya.”. Saya mengamini kata-kata Wahyudi, karena saya pribadi maunya bersuka ria dalam traveling.

Sebenarnya, sayapun tertarik sekali untuk diving. Tapi dalam penafsiran iman yang saya pahami, sepertinya outfit diving terlalu ‘jauh’ utk saya. Well, kita liat nanti. Mungkin saya akan menemukan madzhab yang ‘melonggarkan’ saya untuk diving.

S : Kadang kan Pok Nizar suka traveling sendiri dan lama, ada keberatan dari Suami?

N : Saya tiap ke Indonesia itu minimal dua bulan. Traveling dengan Balibackpacker tahun 2011 itu bisa dibilang jamak karena itu traveling berkelompok. Tahun 2012, untuk pertama kalinya, saya traveling ke tiga negara asia tenggara sendirian. Malahan dalam perjalanan dr Thailand ke Malaysia, saya ketemu dengan salah satu traveler Australia yang kemudian traveling 5 hari dengan saya di Malaysia. Mind you, traveler Australia itu pria  Menurut saya, hebatnya suami saya, dia punya kepercayaan berlebih untuk saya dan itu privilege untuk saya, jadi saya harus bisa menjaga kepercayaan dia.

S : Jadi intinya kepercayaan?

N : Yes, kepercayaan sama debit card. hahahaha. Karena tanpa debit card, saya pasti ngga bisa traveling kesana sini. hihihihi..

S : Haha..jadi yang penting debit cardnya malah ini. Hahaha. Oia tadi kan Mpok bilang, gaya travelingnya berbeda. Karena gaya travelingnya berbeda, apakah itu jadi saling melengkapi? Atau saling mempengaruhi. 

N : Satu kata, yang pasti irit. Karena gini, kalo dia naik gunung dan sejenisnya, seringnya saya di rumah atau kalo saya mau traveling, saya pun sering nya sendiri. Secara ekonomi hanya satu orang yang pergi tiap perjalanan, jadi ya hanya pengeluaran untuk satu orang tiap perjalanan. Gini nih ibu rumah tangga, pasti ujung-ujungnya yang di pikirin budget. Hahaha.

S : Ada kata-kata ibu rumah tangga jadi kepikiran nih Mpok. Memposisikan traveling dalam rumah tangga sebagai apa?

N : Kalo kata Rumi, “Travel brings power and love back into your life.” Traveling, buat kami berdua itu memberikan suplai energi dan cinta dalam rumah tangga kami. Menikah itu indah, tapi sulit, dan kadang membosankan. Bagaimana tidak bosan ketika kita harus ketemu dengan orang yang sama tiap hari. Traveling, menurut saya, membuat rumah tangga kami selalu menarik, dan mudah-mudahan jauh dari kata bosan.

S : Nah, terakhir nih. Ada pesan untuk pasangan yang ingin meniru Mpok Nizar dan Brian untuk tetap aktif traveling sambil berumah tangga?

N : Yang pasti, traveling itu bisa kemana dan di mana saja. Jangan terbatas sama ruang, jangan dipikir kalo traveling itu harus naik bis atau kereta berjam-jam, atau mesti naik pesawat. Jangan dipikir traveling itu harus naik gunung, snorkling, diving ketemu Manta, harus punya passport, atau nunggu promo airlines. 

Traveling, atau travel, kan arti sebenarnya adalah “make a journey”, “go”. Gini deh, yang paling gampang saya ambil ‘piknik’ ke kampus UI. Yang menurut saya bisa di bilang traveling, asal balik ke pemahaman semula, yaitu “make a journey”. Kalo misalnya piknik ke kampus UI, jangan mainstreamlah, jangan cuma gelar tiker, makan ini itu, haha hihi.. Create and make your own journey, your very own moment! Think out of box.

Jadi, buat pasangan yang mau traveling, sekedar ke Ragunan pun bisa dibilang traveling, asal jangan ‘cuma’ ke Ragunan. Ke Bandung misalnya, jangan cuma ke Tangkuban Perahu atau ke outlet-outlet, coba eksplor daerah pinggiran. Pasti lebih menarik, dan mungkin malah lebih murah. Traveling is easy and cheap!

S : Wah, okay Mpok Nizar. Sudah banyak insight dalam wawancara ini, terima kasih untuk waktunya dan selamat menikmati Jepang.

N : Ahahaha..Sama-sama.. Akhirnya.. Kelar juga wawancaranya! hahaha.

Demikian wawancara dengan Nizar langsung dari Iwakuni, untuk berkenalan dengan Nizar bisa keep in touch di Pages FB Fotografinya di Nizar Wogan Photography atau di twitter @nizarwogan yang sepertinya twitternya terakhir aktif bulan Mei..hihi.

Berikut beberapa galeri dari seorang Nizar Wogan.

484004_10151518717309470_182845170_n

521453_10151288917839470_1058741080_n

222854_10150165559514470_6780093_n

1001152_10151636795294470_650804464_n

12 thoughts on “Wawancara : Nizar, Traveling Adalah Perekat Rumah Tangga

  1. “Traveling, atau travel, kan arti sebenarnya adalah “make a journey”, “go”. Gini deh, yang paling gampang saya ambil ‘piknik’ ke kampus UI. Yang menurut saya bisa di bilang traveling, asal balik ke pemahaman semula, yaitu “make a journey”. Kalo misalnya piknik ke kampus UI, jangan mainstreamlah, jangan cuma gelar tiker, makan ini itu, haha hihi.. Create and make your own journey, your very own moment! Think out of box.”

    suka sama kalimat ini🙂

  2. ” Menikah itu indah, tapi sulit dan kadang membosankan. Bagaimana tidak bosan ketika kita harus ketemu dengan orang yang sama tiap hari. Traveling, menurut saya, membuat rumah tangga kami selalu menarik dan mudah-mudahan jauh dari kata bosan ”

    Saya mengamini bagian ini ..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s